MALAM Jumat aula di kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Raudhatut Thalibin begitu bising. Para santri membentuk kelompok sembari duduk melingkar.
Tangan mereka begitu energik bertepuk tangan. Begitu juga suara mereka yang lantang dalam melafalkan nadhom-nadhom.
Aktivitas menghafalkan kitab Alfiyah Ibnu Malik seperti ini sudah menjadi tradisi di pondok pesantren yang terletak di Kelurahan Leteh, Rembang ini.
Mereka menyelesaikan hafalan 1.000 nadhom Alfiyah dalam waktu sekitar satu jam.
Metode menghafal dalam kebisingan ini juga dilakukan oleh KH Bisri Mustofa, salah satu masyayikh Leteh.
Ayah dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus) itu merupakan ulama yang produktif dalam melahirkan karya-karya literasi.
Total ada 179 kitab. Salah satu yang paling dikenal adalah Tafsir Al Ibriz. KH Bisri Adib Hattani, salah satu pengasuh Ponpes Raudhatut Thalibin menyampaikan, sebelum menulis Al Ibriz, Mbah Bisri menerjemahkan terlebih dahulu berbagai kitab.
Seperti nahwu, sorof, balaghah, asbabun nuzul, asbabul wurud, dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan Alquran.
Selain itu, Mbah Bisri juga menghafalkan. Terkadang, untuk mengetes hafalan, sang kiai kelahiran 1915 itu pergi ke pasar untuk mencari keramaian agar bisa menguji fokus dengan maksimal.
”Karena ngetes. Orang kalau denger macam-macam sambil baca kan susah. Itu untuk ngetes hafalannya ke pasar," katanya.
Gus Adib -sapaan akrab KH. Bisri Adib Hattani- menjelaskan, hal itu juga dipraktikkan kepada para santri.
Dalam belajar harus berteriak-teriak. Selain untuk tetap melek, juga untuk mengetes hafalan.
"Kami masih pakai, itu kan metode kuno. Ilmu itu di dalam dada, artinya hafal. Bukan di tulisan kertas," kata salah satu cucu Mbah Bisri itu.
Bisri Cholil Laquf, salah satu pengasuh pondok lainnya mengatakan, setiap malam Jumat para santri selalu menghafalkan dengan metode keplok-keplok ini.
Setiap masa, kata Gus Gipul, selalu ada santri-santri yang memiliki semangat tinggi dalam menghafal.
"Cara belajar mereka dengan metode seperti itu saling menulari. Dan menularkan," jelasnya.
Beberapa santri yang bersemangat itu, terkadang tidak puas jika mereka hanya menghafal bersama di aula.
Sehingga satri itu pun melanjutkan hafalan di kamar. Kemudian, santri-santri lainnya pun mengikuti.
Gus Gipul mengingat perkataan KH Cholil Bisri, ayahnya yang juga salah satu putra Mbah Bisri mengatakan apabila ada santri mendapatkan nilai bagus, berarti cara belajar harian menggunakan metode teriak-teriak.
"Kalau di angka 7 ke bawah, pasti klemar-klemer, ngantuk," jelasnya. (vah/zen)
Editor : Ali Mustofa