Rihlah akademik yang dipelajari setidaknya tiga tahun terakhir di MAN 1 Jepara, berhasil mengantarkan M Fathan Faturrohman menapaki kampus internasional. Ia berhasil masuk jurusan Teknik Lingkungan di Dayeh University Taiwan. Saat ini tengah menjalani program bahasa Mandarin, sebelum menjalani perkuliahan S1.
FIKRI THOHARUDIN, Jepara
MIMPI untuk menempuh pendidikan di luar negeri bukan sekadar angan bagi Muhammad Fathan Faturrohman.
Lulusan MAN 1 Jepara ini berhasil menjejakkan kaki di Taiwan. Membuka jalan menuju masa depan sebagai calon ahli di bidang teknik lingkungan.
Lahir di Jepara, 26 Desember 2006, Fathan tumbuh sebagai anak pertama dari pasangan Arief Rahmawan dan Novita Fajar Arofah.
Masa kecilnya dihabiskan di Jepara sebelum akhirnya pindah ke Desa Wedelan, Kecamatan Bangsri, saat memasuki jenjang sekolah dasar.
Sejak dini, benih mimpi untuk kuliah di luar negeri sudah tertanam.
Namun, keinginan itu mulai menemukan bentuk saat ia duduk di bangku kelas XI.
Kala itu, ia mulai serius mencari informasi kampus luar negeri secara mandiri, termasuk mengikuti campus expo yang mempertemukannya dengan peluang studi di Taiwan.
“Dari dulu memang ingin kuliah di luar negeri. Pas kelas 11 mulai kepikiran lebih serius, dan ternyata ada kesempatan,” ungkapnya pada Selasa (31/3).
Langkah Fathan semakin mantap saat menempuh pendidikan di Boarding School Al-Fikra MAN 1 Jepara sejak 2022 hingga lulus pada 2025.
Lingkungan asrama dengan pembelajaran intensif, menjadi salah satu faktor penting. Membentuk kedisiplinan dan kesiapan akademiknya.
Tak hanya belajar di kelas, Fathan juga aktif dalam berbagai kegiatan. Ia tercatat sebagai anggota OSIS, mengikuti Palang Merah Remaja (PMR), hingga aktif di ekstrakurikuler basket.
Di bidang akademik, ia juga terlibat dalam riset sains, termasuk penelitian terkait lingkungan pada 2024. Terkait, pakan yang aman untuk lobster dan tidak memicu pertumbuhan bakteri patogen.
Pengalaman riset itulah yang kemudian mengarahkannya memilih jurusan Teknik Lingkungan di kampus impiannya di Taiwan.
Menurutnya, bidang tersebut memiliki prospek besar. Termasuk dalam menghadirkan teknologi ramah lingkungan.
Perjalanan menuju Taiwan pun tidak instan. Setelah mencari informasi secara mandiri, ia akhirnya mendaftar ke Dayeh University.
Usahanya berbuah manis, ia diterima sekaligus memperoleh beasiswa 100 persen untuk tahun pertama, berkat nilai rapor yang memuaskan.
Fathan berangkat ke Taiwan pada 11 Maret 2026. Saat ini, ia tengah menjalani program bahasa Mandarin selama satu tahun sebelum resmi memulai perkuliahan S1.
Selama enam bulan pertama, ia fokus mempelajari bahasa Mandarin hingga mencapai level TOCFL A2, bahkan sempat meraih kemampuan setara B1 saat masih di Indonesia.
Baginya, bahasa menjadi kunci utama untuk bisa bertahan dan berkembang di negeri orang.
Meski begitu, perjalanan di negeri baru tentu tidak lepas dari tantangan. Culture shock menjadi pengalaman awal yang ia rasakan. Terutama terkait karakter masyarakat Taiwan yang cenderung individualis.
“Di sini orang-orang tidak terlalu peduli kalau belum kenal. Tapi kalau sudah dekat, mereka bisa sangat perhatian,” ujarnya.
Selain itu, disiplin waktu yang tinggi juga menjadi hal baru baginya. Tidak ada toleransi terhadap keterlambatan, sesuatu yang memaksanya untuk beradaptasi lebih cepat dengan ritme kehidupan yang berbeda.
Soal makanan, Fathan mengaku cukup terbantu dengan keberadaan warung Indonesia di sekitar kampus. Mulai dari nasi pecel hingga ayam geprek bisa menjadi pelepas rindu kampung halaman.
Di tengah kesibukan belajar, ke depan ia juga memiliki kesempatan untuk bekerja paruh waktu.
Bahi mahasiswa, Pemerintah Taiwan membatasi kerja part time hingga 20 jam per minggu, bahkan lebih fleksibel saat liburan.
Dengan upah yang cukup tinggi, peluang ini bisa membantu meringankan beban orang tua. Dalam memenuhi uang saku dan kebutuhan selama di Taiwan.
Ke depan, Fathan berharap ilmu yang ia pelajari bisa kembali dibawa ke Indonesia. Ia ingin berkontribusi sebagai tenaga ahli, khususnya di bidang lingkungan.
“Kalau sudah lulus, Insyaallah ingin kembali dan bermanfaat untuk Indonesia,” tuturnya.
Baginya, kunci utama menembus pendidikan luar negeri bukan hanya nilai akademik, tetapi juga keberanian untuk mencari informasi dan mencoba peluang.
Rasa ingin tahu yang besar menjadi bekal utama dalam setiap langkahnya. Ia bersyukur merasakan pendidikan di MAN 1 Jepara, yang membekalinya cara pikir yang modern dan berkemajuan.
Menurutnya, yang membuat Fathan merasa tertantang ialah tidak ada skripsi di kampus barunya. Hanya internship dan yang menjadi syarat kelulusan ialah final project.
"Apa karya yang bisa dihasilkan. Ini sejalan dengan apa yang dulu saya tekuni semasa sekolah di MAN. Yang penting itu punya rasa penasaran. Dari situ kita cari tahu sendiri dan terus belajar,” pungkasnya.(*)
Editor : Admin