INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus, Grobogan
RUANG tamu rumah Lia Herliana di Jalan Halmahera, Griya Pramaja Indah, Kuripan, Kota Purwodadi, ini tampak indah dengan beragam hiasan vigura. Di dalam vigura itu ada beberapa kaset bergambar artis-artis 80-an. Di bawahnya ada alat musik angklung. Ada juga koleksi gitar.
Tampak seorang ibu yang sedang membuka beberapa buku. Buku itu merupakan karyanya sendiri. Judulnya Tembang Kesayangan Eyang dan Aku si Penjaga Sawah. Ibu itu adalah Lia Herliana ibu rumah tangga yang aktif membuat tulisan cerpen anak-anak.
Dari buku-buku itu ternyata tak hanya berbahasa Indonesia. Beberapa bukunya telah diterjemahkan dalam bahasa Hindi.
Hingga kini dia telah menerbitkan 95 judul buku. Ditulisnya sejak 2011.
Kesuksesannya membuat buku itu dimulai dari hobi membaca dan menulis yang ia miliki sejak kecil. Biasanya ia membaca di perpustakaan keliling.
Lia memberanikan diri menulis cerpen sejak SMP. Hobi menulisnya sempat vakum ketika kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Undip hingga menikah. Namun, ketika memiliki tiga anak, perempuan kelahiran 7 April 1977 ini kembali fokus menulis.
”Sekitar 2011, ketika sudah ada anak tiga. Saat itu sudah menikmati menjadi IRT dan ingin mencari sesuatu yang beda. Mulai kenal internetan. Kenal beberapa penulis di media daring. Ikut komunitas dan audisi menulis buku antologi saat itu. Belum langsung ke buku anak,” jelasnya.
Lika-liku dalam menulis, Lia sempat menulis buku tentang parenting, romance, artikel di media masa. Hingga kini akhirnya ia memfokuskan dalam penulisan buku anak.
”Waktu itu suka cerita ke anak sebelum tidur. Penginnya anaknya didongengin pakai cerita sendiri. Mulailah belajar menulis buku anak,” kenangnya.
Menurutnya, menulis buku anak itu dirasa lebih sulit dibanding genre lainnya. Karena harus menceritakan isi secara utuh sesuai jenjang usia anak. Beberapa faktor juga harus disesuaikan.
”Lebih susah ya. Karena tidak boleh sara. Ada unsur kekerasan dan pemilihan kata harus tepat. Jadi seakan nulis untuk anak, jadi jangan memberikan persepsi yang salah pada anak. Jenis penulisannya pun lebih ke picture book. Jadi harus menyesuaikan dengan ilustrator juga,” imbuhnya.
Karya pertamanya pada 2012 yang langsung tembus ke penerbit mayor (Tiga Serangkai) dengan judul Akhlak Anak Muslim. Kemudian mulai memunculkan judul baru ‘Bon Bon si Hidung Tomat’ yang diluncurkan di PIP Jakarta. Karyanya itu ikut ditampilkan di book fair, Hanburg, Jerman.
Beberapa buku karyanya pun lolos dalam penilaian Puskurbuk dan dinilai layak untuk menjadi buku pengayaan atau pendampingan di sekolah. Bukunya pun bisa dicetak masal.
Ia mengaku buku karyanya hasil workshop room to read. Dihidangkan dalam literasi dan pendidikan. Tulisan yang saya tampilkan berjudul ‘Si Penjaga Sawah’. Buku ini di-translate dalam bahasa Hindi. Terinspirasi dari Grobogan. Karena pertanian di kabupaten ini sangat luas. Dirinya menulis tentang proses tumbuhnya padi, sawah dibajak sampai panen.
”Di-translate dalam bahasa Hindi karena hampir sama dengan kehidupan di India,” jelasnya.
Meski menjadi IRT, Lia Herlina ingin membuktikan jika ia berdaya. Di mana ibu rumah tangga juga bisa berkarya. Meski prestasinya selama tak tampak di wilayahnya sendiri.
”Karya-karya ini lebih dikenal di luar. Kalau di daerah sendiri malah jarang yang tahu,” ungkapnya. (*/zen)
Editor : Ali Mustofa