Sore itu, langit sangat cerah ratusan anak-anak riang gembira mengisi hari mengaji di Madrasah Nurul Jadid di tepi Jalan Solo Purwodadi Km33, Karang Tengah, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen.
Mamank Maryono dan Asih Windaryati punya usaha. Yakni UD.Republik Jagung jual beli hasil bumi dan lain-lain penopang hidup dan perjuangan nya,
Mereka merintis mendirikan Madrasah Nurul Jadid Tahun 2010.
Memulai dengan pondasi pembatas, Rintisan ngajinya di mulai dari rumah nya di Dukuh Torolor Kacangan, Sumber Lawang setelah Madrasah Nurul Jadid di Dukuh Karang Tengah diresmikan KH.Ma' Shum Abi Darda' Syuriah PCNU Sragen dan Tanfidziahnya.
Kala Itu dr.Agus Budiharto Ngaji dipindah Ke Madrasah barunya.
Dalam waktu singkat jumlah santri 150 Anak Sebuah Cita-cita Keluarga Mamank Maryono dan Asih Windaryati mendirikan Madrasah Nurul Jadid yang mereka gratiskan.
Tanpa syarat bagi seluruh santri. Harapan mereka suatu saat berkembang menjadi Pesantren dan Islamic Center yang Mandiri.
Mamank asli Pribumi yang sempat Ngaji Di PP.Darul Mutaalimin Kertosono Nganjuk dan Ngaji Qur'an nya di Pesantren Al Muayyad Mondokan Cabang Dari Al Muayyad Mangkuyudan Solo.
Sedangkan istrinya Asih Windaryati alumni Pesantren Miftahul Ulum Jogoloyo Demak.
“Kami tidak pernah menarik bayaran. Semua gratis, karena kami ingin anak-anak tetap bisa mengaji meski orang tuanya tak mampu,” ungkap Asih Windaryati.
UD.Republik Jagung Punya 2 Armada Selain Penopang Usaha mereka juga sarana kegiatan sosial sebagai Sarana Transportasi Warga Hajatan.
Sedangka mobil Carry Pick UP digunakan untuk mengangkut piring gelas dan yang lainya. Sedangkan truk Colt Diesel untuk ,mengangkut meja kursi panggung dan yang lainya.
Selain itu, Pick Upnya juga jadi sarana pengangkut jenazah gratis ke pemakaman dan ambulan darurat.
Ketika Ada Laka Yang Jauh Dari Jangkauan Cepat Ambulan. Ketika ada momen pengajian NU Dua arnada tersebut juga digratiskan untuk mengangkut jamaah menghadiri pengajian.
Keikhlasan dan keramahan pada semua warga bekal perjuangannya Asih Menuturkan Asih Windaryati tidak mencari bayaran untuk mengajar ngaji pada anak anak justru mengeluarkan uang untuk hadiah.
Hadir berupa alat alat tulis penyemangat anak-anak agar tidak bolos dan rutin mengaji tak lupa asih juga memberikan uang jajan jelang Lebaran. Tujuanya agar anak-anak semangat dalam mengaji.
Kemudian diajak wisata religi dan dan menghadiri event event pengajian.
Memang warga demak terkenal religius dan penggerak ke agamaan di berbagai daerah, peristiwa ini mengingatkan pada sosok mantan bupati demak almarhum Tafta Zani yang sering menyambangi warganya di berbagai daerah.
Nurul Jadid di Bangun di atas Tanah Wakaf dari Almarhum Pamannya Sarwono, pengusaha transportasi asal Kedung Ombo.
Selaku Keponakan Mamank Inisiator Tanah diwakafkan berupaya dan memotivasi agar paman nya punya investasi akhirat ketika sang paman masih hidup.
Mamank mengungkapkan, perjuangan agama sebisa mungkin bukan sekedar alat mencari donasi tapi bagaimana bisa berinovasi dan memberi kontribusi.
Ketika sudah terbangun tempat ibadah. Mamank punya citabcita dirikan rest area lengkap dengan toko retail yang ingin diberi nama Santri Mart. Sebab Mamank pemasok minuman kemasan dan lain-lain ke banyak toko klontong.
Cita-cita itu bukan angan kosong. Mamank sudah memasok minuman ke berbagai toko, siap menyuplai Rest Area. Namun takdir berkata lain.
Pada 2014, terjadi insiden pembegalan santri yang pertama. Situasi memanas, santri dipindahkan. Tiga tahun kemudian, peristiwa serupa terulang.
Kali ini lebih menyakitkan. Perlahan, dukungan menghilang, dan madrasah kian redup.
“Kami tidak mencari musuh, hanya ingin terus mengabdi. Tapi fitnah dan pengkhianatan membuat kami terluka,” kenang Asih lirih.
Puncak luka datang pada 2022. Sertifikat tanah wakaf yang selama ini dijaga sebagai amanah umat, justru dipinjam untuk penggalangan dana pembangunan masjid oleh pihak yang dipercaya.
Alih-alih dikembalikan, sertifikat tersebut justru berpindah tangan ke oknum lain melalui proses serah terima yang tidak sah.
Mamank, sebagai Ketua Nadzir (pengelola wakaf), tak tinggal diam. Ia menempuh jalur mediasi dan hukum.
Setelah perjuangan panjang, Polres Sragen akhirnya mengembalikan sertifikat ke tangannya. Tapi luka dan trauma itu tak mudah sembuh.
“Perjuangan agama jangan jadi alat mencari donasi. Tapi harusnya menjadi alat inovasi dan kontribusi,” tegas Mamank.
Kini, usaha dagang mereka terpuruk akibat pandemi dan konflik internal. Tapi semangat tak pernah padam.
Mamank berharap ada investor atau dermawan yang bersedia membantu menghidupkan kembali Nurul Jadid sebagai rest area islami, pusat dakwah, dan pusat ekonomi umat.
Apalagi, kondisi pertanian kini jauh lebih baik. Jika dulu sumur dalam langka, sekarang hampir seluruh sawah bisa diairi dengan baik. Panen tiga bahkan empat kali setahun pun bukan mustahil.
“Kalau ekonomi pulih, kita bisa lanjutkan perjuangan. Santri butuh tempat belajar, umat butuh pusat dakwah yang mandiri,” harapnya.
Dari tanah wakaf yang pernah jadi saksi tawa santri, Mamank dan Asih menggantung harap.
Bahwa niat baik akan selalu menemukan jalannya, meski tertatih di tengah badai pengkhianatan.
Madrasah Nurul Jadid bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol keteguhan hati dua insan pejuang kemanusiaan.
Dan meski langkah mereka sempat tersandung, semangatnya tak pernah runtuh.
“Semoga ada yang mengulurkan tangan. Bukan untuk kami, tapi untuk anak-anak yang dulu kami ajari mengaji. Untuk mereka, kami akan terus berjuang.” harapnya. (mun)
Editor : Ali Mustofa