JAKARTA – PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) mengungkap alasan di balik penurunan pendapatan yang terjadi selama tiga tahun terakhir. Manajemen menegaskan, penurunan tersebut merupakan konsekuensi dari strategi transformasi bisnis yang tengah dijalankan untuk menciptakan perusahaan hiburan yang lebih berkelanjutan dan tidak bergantung pada popularitas pendirinya.
Direktur Utama RANS, Nagita Slavina, menjelaskan bahwa perusahaan secara bertahap melakukan diversifikasi usaha dengan memperluas sumber pendapatan ke berbagai sektor baru, termasuk pengelolaan intellectual property (IP), penyelenggaraan event, bisnis berbasis teknologi, hingga pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Menurutnya, langkah tersebut memang berdampak pada struktur pendapatan dalam jangka pendek, tetapi diharapkan menghasilkan fondasi bisnis yang lebih kuat pada masa mendatang.
Pendapatan Terus Menurun Sejak 2023
Berdasarkan prospektus perusahaan menjelang pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan RANS mengalami penurunan bertahap.
Pada 2023, perusahaan membukukan pendapatan sekitar Rp437,81 miliar. Nilai tersebut turun menjadi Rp410,49 miliar pada 2024 dan kembali melemah menjadi Rp353,37 miliar sepanjang 2025.
Penurunan tersebut turut memengaruhi kinerja laba bersih perseroan.
Secara umum, laba perusahaan juga mengalami penyesuaian selama periode transformasi bisnis, seiring meningkatnya investasi pada pengembangan lini usaha baru dan perubahan strategi operasional.
Manajemen menilai kondisi tersebut merupakan bagian dari proses restrukturisasi agar perusahaan memiliki sumber pendapatan yang lebih beragam dan berkelanjutan.
Kurangi Ketergantungan pada Raffi Ahmad dan Nagita
Nagita Slavina menegaskan salah satu fokus utama transformasi adalah mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap figur Raffi Ahmad, dirinya, maupun anggota keluarga yang selama ini menjadi wajah utama berbagai aktivitas bisnis RANS.
Menurutnya, perusahaan ingin membangun model usaha yang tetap mampu berkembang meski tidak selalu bergantung pada aktivitas sebagai brand ambassador maupun popularitas pendiri.
Hasil dari strategi tersebut mulai terlihat pada komposisi pendapatan perusahaan.
Kontribusi pendapatan dari aktivitas brand ambassador yang sebelumnya mencapai sekitar 24 persen pada 2023 berhasil ditekan menjadi sekitar 14 persen pada 2025.
"Strategi ini kami lakukan agar risiko bisnis yang bergantung pada figur individu semakin kecil. Kami ingin RANS tetap tumbuh melalui produk, kekayaan intelektual, event, dan inovasi teknologi," ujar Nagita.
Baca Juga: IHSG Ditutup Naik ke Level 5.924, Saham Perbankan dan Energi Jadi Penopang Utama
Bisnis Non-Media Kini Jadi Penyumbang Terbesar
Transformasi tersebut juga mengubah struktur bisnis perusahaan.
Sepanjang 2025, segmen non-media justru menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan RANS dengan porsi sekitar 51,76 persen.
Artinya, perusahaan mulai memperoleh pemasukan lebih besar dari berbagai lini usaha baru dibandingkan bisnis media digital yang sebelumnya menjadi tulang punggung utama.
Strategi diversifikasi ini mencakup penyelenggaraan konser, pengembangan lisensi merek, bisnis kecantikan, kuliner, wahana hiburan keluarga, hingga pemanfaatan teknologi berbasis AI.
Dengan pendekatan tersebut, RANS berharap memiliki sumber pendapatan yang lebih stabil dan tidak bergantung pada satu sektor usaha saja.
Dana IPO Dorong Akselerasi Ekspansi
Transformasi bisnis RANS diperkuat melalui pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia.
Melalui penawaran umum perdana saham (IPO), perusahaan berhasil menghimpun dana sekitar Rp429,25 miliar.
Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk mempercepat ekspansi bisnis, termasuk penyelenggaraan konser, akuisisi perusahaan kosmetik, pengembangan wahana edukasi keluarga Cipungland, investasi pada perusahaan berbasis kecerdasan buatan, pelunasan sebagian pinjaman, serta penambahan modal kerja.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa RANS tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang lebih luas melalui diversifikasi investasi.
Saham RANS Disambut Positif Pasar
Meski laporan keuangan menunjukkan penurunan pendapatan dalam beberapa tahun terakhir, respons investor terhadap IPO RANS tetap positif.
Pada hari pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia, saham RANS sempat menyentuh Auto Reject Atas (ARA) setelah melonjak lebih dari 34 persen dibanding harga penawaran perdana.
Antusiasme tersebut mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek jangka panjang perusahaan, terutama setelah RANS memperkenalkan strategi baru yang berfokus pada pengembangan ekosistem hiburan berbasis IP, event, dan teknologi digital.
Ke depan, manajemen berharap transformasi yang sedang berlangsung dapat meningkatkan kualitas pendapatan sekaligus memperkuat posisi RANS sebagai salah satu perusahaan hiburan terintegrasi terbesar di Indonesia.
Editor : Mahendra Aditya