Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Cerita Lontong Tuyuhan Rembang yang Kini Diusulkan Menjadi Warisan Budaya Tak Benda: Jadi Makanan saat Perang, Berfilosofi Jujur, Bener, lan Setiti

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 8 Agustus 2025 | 16:31 WIB

 

CIRI KHAS: Rais, pedagang lontong tuyuhan menunjukkan lontong berbentuk segitiga.
CIRI KHAS: Rais, pedagang lontong tuyuhan menunjukkan lontong berbentuk segitiga.

Lontong Tuyuhan kini diusulkan menjadi warisan budaya tak benda.

Makanan khas Rembang itu, bukan hanya kaya akan rasa, tapi juga terdapat filosofi adiluhung.

VACHRI RINALDY L, Rembang

Para pedagang lontong tuyuhan di sentra kuliner sedang duduk menunggu pembeli. Bapak-bapak itu terlihat kompak: sama-sama mengenakan peci hitam.

Di Sentra Kuliner Lontong Tuyuhan, Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Rembang, ini berjajar puluhan warung.

Dari luar sudah terlihat tumpukan daging ayam kampung yang menggoda. Kuliner ini mirip seperti opor ayam.

Hanya, tampilan kuahnya cenderung kuning pekat. Rasanya terdiri dari pedas, gurih, dan manis.

Rais, ketua Paguyuban Pedagang Lontong Tuyuhan mengatakan, proses pembuatan kuliner ini memang kaya akan bumbu dapur.

Mulai cabai, merica, laos, kunir, kencur, daun jeruk, jahe, ketumbar, dan jinten.

”Bedanya opor dan tuyuhan itu, sentuhannya ada manisnya. Jadi sentuhan gurih ada, manis ada, pedas juga ada," katanya.

Lontong tuyuhan merupakan kuliner yang diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Warga Desa Tuyuhan sudah berjualan dari generasi ke generasi. Seperti yang dilakoni oleh Rais.

Ia merupakan generasi ketiga di keluarganya yang berjualan lontong yang menjadi makanan khas Rembang ini.

Keberadaan kuliner ini, tidak bisa dilepaskan dari sosok Mbah Jumali, seorang tokoh agama Islam.

Rais bercerita, pada masa itu, ada santri dari Mbah Jumali yang meminta pendapat tentang pekerjaan yang sekaligus bisa digunakan untuk berdakwah.

Mbah Jumali pun berpesan dan mempersilakan dakwah memberikan pitutur luhur kepada orang-orang yang kenyang.

”Jangan sampai memberi pitutur luhur kepada orang yang lesu (lapar). Nanti jadinya tukaran (bertengkar). Jadi, setelah makan baru diberi masukan," katanya.

Dari situlah kemungkinan lontong tuyuhan mulai berkembang dan menjadi media dakwah.

Sampai sekarang, hampir seluruh unsur dari kuliner ini memiliki filosofi nilai-nilai Islam.

Seperti lontong yang berbentuk segitiga. Rais menjelaskan, tiga sisi itu menunjukkan makna hidup harus berpedoman pada tiga hal: Islam, iman, dan ihsan.

Demikian juga dalam bekerja yang harus didasari dengan jujur, benar, dan setiti.

”Jadi kerja apapun, kalau menjalankan ini (jujur, benar, dan setiti, Red) semua, insya Allah barokah," katanya.

Kandungan filosofi juga terdapat pada pikulan lontong tuyuhan.

Dulu, kuliner ini dijajakan dengan cara berkeliling kampung sembari dipikul. Ini bermakna seberat apa pun beban hidup harus bisa diterima.

”Kehidupan di dunia itu apapun kita pikul. Ringan ya dipikul, berat ya dipikul," katanya.

Pada masa lampau, para pedagang juga membawa sentir untuk penerangan. Bermakna urip iku urup. ”Jadi hidup harus bisa memberi penerangan," katanya.

Rais memegang teguh nilai-nilai hidup yang terkandung di setiap unsur lontong tuyuhan.

Termasuk makna kenapa para penjual di sentra lontong tuyuhan merupakan laki-laki.

Bagi dia, hal ini menunjukkan makna tentang tanggung jawab dan memuliakan seorang perempuan.

”Jadi, laki-laki betul-betul tanggung jawab. Masalah ekonomi wong lanang harus siap," kata pria yang sudah berjualan sejak 1999 itu.

Nilai-nilai filosofi ini, menjadi salah satu poin pengusulan lontong tuyuhan sebagai warisan budaya tak benda.

Beberapa waktu lalu, tim dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) turun ke Rembang untuk melakukan kajian sebagai tahapan dari proses pengusulan.

Ada serangkaian proses yang harus dilalui.

Pertama, pencatatan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang yang menyatakan bahwa lontong tuyuhan merupakan kuliner khas Rembang.

Setelah itu, akan diusulkan untuk penetapan. Pada tahap ini, harus ada naskah akademik dan dokumentasi.

Selain itu, juga perlu sejumlah data yang akan dihimpun, seperti sejarah, proses pembuatan, nilai filosofi, hingga keberadaan maestro dan regenerasi.

Ernantoro, pegiat sejarah Lasem mengatakan, lontong tuyuhan memiliki rentetan peristiwa sejarah.

Pada sekitar 1742, di Kecamatan Lasem, Rembang, terjadi Perang Kuning. Lontong tuyuhan saat itu juga memiliki andil sebagai makanan bagi para prajurit.

”Di Desa Tuyuhan ada kuliner itu. Makanan untuk peperangan. Jadi lontong tuyuhan disediakan untuk makan orang-orang yang ada di Desa Tuyuhan untuk melawan Belanda. Pada waktu peperangan, orang-orang yang ada di Tuyuhan menyediakan makanan," jelasnya.

Ia berharap, lontong tuyuhan ke depan semakin dikenal serta para penjual bisa terangkat dan diperhatikan. (*/lin)

Editor : Ali Mustofa
#lontong tuyuhan #peci hitam #rembang #filosofi #makanan #warisan budaya tak benda #pedagang