Baca Juga : Truk Trailer Nginep Dua Hari di Pom Nglejok Grobogan Demi Dapat Solar, Ini Klarifikasi SPBU
Salah satu driver ojol di Purwodadi yang biasa nongkrong di samping SMP 1 Purwodadi Wito, 42, menyebut, kenaikan BBM yang kemudian dilanjut dengan kenaikan tarif ojol justru memberatkan pihaknya. Sebab, ia menganggap kenaikan tarif itu hanya menguntungkan perusahaan.
Ia mencontohkan untuk tarif dengan jarak terdekat, penumpang membayar Rp 13 ribu. Naik seribu. Dari jumlah itu, pihaknya hanya mendapatkan Rp.8.800. Dari semula Rp 8 ribu.
"Potongan dari operator saja sudah sampai 20 persen. Terus naik seribu itu kami cuma dapat Rp 800. Sisanya diambil operator," tambahnya.
Kenaikan itu menurutnya memang dilematis. Mengingat, bila tarif tak naik pihaknya rugi karena ongkos BBM naik. Sementara bila tarif naik, penumpang mengeluh. Di sisi lain selama tiga hari ini tarif naik, pembagiannya tak adil. Ia menganggap pembagian itu justru lebih menguntungkan perusahaan.
Senada, Dani, 26 driver ojol lainnya juga menyebut kenaikan tarif ojol itu sudah mulai berdampak pada jumlah pengguna ojol. Hal itu dirasakannya saat hari libur yang biasanya banyak pemesanan, saat ini berkurang.
"Kalau sehari dua hari memang kan gak berasa. Naik cuma seribu. Tetapi kalau tiap hari dan dia pakai terus kan berasa. Misalnya pulang pergi, selama sebulan ya sudah naik jadi Rp 60 ribu," terangnya.
Lebih lanjut, Dani menerangkan, belakangan memang banyak pelanggan yang mengeluh dengan kenaikan itu. Tetapi ia sekali lagi menegaskan bahwa meski naik, sebenarnya tak berdampak signifikan pada pihaknya. Melainkan, hanya menguntungkan operator atau perusahaan.
"Customer dikenai biaya pemesanan Rp 1.500-2.000, terus ada biaya asuransi sama potongan 20 persen. Itu kan kasihan di customer, seakan-akan kalau naik itu driver sejahtera padahal mah nggak,. Tadi saya dapat order customer bayar Rp 25 ribu. Saya cuma dapat Rp 17.500. Sisanya masuk perusahaan. Kan kasian pelanggan bayarnya jadi banyak," ungkapnya. (tos/khim) Editor : Abdul Rokhim