Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.091 per Dolar AS, Rating S&P dan Optimisme Ekonomi Jadi Penopang

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 14 Juli 2026 | 17:24 WIB
Ilustrasi uang rupiah
Ilustrasi uang rupiah

JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Selasa (14/7/2026) di zona positif meski tekanan dari pasar global masih cukup kuat. Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat.

Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup di Rp18.091 per dolar Amerika Serikat (AS) atau menguat 18 poin (0,10 persen) dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.109 per dolar AS.

Meski penguatannya relatif terbatas, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sentimen domestik masih mampu menopang stabilitas rupiah di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan global.

Pergerakan Rupiah Cenderung Fluktuatif

Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sempat menguat lebih besar sebelum akhirnya memangkas sebagian kenaikannya menjelang penutupan pasar.

Data Bloomberg mencatat kurs rupiah sempat menguat sekitar 25 poin sebelum berakhir di level Rp18.091 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan posisi rupiah berada di kisaran Rp18.088 per dolar AS, atau terapresiasi sekitar 12 poin (0,07 persen) dibanding perdagangan sebelumnya.

Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mencatat penguatan rupiah ke level Rp18.099 per dolar AS, naik 32 poin dari posisi sebelumnya di Rp18.131 per dolar AS.

Perbedaan angka tersebut merupakan hal yang lazim karena masing-masing penyedia data menggunakan metode penghitungan dan waktu pencatatan yang berbeda.

Ketegangan Timur Tengah Masih Jadi Faktor Utama

Pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Pemerintah Amerika Serikat kembali memperketat pengawasan terhadap aktivitas pelayaran yang berkaitan dengan Iran di kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Kawasan tersebut menjadi perhatian karena menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak global.

Di sisi lain, meningkatnya aksi militer di kawasan Teluk, termasuk laporan serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur maritim, memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi dunia.

Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah dunia kembali naik dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global sehingga memengaruhi pergerakan mata uang berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kebijakan The Fed Masih Menjadi Perhatian

Selain faktor geopolitik, investor juga mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat masih memberikan sinyal bahwa suku bunga dapat tetap berada pada level tinggi lebih lama apabila inflasi belum menunjukkan penurunan yang konsisten menuju target 2 persen.

Kebijakan suku bunga tinggi biasanya memperkuat dolar AS karena investor cenderung mengalihkan dana ke aset berdenominasi dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang karena dapat memicu arus keluar modal dari pasar keuangan domestik.

Rating Kredit Indonesia Jadi Penopang Kepercayaan Investor

Di tengah tekanan global, pasar memperoleh sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook Stabil.

Status tersebut menegaskan bahwa Indonesia masih berada dalam kategori investment grade, yang mencerminkan keyakinan lembaga pemeringkat terhadap fundamental ekonomi nasional.

S&P menilai sejumlah faktor menjadi penopang utama ekonomi Indonesia, antara lain:

Lembaga tersebut juga memperkirakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di kisaran 5 persen per tahun dalam beberapa tahun mendatang, meskipun menghadapi tantangan dari perlambatan ekonomi global.

Tantangan Masih Membayangi Pasar Keuangan

Meski memperoleh dukungan dari sisi fundamental, pasar keuangan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.

Selama semester pertama 2026, pasar saham domestik sempat mengalami tekanan cukup besar akibat tingginya ketidakpastian global. Selain itu, nilai tukar rupiah juga masih berada pada level yang relatif lemah dibandingkan awal tahun.

Faktor-faktor seperti perkembangan konflik geopolitik, volatilitas harga komoditas, arah kebijakan suku bunga global, hingga arus modal asing diperkirakan masih akan menjadi penentu utama pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

Prospek Perdagangan Berikutnya

Analis pasar memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya. Sentimen eksternal diperkirakan tetap mendominasi, terutama perkembangan situasi di Timur Tengah, pergerakan harga minyak mentah, serta rilis data ekonomi Amerika Serikat yang akan menjadi acuan arah kebijakan Federal Reserve.

Meski demikian, keberhasilan Indonesia mempertahankan peringkat kredit investment grade dan prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap positif menjadi faktor penting yang dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik. Apabila sentimen global mulai mereda, peluang penguatan rupiah secara bertahap masih terbuka, meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek.

Editor : Mahendra Aditya
kurs rupiah terhadap dolar nilai tukar rupiah 14 Juli 2026 S&P Indonesia BBB dolar AS hari ini Rupiah hari ini