Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Terkuak! Fakta Ketidakadilan di PT Sai Apparel Grobogan: Lembur Tak Dibayar hingga Parkir Berbayar

Abdul Rokhim • Senin, 6 Februari 2023 | 20:21 WIB
KELUAR: Salah seorang karyawan keluar dari tempat parkir perusahaan PT Sai Apparel Grobogan baru-baru ini. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)
KELUAR: Salah seorang karyawan keluar dari tempat parkir perusahaan PT Sai Apparel Grobogan baru-baru ini. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)
GROBOGAN - Perlahan, karyawan di PT Sai Apparel Industries berani menyampaikan beragam keluhannya. Mereka membongkar bentuk-bentuk ketidakadilan pabrik tersebut. Selain soal lembur yang tidak dibayar, karyawan juga mengeluhkan adanya sistem simpan jam kerja hingga fasilitas parkir yang harus membayar.

Baca Juga : PT Sai Apparel Grobogan Terbukti Tak Bayar Uang Lembur Karyawan, Begini Kata Dinas

Seorang karyawati yang vokal yakni Erma. Dalam audiensi pada Jumat (3/2) lalu, ia lantang membongkar hal-hal yang dinilainya merugikan karyawan. Di antaranya terkait molornya jam kerja.

"Saya sudah menyampaikan ke manajemen terkait itu. Kemudian pagi usai dirapatkan masih ada yang pulang jam lima pagi. Yakni bagian finishing. Mereka di kantin belum pulang. Kucel, belum mandi," imbuhnya.

Menurutnya pihaknya tak mempersoalkan kepentingan perusahaan untuk mengejar efisiensi dan produktivitas kerja. Tetapi hal itu harus tetap pada aturan jam kerja sesuai undang-undang. Yakni delapan jam.

"Kesehatan karyawan itu penting. Karena banyak karyawan ngeluh gak kuat. Ada yang curhat mbak Erma, matiin lampunya biar kami bisa pulang cepat, bisa kumpul dengan keluarga," imbuhnya.

Erma menambahkan, kondisi tersebut terjadi lantaran perusahaan kerap menambah jam kerja. Semula karyawan menilai itu lembur. Tetapi ternyata tidak ada surat perintah lembur (SPL). Setelah diikuti, ternyata hanya dihitung satu jam.

"Alasan perusahaan punya sistem simpan jam. Dimana berapa jam yang disimpan boleh diambil kapan saja. Padahal kenyataannya ambil saja sulit. Tetapi kalau supervisor gampang. Libur, diabsen. Dibayar. Jadi ketikadilan memihak jabatan," tuturnya.

Akibat kondisi demikian, menurutnya, banyak karyawan yang mengeluh hingga keluar. Bahkan mengadu ke dirinya. Sementara untuk dirinya sendiri, kondisi itulah membuatnya kerap bertengkar dengan suami akibat jam molor tapi tak digaji.

Selain itu keluhan lain dari karyawan yakni fasilitas parkir. Menurutnya karyawan dikenakan biaya. Membayar uang awal Rp 15 ribu. Kemudian per bulan bayar Rp 10 ribu. Dengan alasan pengurusan parkir pakai pihak ketiga. Serta untuk asuransi.

Ketua serikat buruh PT Sai Apparel (Spring) Mala Ainun berharap perusahaan memperhatikan hak-hak pekerja. Dalam catatannya ada pekerja yang bekerja melebihi jam. Dan seharusnya masuk lembur. Tetapi tak dibayar.

"Ini sudah ada hasil sidak dari Disnakertrans Jateng. Dan terbukti ada lembur gak dibayar," jelasnya.

Pihaknya pun akan mengawal persoalan tersebut. Tetapi hingga kini belum ada kesepakatan antara pihaknya dengan manajemen perusahaan.

"Intinya kami menunggu Bipartit nanti gimana? Sejauh ini kami belum menyetujui apapun. Sementara untuk anggota serikat kami sosialisasikan intinya kalau ada jam molor ya itu masuk lembur dan harus dibayar," jelasnya. (tos/zen) Editor : Abdul Rokhim
#pt sai grobogan #pt sai apparel industries #grobogan #bayar uang lembur #pt sai apparel indsutries #parkir berbayar #tak bayar lembur #pt sai apparel #pabrik garmen grobogan