Kesibukan sebagai aparat tak lantas membuat Iptu Sugianto berleha-leha selepas pulang kerja.
Dia memilih menyibukkan diri menjadi guru ngaji membaca Alquran.
EKO SANTOSO, Blora, Radar Kudus
Seragam cokelat itu masih melekat. Menandakan statusnya sebagai aparat kepolisian.
Orang boleh jadi takut dengan perawakannya yang sangar. Namun, anak-anak di sekitar rumahnya justru senang.
Suara merdu pun mengalun di Masjid Ar-Rahman, Kunden. Ayat demi ayat Alquran terucap.
Sesekali pria itu, membaca terlebih dahulu. Kemudian ditirukan anak-anak di depannya.
Pada moment lain, ia hanya mendengarkan. Sementara anak-anak yang ada di depannya bertadarus. Sesekali dihentikan. Ia membenarkan pelafalan yang salah.
Setelah itu, barulah dilanjut. Ialah Iptu Sugianto yang dengan ramah mengajari anak-anak membaca Alquran. Ia tampak humanis. Murah senyum.
Sama sekali tak tampak jika dia aparat kepolisian, sekalipun ia masih mengenakan seragam polisi.
Iptu Sugianto memang memiliki wawasan ilmu agama yang mumpuni. Hal itulah yang membuatnya mau jadi guru mengaji di masjid dekat rumahnya.
”Jadi seharian saya tugas sebagai polisi. Sorenya saya ngajar ngaji di Masjid Ar-Rahman, Kunden," tuturnya.
Menurutnya, menjadi guru ngaji merupakan panggilan hatinya.
Ia mengaku ada kepuasan batin sendiri ketika bisa membuat suasana masjid terlihat ada aktivitas serta guyub rukun.
”Di sini saya coba ajak remaja masjid untuk beraktivitas di masjid. Agar masjid itu makmur (diramaikan aktivitas positif)," ucapnya.
Ia mengatakan, pada Ramadan lalu, dirinya juga mengajak para remaja masjid untuk membuat kegiatan yang positif.
Terlebih, dirinya juga menjadi ketua RW setempat.
”Saya ajak remaja masjis bikin lomba thek-thek, lomba azan, dan lomba lain-lain. Biar tidak monoton mengaji saja. Karena anak-anak biar betah di masjid. Memakmurkan masjid," terangnya.
Ia berharap, dengan apa yang ia lakukan anak-anak bisa mengenal satu dengan lainnya melalui aktivitas di masjid.
”Biar menjaga kerukunan antarwarga. Anak-anak agar tidak terjerumus ke pergaulan yang tidak baik. Ini cara ampuh untuk menghapus bullying yang rawan terhadap anak-anak," tegasnya. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa