RADAR KUDUS - Jakarta memang tidak pernah kehabisan ide-ide besar yang lahir dari tempat-tempat kecil.
Saat Piala Dunia FIFA 2026 sedang berlangsung dengan megah di Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada, warga Tambora di Jakarta Barat memilih untuk merayakannya dengan cara yang lebih sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Mereka menutup jalan gang dan mengubahnya menjadi arena sepak bola.
Turnamen ini diberi nama Liga Akamsi, yang merupakan singkatan dari “anak kampung sini".
Liga Akamsi digelar di kawasan padat penduduk Jalan Sawah Lio, Tambora, Jakarta Barat, dengan menggunakan aspal gang sebagai lapangan.
Tidak ada rumput sintetis, tidak ada tribun VIP, hanya jalan kampung yang biasanya dilalui motor dan gerobak yang berubah menjadi mini-stadion.
Ide ini berasal dari Firqi Hidayatulah, atau yang akrab disapa Kiwil, seorang pemuda berusia 23 tahun asal Penjaringan, Jakarta Utara.
Ia merasa resah melihat anak-anak di sekitarnya tidak memiliki ruang bermain yang layak.
Ide ini muncul ketika ia melihat anak-anak bermain dengan penuh semangat di pinggir kali, seolah-olah mereka sedang bertanding di stadion besar.
Dari situ, Kiwil mendirikan turnamen bernuansa street soccer ala Brasil.
Liga Akamsi telah berpindah dari Penjaringan ke Tambora, dan babak final edisi kedua diadakan di kawasan Jembatan Lima pada 21 Juni 2026.
Acara tersebut dihadiri oleh beberapa eks pemain Persija Jakarta, seperti Nuralim, Gunawan Dwi Cahyo, dan Amarzuki, yang juga memberikan piala kepada tim juara.
Pertanyaan yang sering diajukan adalah mengapa turnamen ini harus diadakan di jalan gang yang sempit, bukan di lapangan yang lebih layak.
Jawabannya cukup sederhana, karena lapangan yang layak memang tidak ada.
Kepadatan penduduk di Tambora sangat tinggi, mencapai 47.683 jiwa per kilometer persegi, dan luas ruang terbuka hijau di Jakarta masih sangat terbatas, hanya sekitar 5,6 persen.
Anak-anak di kampung padat dipaksa untuk kreatif karena kota tidak menyediakan ruang yang cukup untuk mereka.
Warga setempat mewujudkan turnamen ini melalui gotong royong sederhana, menutup akses jalan sementara sesuai kesepakatan bersama.
Jalan yang biasanya digunakan sebagai akses sehari-hari berubah menjadi arena pertandingan yang menghadirkan suasana seperti kompetisi sepak bola profesional, lengkap dengan penonton yang memadati lokasi dan membawa spanduk, poster, dan drum.
Inilah yang membuat Liga Akamsi begitu istimewa, sepak bola, olahraga paling populer di dunia yang biasanya identik dengan stadion megah dan sponsor merek internasional, dapat tetap hidup dan berkembang di jalanan aspal selebar gang, tanpa rumput hijau, tanpa lampu sorot, dan tanpa tiket masuk.
Spanduk yang bertuliskan “Dari gang kecil untuk mimpi yang besar” terpampang di antara kerumunan, seolah menjawab anggapan bahwa sepak bola berkualitas hanya bisa lahir dari fasilitas mewah.
Yang patut dipertanyakan adalah kehadiran negara dalam mendukung inisiatif warga ini.
Kiwil mengaku bahwa hingga edisi kedua Liga Akamsi digelar, belum ada respons dari pemerintah, meskipun belakangan Pemprov Jakarta mulai melirik lewat kehadiran perwakilan Balai Kota dan Pemkot Jakarta Barat.
Kehadiran itu pun datang setelah acara menjadi viral, bukan sebelum ruang bermain anak-anak kampung menjadi perhatian.
Liga Akamsi pada akhirnya bukan hanya sekadar tontonan bola kampung, melainkan juga kritik terhadap kota yang gagal menyediakan ruang publik yang memadai, serta bukti bahwa semangat sportivitas tidak pernah membutuhkan lapangan mewah untuk tumbuh.
Cukup dengan gang kecil, kesepakatan warga, dan mimpi yang besar, semangat sepak bola dapat tetap hidup dan berkembang.
Editor : Ali Mustofa