Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menilik Masjid Baiturrahman di Soneyan Pati: Masjid Bergaya Eropa Serupa Kastel, Habis Rp3 Miliar

Fikri Thoharudin • Kamis, 1 Agustus 2024 | 18:06 WIB

 

MEGAH: Para santri telah pulang dari TPQ Rouddutul Furqon yang berada di depan Masjid Baiturrahman Kedungpanjang Desa Soneyan, Pati, yang dibangun bergaya arsitektur Eropa.
MEGAH: Para santri telah pulang dari TPQ Rouddutul Furqon yang berada di depan Masjid Baiturrahman Kedungpanjang Desa Soneyan, Pati, yang dibangun bergaya arsitektur Eropa.

Warga Dukuh Kedungpanjang Desa Soneyan secara swadaya membangun masjid di desa mereka dengan gaya arsitektur yang Eropa.

Masjid tersebut rampung di bangun sejak 2015. Habis Rp 3 miliar.

FIKRI THOHARUDIN, Pati, Radar Kudus

Bukan di luar negeri atau kota-kota tua bersejarah peninggalan bangsa Eropa.

Masjid dengan corak bangunan menyerupai kastel ini berada di Dukuh Kedungpanjang Desa Soneyan, Margoyoso, Pati.

Untuk mengunjungi masjid itu dibutuhkan setidaknya 30 menit perjalanan dari kota Kabupaten Pati. Melewati perkebunan ketela dan pabrik-pabrik pengolahan tapioka.

Sesampainya di masjid, pengunjung akan dimanjakan dengan karakter bangunan yang unik.

Dengan enam kubah-kubah yang runcing. Wajah bangunan masjid seakan membius sekaligus membawa pikiran bertamasya ke negara Eropa.

Wakil ketua takmir masjid, Agus Syakroni menceritakan dulunya masjid Baiturrahman ini telah berdiri sejak tahun 1950-an.

Struktur bangunannya menggunakan kayu dan berkarakter joglo Jawa.

Tempo itu pendirian masjid pertama kali diprakarsai oleh Kiai Ahmad Rasiman, salah satu tokoh agama di Dukuh Kedungpanjang bersama masyarakat.

"Baru kemudian ada pemugaran di 2015. Dan terus berlanjut hingga seperti yang sekarang," ungkapnya Rabu (31/7).

Pemugaran berangkat dari swadaya masyarakat Dukuh Kedungpanjang, di samping terdapat infaq dari luar maupun dari pemerintah Desa Soneyan.

Terhitung masjid itu menghabiskan Rp3 miliar. Sementara itu bangunan yang lama dibongkar total dan diminta untuk didirikan menjadi masjid kembali di daerah Blora.

”Memang prinsipnya orang dulu pendirian masjid kan sebagai wakaf, sehingga kalau masih dapat dimanfaatkan juga harus seperti itu," jelasnya.

Agus melanjutkan terkait desain khusus sebetulnya tidak ada tujuan yang spesifik. Melainkan lebih mempertimbangkan aspek estetika.

"Ini memang berdasarkan hasil musyawarah antara panitia pembangunan dan arsitek pada saat itu. Terinspirasi dari gaya arsitektur Eropa klasik yang dianggap juga masih relevan," tuturnya.

Di sisi lain, menurutnya pemilihan gaya arsitektur tersebut juga sebagai pandangan, bahwa Islam hadir bisa dalam berbagai bentuk. Dapat membaur dengan segala kebudayaan.

"Dengan mengusung konsep itu kami ingin Islam hadir lewat berbagai macam warna, termasuk bangunan masjid bergaya Eropa ini," ujarnya.

Diketahui, hingga saat ini di Kabupaten Pati belum terdapat masjid dengan arsitektur menyerupai kastil atau eropa di abad pertengahan.

"Kebetulan Desa Soneyan sendiri telah ditetapkan sebagai desa wisata sejak (15/7) lalu. Ini diharapkan dapat menjadi daya tarik pendukung," harapnya.

Salah satu warga setempat, Giarso Raharjo, 42, berharap dengan adanya masjid juga berfungsi sebagai sarana sosial keagamaan.

"Tidak hanya salat juga kegiatan lain. Seperti kegiatan tahlil setiap malam jumat, khataman Alquran. Manakiban setiap tanggal 15 penanggalan hijriah, juga pengajian selapanan pada Jumat Kliwon," tanggapnya.

Ke depan masjid juga diharapkan oleh masyarakat pada umumnya sebagai pusat pendidikan keagamaan dan menjadi bagian dari eduwisata Desa Soneyan.

"Karena di sini sudah ada aktivitas membatik, hingga agrowisata petik buah," pungkasnya. (*/zen)

Editor : Ali Mustofa
#kastel #masjid #estetika #arsitektur #agrowisata #blora #desa wisata