Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Siti Muthoharoh Seniman Surealisme asal Jepara: Berpameran di Berbagai Tempat, Garap Pesanan Book Cover Penerbit Belanda

Fikri Thoharudin • Minggu, 13 Oktober 2024 | 22:30 WIB
KREATIF: Djemari Pensil alias Siti Muthoharoh menunjukkan karya-karyanya yang dipamerkan baru-baru ini.
KREATIF: Djemari Pensil alias Siti Muthoharoh menunjukkan karya-karyanya yang dipamerkan baru-baru ini.

Djemari Pensil atau Siti Muthoharoh mempelajari secara otodidak keterampilan melukisnya sejak 2010.

Pendalaman dan perkenalannya dengan berbagai lingkup komunitas semakin menambah kepiawaiannya dalam menggoreskan garis demi garis menjadi sebuah bentuk.

Berpameran menjadi kegemarannya, kini dia mendapatkan project dari salah satu penerbit Belanda untuk membuat book cover.

FIKRI THOHARUDIN, Jepara, Radar Kudus

Sorot mata Siti Muthoharoh tampak memancar pada lembaran kanvas di malam itu.

Drawing pen yang terselip di antara jari jempol dan telunjuknya luwes membuat garis demi garis hingga menjadi sebuah bentuk.

Perempuan 29 tahun atau pemilik nama pena Djemari Pensil tersebut tengah merampungkan karya lukisnya untuk diikutsertakan dalam pameran.

Simut sapaan akrabnya yang berasal dari asal Desa Pekalongan Kecamatan Batealit ini bisa dibilang sebagai art talent perempuan Jepara yang konsisten berkarya hingga sekarang. Hal itu dilakoninya sejak tahun 2010 silam.

Dia fokus menggambar menggunakan pensil di atas kertas maupun kanvas.

Kebanyakan karyanya bergaya surealis dengan detail-detail objek seperti awan, tulang, tumbuhan, bulan, dan terutama apapun yang menyangkut tentang perempuan.

Setiap goresan merupakan bentuk perayaan-perayaan baginya.

Di samping itu, kerja-kerja berkesenian tersebut merupakan sebuah self healing tersendiri. Untuk meredam ataupun menumpahkan isi kepala.

"Saya menyukai dunia gambar itu sejak kecil. Pada 2010-an mulai aktif belajar menggambar bergaya realis secara otodidak," ungkapnya.

Karena merasa monoton akan aliran realis seperti wajah manusia, tumbuhan, atau benda-benda di sekitar, Simut kemudian untuk mengeksplorasi aliran lainnya.

Berbagai inspirasi membanjiri pikirannya, bertolak dari pertemuannya dengan panduan buku yang ditemukan di perpustakaan.

"Pada 2017, saya mulai memberanikan diri mempublikasikan karya saya dengan ikut terlibat di pameran bersama teman-teman komunitas di Jepara. Di tahun itu juga, saya bereksplorasi gaya gambar yang awalnya realis menjadi surealis hingga sekarang," jelasnya.

Mahasiswi program studi Desain Produk di UNISNU angkatan 2013 lalu ini, pun menyadari tidak mudah untuk konsisten berkarya apalagi sebagai seorang perempuan.

Tapi ia juga ingin membuktikan bahwa perempuan dapat berdaya, termasuk dalam pilihan dan jalan hidupnya.

"Sebenarnya gak mudah, apalagi kalau ada yang nanya, terjamin gak? Ini menjadi hobi tapi kemudian sedang berproses untuk menjadi bagian utama (Kesejahteraan, Red)," sebutnya.

Dilema yang ia rasakan sebagai perempuan banyak mengilhami karya-karyanya.

Apalagi mengenai dengan anggapan jika perempuan hanya second sex atau kelas kedua yang urusan hanya kamar dan dapur. Namun simut berhasil membuktikan dengan ratusan karya yang telah lahir dari tangan dingin yang lentik tersebut.

