M Alex Poedji Winarto adalah sosok seniman dan juga sekaligus pelatih olahraga bela diri Karate.
Pria yang akrab disapa dengan Alex Poerwo ini berhasil membuka pameran lukisan tunggal di rumahnya di Banyuono I No 72 Purwodadi.
Ada puluhan hasil karyanya bersama seniman lukis Andi yang diabadikan dalam Andi And Lex (ANL).
SIROJUL MUNIR, Radar Kudus, Grobogan
Tangannya tampak luwes mengoleskan warna-warna di kanvas. Pria berambut putih dan berkacamata tampak mahir melukis gambar Yesus sedang memegang kepala anak kecil.
Lukisan Yesus tersebut dipersiapkan untuk acara paskah di Gereja Kristen Jawa Purwodadi pada bulan April mendatang.
Ada beberapa lukisan Yesus dengan bentuk karakter yang digambarkan dari beberapa lukisan tersebut.
Rencananya lukisan tersebut dipamerkan dalam rangkaian acara Paskah. Iya dia M Alex Poedji Winarto.
Dia merupakan seniman lukis asli Grobogan. Beberapa waktu lalu berhasil membuka pameran tunggal hasil lukisanya bersama pelukis Andi di rumahnya di Jalan Banyuono I No 72 Purwodadi.
Tema dari pameran tersebut adalah warna-warni yang digelar pada tanggal 21-23 Februari 2025 lalu.
”Ini satu satunya Galeri Lukisan di Purwodadi. Konsepnya adalah Home Gallery menyatu dengan rumah,” kata M Alex Poedji Winarto yang akrab disapa Alex Poerwo.
Dari kecintaannya dengan lukisan dia membuat Galeri Lukisan sendiri mulai dari teras, ruang tamu, ruang tengah, kamar dan aula penuh dengan karyanya bersama temanya Andi.
Dia mengakui, ketertarikannya membuat Galeri Lukisan di rumah karena masih sedikitnya peminat seni lukisan di Purwodadi.
”Paling banyak warga penasaran, menanyakan harga dan tidak ada kelanjutanya,” ujarnya sambil memperlihatkan lukisan yang dipajang di Galeri.
Maka dirinya bulan depan akan membuka pameran Lukisan lagi dengan tema Paskah.
Yakni dengan melakukan obral lukisan. Seperti pada harga cat kanvas ketemunya berapa.
Namun, banyak yang menentang karena menjadikan lukisan tidak ada harganya. Maka orang akan bermimpi tetapi tidak ada yang beli.
Dia menambahkan, Lukisan yang dipajang merupakan hasil pelukis. Dirinya dan Andi Kebo.
Dibukanya pameran Lukisan ini menunjukan bahwa seni lukis di Kabupaten Grobogan masih aktif. Salah satunya menjadikan rumahnya menjadi Galeri yang dibuka sejak tahun 2024.
”Lukisan yang saya buat merupakan perjalanan hidupnya mendaki gunung. Menceritakan bahwa lukisan hutan yang dilukis bahwa hantu itu bukan hantu yang ada di dalam hutan tetapi hantu ya hutan itu sendiri ketika tidak mengetahui pengetahuan hutan,” bebernya.
Ada juga lukisan tentang sejarah dirinya mengenang teman jatuh dari jurang saat pendakian.
Ia melukiskanya di atas kanvas dengan lukisan menggantung dan di bawahnya ada jurang.
Saat kejadian itu, dirinya sempat mau memutuskan mau bunuh diri karena temannya terjatuh dan meninggal di Gunung Slamet.
Selain itu, ada lukisan tentang Barong dari Bali, kemudian ada lukisan tentang Covid dan pengalaman pendakian di Arta Pura.
Saat itu, dirinya melihat ada burung merak berterbangan di padang rumput. Ternyata di belakangnya ada dua macan yang mengejarnya.
”Lukisan ini paling banyak dari pengalaman pendakian dan spiritual sendiri,” terang dia.
Sementara itu, lukisan yang dibuatnya sudah berkonsep. Seperti lukisan orang pakai payung. Tetapi orang yang pakai payung malah kehujanan.
Artinya manusia sering mendapatkan kebalikan yang diinginkan. Lukisan lainya juga ada sosok dari iblis dan malaikat.
”Malaikat sama Iblis ini sudah ditawar oleh orang Jerman.Tetapi belum diberikan karena ada cocok,” tandasnya.
Menurutnya lukisan lukisan tersebut dipasarkan di Web Internet untuk berjualan lukisan. Maka ada pembeli dari beberapa negara yang menawar ingin membelinya.
Harga lukisan di tempatnya dimulai Rp 800 ribu sampai jutaan. Lukisan yang dibuat mulai tahun 2000 an sampai tahun 2025. Ada juga beberapa lukisan disumbangkan untuk pejabat di Kabupaten Grobogan.
Dia mengaku, keluhan atau kendala pameran lukisan di Kabupaten Grobogan tidak laku. Bahkan beberapa komunitas lukisan tidak ada ruang untuk pameran.
”Ke depan paling dekat akan ada pameran Paskah. Harapan nanti ada pameran satu tahun dua kali. Ini untuk populerkan Lukisan di Grobogan,” tambahnya.
Dia menceritakan banyak seniman di Grobogan eksis lari ke luar daerah. Seperti di Jogjakarta ada Sitok Serngenge, Joko Pekik dan seniman lainya.
Selain eksis sebagai seniman, Alex Poerwo juga aktif jadi pelatih beladiri. Anak didiknya, istri serta anak-anaknya menjadi langganan juara karate.
Baik di tingkat lokal sampai internasional mulai dari Kejurkab, Porprov, PON dan Sea Games. Menekuni olahraga bela diri, merupakan panggilan jiwa pria kelahiran 25 juni 1964.
Pendirian Dojo Bushido karena ingin menampung warga yang ingin mempelajari beladiri karate.
Cara memberikan pelajaran ilmu beladiri karate serta seniman dilakukan dengan menganggap anak asuh dan anaknya menjadi sahabat.
Mereka diajak ngobrol dan berbicara ketika dirinya sedang melatih para atlet di rumah.
Meski demikian dalam keluarga tersebut ada kegiatan yang dilakukan bersamaan selain latihan karate.
Yaitu membuat fi lm bareng sekeluarga. Seperti film yang digarapnya bersama Disporabudpar Grobogan dengan judul seperti Gatot Sukoco dan para Penangkap Petir.
Pembuatan film tersebut, Alex Poerwo sebagai sutradara, anak kedua Garuda Mahameru sebagai aktor atau bisa rangkap kameramen, anak pertama pembuat skrip, anak ketiga pengatur jalanya film atau narator dan istrinya sebagai artisnya.
Kegiatan tersebut rutin dilakukan disela-sela tidak ada kejuaraan pertandingan.
Menurutnya dalam mengajarkan kepada keluarganya dalam hal prinsip anak harus dibebaskan.
Editor : Ali Mustofa