RADAR KUDUS - Di tengah arus dunia hiburan yang gemar mengukur kebahagiaan perempuan lewat status pernikahan, selebgram Fujianti Utami memilih berdiri di jalur yang lebih tenang. Ia tak menampik hasrat untuk menikah, bahkan menyebut tahun ini sebagai target ideal.
Namun di saat yang sama, Fuji juga jujur mengakui satu hal krusial: belum ada sosok yang benar-benar ia sebut sebagai calon pendamping hidup.
Pengakuan itu disampaikan Fuji secara lugas ketika ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bukan dengan nada terburu-buru, bukan pula dengan kesan tertekan.
Justru, yang tampak adalah sosok perempuan muda yang sedang berdamai dengan waktunya sendiri. “Rencananya sih tahun ini mau nikah,” ucap Fuji singkat, tanpa dramatisasi, tanpa klaim berlebihan.
Pernyataan itu sontak menarik perhatian publik, mengingat perjalanan asmara Fuji beberapa tahun terakhir tak selalu mulus.
Sejak hubungannya dengan Thariq Halilintar berakhir pada 2023, Fuji terbilang jarang membuka ruang bicara soal urusan hati. Ini menjadi momen langka ketika ia berbicara terbuka—namun tetap realistis.
Baca Juga: Takut Hadapi Prosedur Medis, Curhat Terakhir Lula Lahfah Jadi Pesan Perpisahan
Niat Ada, Calon Belum Datang
Kejujuran Fuji mencapai titik paling menarik ketika ia mengakui bahwa rencana tersebut belum memiliki fondasi paling dasar: pasangan.
Dengan nada santai diselingi tawa kecil, Fuji menyebut bahwa calon suami itu belum hadir dalam hidupnya.
Sebuah pernyataan sederhana, namun sarat makna di tengah budaya publik yang sering menuntut perempuan “cepat menikah”.
“Masalahnya calonnya belum ada,” ujar Fuji, jujur. Bahkan ia sempat melontarkan kemungkinan bahwa rencana itu bisa saja bergeser ke tahun depan. Bukan sebagai bentuk kegagalan, melainkan penyesuaian.
Di sinilah letak angle yang jarang diangkat: Fuji tidak sedang mengejar pernikahan, melainkan kesiapan.
Ia tidak terjebak dalam ambisi menikah demi memenuhi ekspektasi sosial. Ia memilih menunggu, tanpa mengeluh, tanpa merasa tertinggal.
Keluarga Tak Menekan, Ayah Pilih Percaya
Sikap dewasa Fuji rupanya juga mendapat dukungan penuh dari keluarga. Sang ayah, Faisal, yang berada di lokasi yang sama, tak menunjukkan gestur ikut campur. Ia memilih tersenyum, membiarkan putrinya menentukan sendiri arah hidupnya.
Faisal secara terbuka menyatakan tidak ingin menjodohkan Fuji. Ia percaya bahwa urusan pasangan hidup adalah keputusan personal yang tak bisa dipaksakan.
Sikap ini menjadi potret relasi orang tua-anak yang jarang terekspos di ruang publik: memberi ruang, bukan tekanan.
Dalam konteks sosial Indonesia, di mana perempuan kerap diburu pertanyaan “kapan nikah?”, sikap keluarga Fuji ini justru terasa progresif. Tidak ada target, tidak ada ultimatum, hanya kepercayaan.
Ingin Punya Pasangan, tapi Tak Mengejar
Fuji tak menampik bahwa ia ingin memiliki pasangan. Namun keinginan itu tidak berubah menjadi obsesi. Ia menggambarkan posisinya saat ini dengan jujur: ingin, tapi tidak sedang mengejar.
“Pengen sih punya pasangan, tapi kayak nggak niat nyari,” katanya. Kalimat ini menjadi kunci membaca fase hidup Fuji sekarang. Ia terbuka pada kemungkinan, namun tidak memaksakan semesta bekerja sesuai jadwalnya.
Jika ada yang mendekat, ia bersyukur. Jika tidak, ia memilih pasrah. Bukan pasrah yang putus asa, melainkan pasrah yang matang—menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Baca Juga: Tanpa Autopsi, Polisi Bertumpu pada Visum dan CCTV Ungkap Kematian Lula Lahfah
Antara Rencana Manusia dan Isyarat Waktu
Menariknya, Fuji juga menyebut adanya pertimbangan non-logis yang turut memengaruhi keputusannya.
Ia mengaku mendapat saran agar tidak terburu-buru, bahkan ada perhitungan waktu yang menyebut tiga tahun ke depan sebagai momen yang lebih baik.
Namun Fuji tak mengikatkan hidupnya sepenuhnya pada ramalan. Ia menutup pernyataannya dengan refleksi sederhana namun kuat: jika belum diberi oleh Tuhan, maka bersabar adalah pilihan paling masuk akal.
Pernyataan ini memperlihatkan perubahan besar dalam cara Fuji memandang hidup. Ia tidak lagi reaktif terhadap tekanan, tidak defensif terhadap pertanyaan publik, dan tidak menjadikan pernikahan sebagai validasi diri.
Fuji dan Narasi Baru tentang Perempuan Muda
Apa yang disampaikan Fuji sejatinya lebih dari sekadar kabar selebritas. Ini adalah potret perempuan muda yang sedang menyusun ulang definisi kebahagiaan. Menikah bukan tujuan tunggal. Bahagia tidak harus dibuktikan lewat status.
Di tengah sorotan kamera dan opini publik, Fuji memilih jujur pada dirinya sendiri. Ia tahu apa yang ia inginkan, tapi ia juga tahu kapan harus menunggu. Sebuah sikap yang terdengar sederhana, namun langka di dunia yang serba tergesa.
Editor : Mahendra Aditya