Muhadi, sejak 2017 telah lama tertarik dengan sejarah. Kini ia sukses prakarsai rumah budaya pertama di Grobogan.
Dia juga inisiator objek wisata Candi Joglo Semar Purwodadi.
FIKRI THOHARUDIN, Grobogan, Radar Kudus
Saat menceritakan awal perjalanannya merintis Candi Joglo Semar Purwodadi, senyuman Muhadi beberapa kali keluar.
Dirinya bangga. Auranya memancar tenang. Pembawaan tersebut barangkali ialah buah dari pengembaraannya 17 tahun terakhir.
Baca Juga: KH Baidlowi Lasem Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Usia yang masih terbilang muda tidak menjadi alasan bagi Muhadi untuk menjaga jarak dengan hal-hal yang bersifat kuno.
Justru itu digunakan semaksimal mungkin sebagai investasinya dalam pergumulan dan pelestariannya terhadap sejarah dan kebudayaan itu sendiri.
Pria kelahiran Grobogan, 25 Februari 1981 atau yang akrab disapa sebagai Mpu Gandrung tersebut telah memulai laku pengembaraan diri sejak berumur 26 tahun.
Melakukan perjalanan dan pemaknaan terhadap satu situs ke situs lainnya.
"Kemudian pikiran saya tertuju pada sekitaran Candi Sukuh dan Candi Cetho. Sempat mencari tanah di lereng Gunung Lawu tapi tidak ada yang ”berjodoh”," ceritanya.
Tak berselang lama Mpu Gandrung malah mendapatkan tanah di dekat tempat lahirnya sendiri, yaitu di Dusun Sukoharjo, Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh, Grobogan.
Atas dukungan orang tua dan sang istri, di situlah dia mulai merintis dan membangun yang sekarang dikenal sebagai Candi Joglo Semar Purwodadi.
"Awalnya hanya untuk kepentingan spiritual pribadi. Sebagai ruang untuk berserah dan mengheningkan cipta," tuturnya.
Namun karena intuisi dan isyarat yang dirasakannya, Mpu Gandrung kian peduli dengan aktivitas seni dan budaya.
Baca Juga: Disambut Antusias Warga, Dinas Perikanan Jepara Getol Garap Lomba Mancing, Ini Harapannya!
Sejak tahun 2013 menjadi rumah budaya. Tempat itu jadi wadah menumbuhkan kreativitas para penggiat cipta, rasa dan karsa.
”Hal itu berdampak positif kepada penggiat seni bahkan di luar Grobogan," ujarnya.
Awalnya pun tidak ada target yang ingin diraih, tapi kemudian masyarakat turut terakomodasi berkegiatan.
Hingga pada 2019 diresmikan bupati sebagai salah satu objek wisata di Grobogan.
Dia memaknai, dalam pengembaraan di Bali dengan entitasnya sebagai Suku Jawa turut memberikan kesan mendalam. Warga Bali memiliki salah satu pegangan
"Tri Hita Karana" atau yang bisa diartikan secara leksikal sebagai tiga penyebab kesejahteraan. Dalam hal ini adalah hubungan baik terhadap alam, hubungan baik terhadap manusia dan hubungan baik terhadap Tuhan.
Isyarat beberapa tahun silam terjawab pada kuartal pertama 2024.
Pada Maret, Mpu Gandrung menemukan sejumlah bongkahan relief di Lereng Gunung Lawu yang dinamai sebagai Relief Bolongan Songo.
Di antaranya ialah relief dua mata, dua telinga, hidung, mulut, lubang depan dan belakang.
"Saya menafsir, sifat-sifat yang dimiliki manusia sebetulnya tak beda jauh dengan alam. Itu yang kemudian kian membuat mantab diri saya untuk melestarikan peninggalan ini," tegasnya.
Hingga saat ini, di Candi Joglo Semar Purwodadi juga menjadi eduwisata bagi masyarakat bahkan dari luar daerah.
Di tanah seluas satu hektare tersebut sudah dikembangkan 2000 meter persegi.
"Di sini disajikan penemuan yang diperkirakan dari situs Kerajaan Medang Kamulan. Galeri wayang kulit juga galeri omah pawon yang mengajarkan filosofi alat masak tempo dulu. Termasuk gambaran percintaan Dewi Nawang Wulan dan Joko Tarub di Grobogan," terangnya.
Dalam perjalanannya, Candi Joglo Semar juga memiliki yayasan dan sanggar seni budaya sendiri.
Dulu sebelum pandemic, dirinya ngontrak delapan penari asli Bali. Mereka mengajari tarian untuk masyarakat sekitar hingga bisa pentas sendiri.
”Sehingga kalau ada wisatawan, pengunjung disajikan pertunjukan Tari Bali dan Wayang Orang Jawa," jelasnya.
Diketahui Mpu Gandrung kian melengkapi sarana dan prasarana Candi Joglo Semar untuk para wisatawan.
"Saat ini sedang membangun musala, progres sudah 70 persen. Termasuk penataan tempat untuk koleksi-koleksi yang ada," pungkasnya. (*/zen)
Editor : Ali Mustofa