INDAH SUSANTI, Kudus
”Kayak bermain game. Ada joystick-nya yang bisa digerakkan ke kiri, kanan, depan dan belakang. Tapi, hasil yang saat ini masih butuh penyempurnaan. Nantinya ada tambahan untuk papan tempat makan dan minum yang bisa dilipat disisi samping kursi roda,” tutur Fikri Hanif Wijaya yang kini tinggal di Desa Getas Pejaten RT 03 RW II Kecamatan Jati, Kudus itu.
Hanif-sapannya, mengaku butuh waktu satu bulan untuk mengerjakan sebuah kursi. Itu sudah termasuk riset, mendesain, hingga menunggu komponennya datang. Alumnus Univeristas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta itu mengaku harus membeli spare part-nya dari luar negeri.
Untuk sebuah kursi, Hanif menghabiskan biaya sebesar Rp 18 juta. Hanif berencana menjualnya senilai Rp 25 juta dengan pasar rumah-rumah sakit.
”Kebanyakan memang dari China. Termasuk mekanik, muatan elektrik, baterai, dan hidrolisnya,” ungkapnya antusias.
Hanif menjelaskan, ia sebelumnya pernah melihat kursi roda elektrik saat mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Thailand pada 2019 lalu. Dia mengadopsi ide tersebut ke tanah air dengan sedikit dimodifikasi sendiri. Yakni ditambahkannya remot untuk mengatur tinggi rendahnya bangku kursi roda tersebut.
Meski begitu, dia mengaku kursi elektrik itu belum dilakukan uji coba secara detail untuk safety bagi penggunanya. Namun, Hanif yakin karyanya bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan. Apalagi, kursi itu juga dilengkapi dengan pemijat di bagian punggung. Dia membidik pasar rumah sakit untuk kursi roda elektriknya itu.
”Ya, kalau dari segi hitungan harga sekarang misalkan di jual masih tergolong mahal sekitar Rp 25 jutaan. Pengembangan lainnya nanti bisa dilipat. Tapi untuk sementara yang sudah jadi ini belum bisa dilipat,” ungkapnya.
Jarak tempuh kursi roda ini disebutnya hingga 15 kilometer dengan kondisi jalan lurus. Kursi ini juga mampu melewati polisi tidur. Dia yakin kursi ini sangat tepat untuk membantu kaum disabilitas di banyak aktivitas. (*) Editor : Saiful Anwar