Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Rupiah Dibuka di Level Rp17.941 per Dolar AS, Prospek Masih Dibayangi Sejumlah Sentimen

Ali Mustofa • Jumat, 3 Juli 2026 | 10:27 WIB
Ilustrasi uang Dolar Amerika dan Rupiah. (Dok/JawaPos.com)
Ilustrasi uang Dolar Amerika dan Rupiah. (Dok/JawaPos.com)

RADAR KUDUS – Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih dibayangi tekanan pada perdagangan Jumat (3/7/2026).

Berbagai sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri, dinilai masih menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang Garuda, mulai dari melemahnya sektor manufaktur nasional hingga perhatian investor terhadap perkembangan ekonomi Amerika Serikat.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS.

Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (2/7/2026), rupiah ditutup melemah ke posisi Rp17.995 per dolar AS setelah mayoritas mata uang di kawasan Asia juga bergerak di bawah tekanan.

Meski demikian, pada awal perdagangan Jumat pagi rupiah justru dibuka menguat.

Hingga sekitar pukul 09.05 WIB, mata uang Indonesia naik sekitar 42 poin atau 0,23 persen ke level Rp17.941 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat turun tipis 0,03 persen ke posisi 100,83.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang juga bervariasi. Yuan China, yen Jepang, won Korea Selatan, dolar Singapura, dan baht Thailand tercatat menguat terhadap dolar AS. Sebaliknya, dolar Hong Kong dan dolar Taiwan mengalami pelemahan tipis.

Menurut Ibrahim, salah satu sentimen eksternal yang masih diperhatikan pelaku pasar adalah perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.

Pembicaraan tidak langsung yang difasilitasi Qatar di Doha disebut menunjukkan kemajuan positif, terutama terkait keamanan Selat Hormuz dan pembahasan pencairan dana milik Iran.

Selain isu geopolitik, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga menjadi perhatian utama investor.

Berdasarkan proyeksi pasar yang tercermin dalam CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September diperkirakan masih cukup besar.

Dari sisi ekonomi AS, laporan terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta belum memenuhi ekspektasi.

Data ADP mencatat penambahan tenaga kerja sebanyak 98.000 orang sepanjang Juni, lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 113.000 orang.

Sementara itu, indeks manufaktur ISM juga mengalami penurunan menjadi 53,3 dari sebelumnya 54,0.

Fokus pasar kini tertuju pada rilis data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang diperkirakan menunjukkan tambahan sekitar 110.000 lapangan kerja selama Juni. Tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di kisaran 4,3 persen.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai kepercayaan investor terhadap Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.

Berbagai faktor seperti kasus korupsi bernilai besar, meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, defisit neraca perdagangan pada Mei, kenaikan inflasi, hingga tertundanya pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI menjadi sentimen yang membebani pasar.

Tekanan juga datang dari sektor manufaktur. Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026.

Angka tersebut menjadi kontraksi terdalam dalam setahun akibat melemahnya permintaan baru yang berdampak pada penurunan aktivitas produksi.

Di sisi lain, Fitch Ratings memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu menutup sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan.

Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan median negara dengan peringkat BBB yang berada di kisaran lima bulan.

Penurunan cadangan devisa dipengaruhi oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.

Sementara itu, dolar Amerika Serikat sempat mengalami pelemahan setelah data ketenagakerjaan resmi dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan penciptaan lapangan kerja baru pada Juni hanya mencapai 57.000, jauh di bawah proyeksi pasar sebesar 110.000.

Kendati tingkat pengangguran turun menjadi 4,2 persen, data tersebut mendorong indeks dolar AS melemah sekitar 0,6 persen ke level 100,81. Di saat yang sama, mata uang euro menguat sekitar 0,6 persen ke posisi 1,1438 dolar AS.

 

Editor : Ali Mustofa
#Dolar AS #nilai tukar rupiah #perdagangan #sektor manufaktur