"Saat-saat ini mengangkat figur perempuan, rasa-rasanya lebih dekat denganku. Pengalamannya. Isunya pun gak pernah habis untuk dibahas. Tak jarang ia juga terinspirasi dari teman perempuannya untuk melukiskan sesuatu," urainya.

Sederet pengalaman berpameran yang dimulai sejak 2017 seperti pameran ‘Lorong Waktu’ di Jepara. 2018 pameran ‘Chemotherapy’ Jepara dan pameran ‘Art party #3. Pada 2021 pameran virtual ‘RupaCyntya Japara.'

Lalu pada 2022 Pameran ‘Kecil itu Indah – Miracle #5, Jogja Gallery. Pameran ‘Ambah Pesisiran, soft opening road to JEAB 2023’, di Jepara. Di 2023 juga pameran wine ‘Story of A Broken Heart’, Jogja. Termasuk pameran ‘SKALA: Mini Art', Grey Gallery, Bandung.

MEJENG: Beberapa karya Djemari Pensil.
MEJENG: Beberapa karya Djemari Pensil.

Kemudian bergabung pada pameran 'Timik-Timik,' Jepara. Pameran ‘Fungi', Bandung. Pameran ‘Jaladara: About Us', Jepara.

2024 juga pameran 'Arsip: Merekam Muria Menyulam Era', Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW), Kudus. Pameran ‘Karma', Gedung YPK, Bandung. Serta pameran 'Sido Telu Mlebu', Master Gallery, Sidoarjo.

Keproduktifannya tersebut mengantarkan kepada pengalaman-pengalaman baru.

Saat ini Simut tengah menggarap pesanan untuk sebuah book cover salah satu penerbit Belanda. Yang diketahui memuat riwayat Kartini.

Merupakan sebuah kepuasan batin tersendiri karena berkolaborasi dengan para crafter asal Yogyakarta, atau menjadi kontributor di Clara Magazine bersama rekan perempuan dari maupun luar negeri.

"Ini masih proses mengerjakan artwork untuk salah satu penerbit Belanda," hematnya.

Meskipun kerap dianggap seorang laki-laki, namun Simut tak henti-hentinya untuk memberikan penegasan bahwa perempuan juga dapat berdaya dan berkarya.

"Karakter lukisanku full arsiran. Bahan dan alat cukup sederhana hanya beberapa pensil dengan berbagai grade. Medianya kertas ataupun kanvas. Tapi kalau kanvas harus hati-hati karena tanpa menghapus, kalau ada goresan yang keliru ya direkonstruksi menjadi sebuay bentuk lain," urainya.

Hampir semua karya berwarna monokrom. Menurutnya itu menjadi ketertarikan tersendiri.

"Ada sisi tenangnya, seperti membawa kedamaian kalau dinikmati (dilihat Red). Belum mengeksplorasi warna lain," katanya.

Dalam merampungkan karya, Simut memerlukan waktu yang bervariasi sesuai dengan ukuran kertas atau kanvas yang ada.

"Misal kemarin ukuran 60x50 sentimeter selesai dalam satu bulan. Kalau ukuran A5 dengan detail rumit, mungkin dua-tiga hari," ujarnya.

Selain jual karya Simut juga menerima pre-order. Belum lama ia menerima pesanan custom dari Amerika.

"Dalam mengembangkan diri, saya berusaha bikin, satu bulan kalau ukuran kanvas setengah meteran ya dua buah karya. Karena juga mau submit ke beberapa pameran," ucapnya.

Pihaknya berharap generasi muda khususnya di Jepara memiliki keberanian untuk memulai dan menjalani sesuatu. Sesuai dengan hobi, bakat dan ketertarikan masing-masing.

"Kalau dalam hal ini (melukis, Red) bisa dilakukan paruh waktu juga. Bisa dilakukan di manapun dan kapanpun, jadi usahakan memiliki aktivitas produktif," tutupnya. (*/him)

Editor : Ali Mustofa
#Siti Muthoharoh #gambar #jepara #lukisan #seniman