Baca Juga : Longsor di Tanjungharjo Grobogan, Satu Rumah Ambyar, Lainnya Digeser
Dari 697 jembatan yang rusak itu terklasifikasi ke beberapa ketegori. Yakni, rusak ringan, rusak, rusak berat, kritis, hingga runtuh. Rinciannya, rusak ringan ada 615, rusak 66, rusak berat 13, kritis 2, dan runtuh 1.
Sekretaris Dinas PUPR Grobogan Wahyu Tri Darmawanto menyebut, ada beberapa faktor penyebab kerusakan jembatan di Grobogan. Di antaranya karena dimakan usia. Sudah tua, sehingga rapuh.
Kedua, karena beban lalu lintas tidak sesuai dengan desain awal. Dan terakhir karena faktor alam. Faktor alam itu biasanya dipicu hujan lebat yang berakibat terjadinya banjir dan derasnya aliran air di sekitar abudmen dan pilar jembatan.
"Selain itu, juga dipengaruhi kontur tanah. Terutama karena beda tinggi yang ekstrem dan mempengaruhi stabilitas lereng sekitar jembatan sehingga mengakibatkan cepat longsor," tambahnya.
Tak hanya itu, kondisi itu diperparah dengan jenis tanah di Grobogan yang relatif labil. Biasanya wilayah Grobogan didominasi tanah alluvial yang komposisinya dari endapan lumpur yang mengandung pasir dan tanah liat.
"Kemudian tanah meditetania atau tanah kapur dan tanah grumusol atau lempung," katanya.
Terkait perbaikan, kata Wahyu Tri Darmawanto pihaknya akan melakukan secara bertahap tentunya dengan skala prioritas berdasarkan kemampuan anggaran.
"Yang rusak ringan akan dilakukan perbaikan untuk mengembalikan kondisinya sehingga dapat melayani lalu lintas dengan aman. Sementara, yang sudah rusak berat akan dibangun baru," paparnya. (tos/khim) Editor : Abdul Rokhim