ARIKA KHOIRIYA, Kudus, Radar Kudus
PUKUL 14.00 Letkol Inf Andreas Yudhi Wibowo tampak sedang duduk di sofa hitam di ruang pertemuan Markas Kodim (Makodim) 0722/Kudus. Laki-laki kelahiran Magetan, 27 Mei 1980 itu, kebetulan sedang membaca sebuah berkas.
Saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus, sambil berdiri dan menyalami. Perbedaan tinggi badan sangat mencolok. Sebab, badannya memang bertinggi 184 sentimeter dan tubuh tegap. Wartawan yang tingginya sekitar 153 sentimeter ini, harus mendongakkan wajah saat berbicara sambil menatap wajah sang komandan.
Sambil senyum ramah, Letkol Yudhi mengawali pembicaraan dengan bercerita menjadi TNI memang cita-citanya sejak duduk di bangku SMA. Kemudian setelah menamatkan pendidikan SMA-nya itu, ia sempat mendaftar TNI.
Namun, tidak lolos. Lalu ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Baru satu semester, ia mengambil cuti, karena mendaftar TNI lagi. Kesempatan kali ini, akhirnya diterima. Pada 2000 ia resmi masuk taruna.
Setelah lulus pendidikan militer pada 2003 silam, ia langsung bertugas dan ditempatkan di Merauke pada 2004. Setahun setelahnya, ia pindah tugas di Sentani, Jayapura, hingga 2013.
Masih segar ingatan-ingatannya tentang Papua. Di antaranya, yang berbeda kebiasaan orang Jawa dengan Papua. Saat protes yang diwujudkan dengan demo, jika orang Jawa dengan membawa kertas, spanduk, dan pengeras suara. Berbeda dengan di Papua. Lebih keras. Saat demo biasanya membawa parang dan panah.
”Karena memang kebiasaan di sana (Papua, Red) memang membawa barang tersebut (parang dan panah, Red). Karena mata pencaharian warganya rata-rata berkebun dan berburu,” ungkapnya.
Selain itu, dia mengakui, kehidupan di Papua lebih mahal. Ia menceritakan satu bungkus mi instan saja mencapai Rp 5.000. Kemudian satu sak semen harganya bisa mencapai Rp 500 ribu. Beda lagi yang masuk wilayah pengunungan. Semen satu sak bisa mencapai Rp 1 juta.
”Itu terjadi sebelum 2013. Mahalnya hidup di Papua itu, karena akses transportasi yang tidak mendukung. Bahkan pada saat itu, kendaraan roda empat bisa dihitung dengan jari. Rata-rata untuk pergi ke kecamatan saja, harus memakai pesawat. Kalau warga sana (Papua, Red) jalan kaki. Kendaraan roda dua paling juga hanya untuk muter-muter yang dekat-dekat saja,” kenangnya.
Dia mengaku, hidup di Jayapura memang keras. Misalnya di wilayah pegunungan, kalau warga berjalan biasanya rombongan. ”Kalau sendirian bisa berbahaya. Mungkin bisa bertemu dengan binatang buas atau kejadian yang mengancam jiwa yang lain," imbuhnya. (*/lin) Editor : Kholid Hazmi