Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Inflasi Juni 2026 Naik ke 3,34 Persen, BI Pastikan Efek Kenaikan BBM Nonsubsidi Tak Ganggu Stabilitas Harga

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 2 Juli 2026 | 16:39 WIB
Ilustrasi Uang
Ilustrasi Uang

JAKARTA – Laju inflasi Indonesia kembali meningkat pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 3,34 persen, lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 3,08 persen. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi penyesuaian harga BBM nonsubsidi, tarif transportasi, serta sejumlah komoditas pangan.

Meski inflasi semakin mendekati batas atas target nasional, Bank Indonesia (BI) menegaskan kondisi tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen. Bank sentral optimistis stabilitas harga tetap terjaga melalui koordinasi kebijakan moneter dan pengendalian inflasi bersama pemerintah.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan inflasi yang terjadi saat ini masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan.

Menurutnya, konsistensi kebijakan moneter serta sinergi antara BI dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) menjadi faktor utama yang menjaga inflasi tetap terkendali.

Selain itu, implementasi berbagai program ketahanan pangan dinilai mampu menahan tekanan harga dari sektor pangan yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama inflasi nasional.

Baca Juga: BBM Nonsubsidi Turun Mulai 1 Juli 2026, Kenapa Harga Pertamax Masih Bertahan? Ini Alasannya

BBM Nonsubsidi Jadi Pemicu Terbesar Kenaikan Inflasi

Berdasarkan data BPS, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan pada Juni 2026.

Kelompok ini mengalami inflasi 2,29 persen dengan kontribusi mencapai 0,28 persen terhadap inflasi nasional.

Tiga komoditas yang memberikan pengaruh terbesar meliputi:

Lonjakan tersebut terjadi setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan sejumlah badan usaha penyedia BBM mengikuti kenaikan harga minyak mentah dunia. Selain itu, meningkatnya harga avtur juga mendorong kenaikan tarif penerbangan domestik.

Akibatnya, kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 1,41 persen secara bulanan, jauh lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,52 persen.

Secara tahunan, kelompok administered prices bahkan melonjak menjadi 3,42 persen, naik signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 2,07 persen.

Harga Pangan Masih Memberikan Tekanan

Selain sektor energi, tekanan inflasi juga datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 0,20 persen dengan kontribusi 0,06 persen terhadap inflasi nasional.

Komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga antara lain:

Kenaikan harga dipicu oleh berakhirnya musim panen raya di sejumlah daerah sentra produksi, penurunan pasokan, hingga meningkatnya biaya distribusi.

Baca Juga: Setelah PHK Massal demi AI, Ford hingga IBM Ubah Strategi Perekrutan

Meski demikian, kelompok volatile food hanya mengalami inflasi 0,14 persen secara bulanan, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,22 persen.

Secara tahunan, inflasi volatile food turun menjadi 5,58 persen, dari sebelumnya 6,24 persen, menandakan tekanan harga pangan mulai menunjukkan tren perlambatan.

Bank Indonesia meyakini inflasi pangan akan semakin terkendali melalui pelaksanaan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), operasi pasar, serta penguatan distribusi pangan di berbagai daerah.

Inflasi Inti Masih Menunjukkan Permintaan Domestik Stabil

Sementara itu, indikator yang menjadi perhatian utama bank sentral yakni inflasi inti, masih menunjukkan kondisi ekonomi domestik yang relatif sehat.

Inflasi inti pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,23 persen secara bulanan, sedikit lebih tinggi dibandingkan Mei yang mencapai 0,22 persen.

Sedangkan secara tahunan, inflasi inti berada di level 2,76 persen, naik dari 2,59 persen pada bulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya harga komoditas global dibandingkan lonjakan permintaan masyarakat.

Dengan kata lain, tekanan inflasi belum berasal dari sisi konsumsi domestik yang berlebihan.

Baca Juga: Seleksi Mandiri UNS Batch 2 Dibuka, Cek Jadwal, Biaya, Syarat, dan Dua Prodi yang Masih Tersedia

Pemerintah Nilai Tekanan Inflasi Bersifat Sementara

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kenaikan inflasi kali ini lebih banyak dipicu faktor musiman dan fluktuasi harga energi.

Menurutnya, ketika harga minyak dunia mulai mengalami penurunan, maka harga BBM nonsubsidi juga berpotensi ikut menyesuaikan sehingga tekanan inflasi akan berangsur mereda.

Ia menjelaskan bahwa komoditas seperti cabai, bawang, hingga harga energi memang memiliki karakteristik yang mudah berubah mengikuti kondisi pasokan maupun perkembangan pasar global.

Karena itu, pemerintah memperkirakan tekanan inflasi saat ini tidak akan berlangsung lama.

Purbaya juga menegaskan inflasi inti yang masih berada di level 2,76 persen menunjukkan daya beli masyarakat masih stabil dan belum terjadi lonjakan permintaan yang berlebihan.

Dengan kondisi tersebut, kenaikan inflasi lebih mencerminkan gangguan sementara pada sisi pasokan dibandingkan peningkatan konsumsi.

BI Optimistis Inflasi Tetap Sesuai Target Hingga 2027

Bank Indonesia tetap mempertahankan proyeksi bahwa inflasi Indonesia akan berada dalam sasaran 2,5±1 persen sepanjang 2026 hingga 2027.

Optimisme tersebut didukung oleh kombinasi kebijakan moneter yang terukur, koordinasi erat bersama pemerintah melalui TPIP dan TPID, serta berbagai langkah menjaga pasokan dan kelancaran distribusi pangan nasional.

Selama tekanan harga energi global tidak kembali melonjak tajam dan produksi pangan tetap terjaga, BI menilai inflasi Indonesia akan kembali bergerak lebih stabil dalam beberapa bulan mendatang meski saat ini terdorong oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan komoditas pangan musiman.

Editor : Mahendra Aditya
#inflasi Juni 2026 #data inflasi BPS #bank indonesia #inflasi indonesia #harga bbm nonsubsidi