Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lebih Dekat dengan Hanik Sa’adah, Penulis Buku sekaligus Guru PAI SLB Rembang: Beri Motivasi ”Anak Istimewa” Dulu, Baru Dilatih Berprestasi

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 16 September 2025 | 18:22 WIB

 

BERPRESTASI: Hanik Sa’adah, guru SLB Rembang bersama Carissa, muridnya yang mendapatkan juara cipta dan baca puisi tingkat Provinsi Jawa Tengah.
BERPRESTASI: Hanik Sa’adah, guru SLB Rembang bersama Carissa, muridnya yang mendapatkan juara cipta dan baca puisi tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Guru SLB Rembang Hanik Sa’adah merupakan sosok yang aktif berorganisasi dan mencetak murid berprestasi.

Dia menjadi guru penggerak angkatan 6 dan pengajar praktik guru penggerak 10 Kabupaten Rembang.

Juga kerap melatih lomba cipta dan baca puisi hingga penulis buku BAI Erlangga.

WISNU AJI, Rembang

Guru muda satu ini, tampil rapi dan sederhana. Auranya ceria dan ramah dengan anak didiknya di Sekolah Luar Biasa (SLB) Rembang.

Baginya, mengajar di SLB merupakan panggilan jiwa. Bukan sekadar pekerjaan.

Ia mendedikasikan dirinya membantu siswanya tumbuh dan berkembang secara optimal. Baik secara spiritual, moral, hingga akademik.

Meskipun mengajar di SLB Rembang bisa dikatakan tak mudah, ia mampu menjalani dengan semangat.

Di antaranya saat menjalin komunikasi dengan siswanya. Baik melalui bahasa verbal, bahasa isyarat, maupun sentuhan yang penuh pengertian. Itulah yang melekat pada sosok Hanik Sa’adah.

Ia menceritakan perjalanan karirnya menjadi guru SLB. Hal itu, rupanya sudah menjadi cita-cita saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Namun, saat ingin melanjutkan kuliah jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) sempat dilarang orang tuanya. Kemudian dia putar haluan dengan kuliah di jurusan bahasa.

Sebab, itu sesuai jurusannya saat di SMAN 2 Rembang. Apalagi dia punya prestasi di bidang kebahasaan.

Hanik pernah menjuarai lomba cipta cerpen. Selain itu, juga berpretasi di lomba pembuatan kisah daerah. Di ajang tersebut, dia masuk 33 besar se-Indonesia.

Kisah lika-liku mengenyam bangku perkuliahan dia bagikan. Kala itu, dia sempat ingin istirahat beberapa tahun. Karena faktor ekonomi.

Ditambah musibah dialami ayahnya. Saat itu, menjelang Lebaran ayahnya mengalami kecelakaan.

Ternyata untuk biaya berobat, tidak dikaver oleh Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS).

”Saat itu, saya harus mengalah tidak kuliah dulu. Oleh bapak tetap diminta melanjutkan. Akhirnya saya kuliah di Kabupaten Pati, ambil Pendidikan Agama Islam (PAI),” kenang Hanik saat bertemu Jawa Pos Radar Kudus.

Hingga akhirnya pembuatan skripsi dilalui. Beberapa judul yang diajukan, tapi ditolak dosen.

Ia kembali mengingat cita-citanya menjadi guru sekolah luar biasa (SLB). Dengan skripsi mengangkat hal itu, akhirnya diterima.

Hanik kemudian melakukan penelitian di SLB Rembang. Di sana dia bertemu dengan anak-anak istimewa. Dari situ, membuat hatinya makin tergerak untuk mengabdikan diri.

”Pada Desember 2013 saya lulus. Lalu melamar ke berbagai sekolah. Hingga akhirnya tawaran datang pada 2016 untuk mengajar di SLB Rembang,” jelas perempuan kelahiran Rembang pada 1990 ini.

Di sekolah itu, dia juga menjadi guru penggerak angkatan 6 Kabupaten Rembang (2023) dan pengajar praktik guru penggerak angkatan 10 Kabuparen Rembang (2024).

Karena lulusan bahasa, dia yang punya basic kesastraan dipercaya untuk melatih lomba cipta dan baca puisi kepada murid-muridnya, sejak dua tahun terakhir.

Pada 2024, Melin, anak didiknya berhasil meraih juara III tingkat Cabang Dinas (Cabdin) wilayah III Pati.

Kemudian tahun ini, dia menjadi pelatih untuk Carissa Kusumaning Asih pada lomba cipa dan baca puisi tunanetra.

Carissa pun meraih juara I tingkat Cabdin wilayah III Pati dan juara III provinsi pada Agustus lalu.

Guru yang berdomisili di RT 1/RW 3, Desa Kabongan Lor, Kecamatan/Kabupaten Rembang, ini mengaku, memberi motivasi kepada Carissa agar terus mengambangkan skill-nya.

Termasuk harus go international. Itu membuat anak didiknya makin bersemangat.

Dia mengaku, memang bukan perkara mudah mengajari ”anak istimewa”.

”Kali pertama memberi motivasi terlebih dulu. Setelah rasa psimistis hilang, baru saya ajarkan teknik baca puisi,” imbuhnya. 

Editor : Ali Mustofa
#penulis buku #tunanetra #guru pai #sekolah #SLB Rembang #motivasi