RADAR KUDUS - Perubahan penampilan komedian Ery Makmur belakangan menjadi sorotan publik.
Dalam kurun waktu sekitar 10 bulan, ia berhasil memangkas berat badannya hingga 30 kilogram.
Di balik pencapaian tersebut, Ery mengungkap bahwa motivasi terbesarnya bukan untuk menunjang karier di dunia hiburan, melainkan ingin memiliki tubuh yang lebih sehat agar dapat menikmati lebih banyak waktu bersama anak-anaknya di masa depan.
Komitmennya menjalani gaya hidup sehat juga terlihat saat mengikuti Generali Lion Heart Run 2026. Bagi Ery, menjaga kesehatan bukan sekadar mengejar angka di timbangan, tetapi membangun kebiasaan yang bisa dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Transformasi fisiknya membuat banyak orang penasaran dengan metode diet yang dijalankannya.
Dalam sebuah video yang diunggah melalui akun Instagram influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, Ery akhirnya membagikan prinsip yang selama ini menjadi pegangan hingga berhasil menurunkan berat badan secara signifikan.
Menurut Ery, langkah pertama yang harus dibangun bukanlah memilih menu diet tertentu, melainkan mengubah cara berpikir.
Ia menilai pola hidup sehat merupakan komitmen jangka panjang yang harus dijalankan seumur hidup, bukan hanya selama proses menurunkan berat badan.
"Mindset-nya adalah mencari sehat. Pola hidup sehat harus dijalankan sampai mati karena tidak ada ujungnya. Pola hidup sehat sama seperti beribadah," kata Ery Makmur.
Dengan pola pikir tersebut, Ery mengaku tidak mengalami hambatan berarti selama menjalani proses penurunan berat badan.
Ia merasa lebih mudah menjaga konsistensi karena sejak awal sudah memahami tujuan utama yang ingin dicapai.
"Alhamdulillah, sampai sekarang aku tidak mengalami tantangan yang berat karena mindset-ku sudah matang," ucapnya.
Ery juga menepis anggapan bahwa ada makanan tertentu yang menjadi penyebab utama kegagalan diet.
Menurutnya, semua jenis makanan masih dapat dikonsumsi selama seseorang mampu mengatur jumlah kalori yang masuk dan menyesuaikannya dengan aktivitas fisik yang dilakukan.
"Tidak ada makanan yang jahat. Yang jahat adalah kitanya. Ketika kita tidak bijak terhadap calorie in, tidak bijak terhadap calorie out, itulah yang menyebabkan obesitas," tutur Ery.
Ia menjelaskan bahwa setelah menemukan kebutuhan kalori hariannya, dirinya mulai memahami pola makan yang paling sesuai untuk tubuhnya.
Karena itu, ia tidak lagi menerapkan pantangan makanan secara berlebihan, melainkan lebih fokus pada keseimbangan nutrisi.
Ery mengaku masih menikmati berbagai jenis makanan, termasuk ayam goreng.
Namun, ia mengatur porsinya dengan mengurangi jumlah nasi serta memastikan setiap kali makan terdapat sayuran, sumber protein, dan karbohidrat dalam komposisi yang seimbang.
"Apa saja boleh. Ayam goreng juga boleh, tapi nasiku hanya lima suap. Harus ada sayuran. Aku memegang prinsip yang diajarkan dokter gizi bahwa pola makan yang baik adalah menu seimbang, ada karbohidrat, protein, dan serat," katanya.
Melalui pengalamannya, Ery ingin menunjukkan bahwa keberhasilan menurunkan berat badan tidak selalu harus dilakukan dengan diet ekstrem maupun menghindari makanan favorit.
Menurutnya, perubahan pola pikir, disiplin mengatur asupan kalori, serta menerapkan pola makan bergizi seimbang menjadi fondasi utama untuk membangun gaya hidup sehat yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang. (Muthia)
Editor : Ali Mustofa