Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Wayang Klitik Jepara: Warisan Budaya yang Mulai Terlupakan dan Kehilangan Pamor

Moh. Nur Syahri Muharrom • Jumat, 7 Februari 2025 | 00:49 WIB

DIAMBANG KEPUNAHAN: Ki Hadi Purwanto membersihkan wayang klitik koleksinya di sanggarnya.
DIAMBANG KEPUNAHAN: Ki Hadi Purwanto membersihkan wayang klitik koleksinya di sanggarnya.

JEPARA – Wayang klitik, salah satu seni pertunjukan khas Jepara, kini semakin langka ditemukan.

Berbeda dengan wayang kulit yang masih kerap dipentaskan, wayang berbahan kayu tipis ini perlahan mulai kehilangan pamornya.

Bahkan, salah satu dalang yang masih menguasai seni ini mengaku terakhir kali menggelar pertunjukan sekitar lima tahun lalu.

Di sebuah rumah di Desa Bandengan, Kecamatan Jepara Kota, Ki Hadi Purwanto terlihat sibuk membersihkan wayang klitik peninggalan leluhurnya.

Dengan telaten, ia mengusap debu yang menempel di permukaan kayu kembang—bahan utama wayang tersebut. Usianya sudah puluhan tahun, namun masih terawat dengan baik.

“Wayang klitik ini terbuat dari kayu tipis, sekitar dua hingga tiga sentimeter.

Bentuknya menyerupai wayang kulit, hanya saja lebih padat dan diukir dengan detail,” ujar Ki Hadi Purwanto di sela-sela membersihkan koleksinya.

Menurutnya, wayang klitik memang bukan kesenian asli Jepara, namun pernah berjaya di daerah ini, terutama pada era 1950-an.

Sebelum wayang kulit lebih populer, pertunjukan wayang klitik sempat menjadi hiburan utama masyarakat.

Sayangnya, seiring perkembangan zaman, minat masyarakat terhadap wayang klitik semakin menurun.

Berbeda dengan Wayang Kulit

Meskipun sekilas mirip dengan wayang kulit, wayang klitik memiliki sejumlah perbedaan mendasar.

Dari segi pementasan, wayang klitik juga diiringi gamelan, tetapi tanpa kehadiran sinden seperti dalam pertunjukan wayang kulit.

Jumlah personel yang dibutuhkan pun lebih sedikit, hanya sekitar lima orang.

Yang paling membedakan adalah alur cerita yang dimainkan.

Jika wayang kulit banyak mengadaptasi kisah dari Mahabharata dan Ramayana, maka wayang klitik lebih banyak mengangkat cerita dari Babad Tanah Jawa.

Ini membuat wayang klitik memiliki keunikan tersendiri dan berpotensi menjadi media edukasi sejarah bagi generasi muda.

Namun, kenyataan berbicara lain. Saat ini, masyarakat lebih tertarik pada hiburan modern yang lebih instan.

“Wayang klitik ini kalah dengan budaya-budaya yang sok menyilaukan mata. Kita malah sering melupakan budaya sendiri dan lebih tertarik dengan budaya luar,” ungkap Ki Hadi Purwanto dengan nada prihatin.

Upaya Melestarikan Wayang Klitik

Menyadari semakin berkurangnya peminat wayang klitik, Ki Hadi Purwanto bertekad agar seni tradisional ini tidak mati begitu saja.

Ia berharap ada dukungan dari pemerintah untuk menghidupkan kembali pertunjukan wayang klitik, minimal dua kali dalam setahun pada acara-acara resmi atau kebudayaan.

“Kalau ada perhatian dan dukungan, setidaknya kami bisa kembali menghidupkan pertunjukan ini, sehingga anak muda bisa mengenal dan mencintai wayang klitik,” katanya.

Terakhir kali Ki Hadi Purwanto mementaskan wayang klitik adalah sekitar lima tahun lalu di Pendopo Wakil Bupati Jepara, sebelum pandemi Covid-19 melanda.

Sejak saat itu, tak ada lagi undangan atau kesempatan untuk menggelar pertunjukan.

Dengan berbagai tantangan yang ada, harapan agar wayang klitik kembali mendapat tempat di hati masyarakat Jepara tetap menyala.

Apakah seni ini masih bisa bertahan dan kembali bangkit? Jawabannya tentu tergantung pada seberapa besar kepedulian kita terhadap warisan budaya sendiri.(rom)

 

Editor : Mahendra Aditya
#Wayang Klitik Jepara #jepara #Ki Hadi Purwanto #Wayang Klitik #seni pertunjukan khas Jepara