Tiga gunungan itu dibuat berbeda. Satu gunungan berbahan hasil pertanian seperti sayur seperti kacang, terong,. Satu gunungan lainnya khusus dari blimbing. Itu dipilih karena wilayah tersebut sentra blimbing. Sementara satu gunungan lain berisi hasil olahan berupa jajanan pasar seperti apem.
Sekitar pukul 14.30, gunungan yang berisi hasil tani itu diarak dari balai desa menuju lapangan dengan diiringi puluhan warga. Mulai dari siswa sekolah, perwakilan Kraton Solo, hingga warga umumMereka sebagian memakai kostum layaknya karnaval.
Sementara jauh sebelum gulungan tiba, sejak pukul 13.30 warga sudah memadati lapangan. Mereka berbaris di pinggir jalan. Sementara sebagian besar wraga lainnya di lapangan. Bersiap berebut gunngan saat para pembawa itu memasuki lapangan.
Benar saja sampai di lapangan warga langsung berebut mengambil hasil gunungan. Beruntung gunungan itu dikawal pasukan dari Banser, kepolisian, hingga para pendekar desa. Sehingga gunungan bisa sampai tengah lapangan. Sebab dalam perayaan sebelumnya, gunungan itu selalu habis saat sampai pinggir lapangan. Tak sampai tengah.
Sri salah satu warga setempat menyebut nekat ikut berbaur berebut gunungan karena percaya akan ada berkah bila berhasil mendapatkan hasil tani yang ada dalam gunungan tersebut.
"Ini saya dapat sayuran dan buah. Nanti akan saya masak. Biar dapat berkah," terangnya.
Kepala Desa Tarub Ali Maskuri menyebut pelaksanaan itu digelar tiap 15 safar. Perayaan kali ini yang pertama usai vakum selama Pandemi Covid-19.
Menurutnya acara haul digelar sejak Minggu (11/9). Dimulai khotmil quran dan istighosah. Kemudian dilanjut pada Senin (12/9). Senin acara dimulai dengan kirab dari pukul 13.00- pukul 15.00. Kirab dimulai dari balai desa hingga lapangan. Kemudian dilanjut dengan wilujengan pada pukul 15.00- pukul 17.00 di makam. (tos/mal) Editor : Ali Mustofa