RADAR KUDUS - Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans tidak hanya mengaduk emosi pembaca, tetapi juga memicu reaksi fisik nyata.
Di media sosial, muncul gelombang kesaksian pembaca yang mengaku mual, pusing, sesak, hingga ingin muntah setelah menyelami memoar tersebut—terutama bagian yang mengungkap pengalaman grooming saat penulis masih remaja.
Fenomena ini sempat memunculkan perdebatan. Ada yang menganggapnya berlebihan, ada pula yang memilih berhenti membaca di tengah jalan demi menjaga kondisi diri. Namun, penjelasan medis menyebutkan: reaksi itu bukan dibuat-buat.
Ketika Otak Membaca sebagai Ancaman
Spesialis kedokteran jiwa, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa keluhan fisik saat membaca kisah traumatis erat kaitannya dengan trauma trigger. Pada individu tertentu—terutama yang pernah memiliki pengalaman serupa atau luka emosional yang belum pulih—otak tidak memproses cerita sebagai narasi orang lain.
Sebaliknya, otak menafsirkannya sebagai ancaman yang pernah nyata.
Dalam kondisi tersebut, amigdala, pusat alarm bahaya di otak, langsung aktif. Tubuh masuk mode bertahan hidup: fight, flight, atau freeze. Hormon stres seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan, memicu respons fisik yang sulit dikendalikan.
Akibatnya, muncul sensasi mual, pusing, jantung berdebar, napas pendek, kecemasan berlebihan, hingga perasaan tidak aman—padahal pemicunya “hanya” bacaan.
Tubuh Bereaksi Lebih Jujur dari Pikiran
Angle yang sering luput dari perbincangan publik adalah satu hal penting: tubuh sering kali lebih jujur daripada logika. Banyak pembaca merasa “baik-baik saja” secara sadar, namun tubuh mereka memberi sinyal bahaya.
Reaksi ini bukan tanda kelemahan, apalagi kurang mental. Justru, ini menunjukkan bahwa trauma tidak selalu tinggal di ingatan, tapi juga menetap di sistem saraf.
Dalam konteks ini, Broken Strings menjadi lebih dari sekadar buku. Ia berubah menjadi cermin yang memantulkan luka lama—bahkan pada pembaca yang tidak menyadari luka itu masih ada.
Viral karena Relevan, Bukan Sensasional
Ledakan respons di TikTok dan Instagram menunjukkan satu hal: isu grooming dan kekerasan relasional masih sangat dekat dengan kehidupan banyak orang. Buku ini menyentuh ruang batin yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Alih-alih sensasi, viralnya Broken Strings justru membuka diskusi baru: literasi trauma. Banyak orang baru memahami bahwa membaca konten berat pun bisa memicu reaksi biologis, bukan sekadar emosional.
Bukan Lebay, Bukan Kurang Iman
Dr. Lahargo menegaskan, reaksi tersebut bukan drama, bukan lemahnya iman, dan bukan kurang kuat mental. Ini adalah respons biologis dari trauma yang belum terselesaikan.
Narasi “harus kuat” atau “dipaksakan selesai” justru berbahaya. Dalam psikologi trauma, memaksa diri bertahan pada paparan yang menyakitkan dapat memperdalam luka.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Pembaca?
Saat tubuh mulai memberi sinyal tidak nyaman, langkah paling aman adalah berhenti sejenak. Bukan menyerah, melainkan memberi ruang aman bagi diri sendiri.
Beberapa langkah yang disarankan ahli jiwa antara lain:
-
Melakukan grounding: tarik napas perlahan dan sadari keberadaan tubuh
-
Menjeda konsumsi konten berat selama beberapa hari
-
Kembali ke aktivitas yang memberi rasa aman
-
Berbagi cerita dengan orang tepercaya
-
Jika gejala menetap atau memburuk, mencari bantuan profesional adalah pilihan bijak
Perlu dipahami, menjaga diri bukan bentuk kelemahan, melainkan kesadaran emosional.
Buku yang Membuka Luka, Sekaligus Kesadaran
Broken Strings mungkin tidak nyaman dibaca, tetapi justru di situlah kekuatannya. Buku ini tidak hanya menceritakan pengalaman pahit seorang publik figur, tetapi juga membongkar realitas bahwa trauma bisa hidup lama dalam tubuh banyak orang.
Reaksi fisik para pembaca menjadi bukti bahwa cerita personal bisa berdampak kolektif. Dan dalam dunia yang kerap menormalisasi luka, kesadaran ini menjadi langkah awal menuju pemulihan.
Editor : Mahendra Aditya