Moh Anis Faozi berhasil menyampur garam asal Desa Jono dengan yodium.
Sehingga meningkatkan harga jual. Dari per 1 kilogram Rp 15 ribu menjadi Rp 50 ribu.
Kreasinya ini menjadi juara I lomba Krenova yang digelar Pemkab Grobogan.
SIROJUL MUNIR, Grobogan, Radar Kudus
Potensi garam Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, perlu kembangkan.
Sebab, garam tersebut dibuat tidak berasal dari air laut. Namun, diambil dari air sumur.
Garam itu diklaim mempunyai kandungan mineral tinggi dan rasanya lebih gurih dari garam biasanya.
Namun, saat ini masih kesulitan dalam hal pemasaran. Sebab, kalah saing dengan garam lain.
Itu, karena belum diproduksi dengan baik. Di antaranya belum bersih, karena produksinya masih model tradisional. Juga tidak bisa dicampur dengan yodium.
Dari realita kondisi di lapangan tersebut, Moh Anis Faozi, guru SMAN 1 Purwodadi merasa prihatin dengan potensi besar garam Desa Jono yang belum maksimal itu.
Dia terinsipirasi dari garam Himalaya yang bisa dijual dengan harga mencapai Rp 150 ribu per 1 kilogram.
Kemudian, sejak 2017 dia mulai meneliti.
”Saya lakukan penelitian di Diseprindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) dan Dinkes (Dinas Kesehatan) Grobogan. Ternyata garam Desa Jono nggak bisa dikasih yodium. Itu karena proses penggarapannya kurang tepat. Kurang higienis saat produksinya,” kata Anis Faozi yang melakukan penelitian dengan dua guru lain, Nindinya Yunita Swastana Insani dan Galuh Rahardiana.
Dengan mencoba mencampurkan yodium ke garam Desa Jono. Ternyata tak bisa larut dan justru warna garam berubah menjadi kekuningan.
Kadar putihnya sampai angka 8. Padahal garam yang baik nilainya hanya 7. Dari bau garamnya juga menyengat.
Langkah yang dia lakukan, dengan membuat garam Jono bisa standra nasional Indonesia (SNI) berwarna putih 7 dan bisa dikasih yodium.
Maka, dirinya melakukan pemasakan ulang garam Jono yang sudah jadi. Menggunakan pemanas dari minyak jelantah atau minyak bekas gorengan.
”Setelah garam dimasak dan dikeringkan, maka garam bisa berwarna putih bersih dan higienis. Setelah dikasih yodium ternyata berhasil atau tidak pisah. Pengelolaan kami lakukan modern secara higenis di tempat tertutup,” ujarnya.
Dia menjelaskan, dari pengolahan itu, dari 1 kilogram garam menyusut 30 persen.
Namun, hal itu tak masalah. Sebab, secara harga lebih mahal.
”Target kami penjualan lewat komunitas healty food dan industri wisata seperti di Bali. Untuk 1 kilogram kami jual harga Rp 50 ribu. Jika dibandingkan sebelum diolah hanya laku Rp 15 ribu. Maka secara ekonomi bisa meningkat,” imbuhnya. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa