Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

UPDATE! Rupiah Tekor Rp18.000 per Dolar AS, Ini Dampaknya

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 4 Juni 2026 | 07:38 WIB
Ilustrasi Uang
Ilustrasi Uang

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi, mata uang Garuda menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, sebuah posisi yang selama ini dianggap sebagai batas penting dalam pergerakan kurs.

Data pasar menunjukkan rupiah bergerak melewati angka Rp18.000 per dolar AS dan sempat menyentuh level Rp18.013 dalam 24 jam terakhir. Kondisi tersebut menandai pelemahan lanjutan setelah sehari sebelumnya rupiah ditutup di kisaran Rp17.966 per dolar AS.

Menembusnya level Rp18.000 bukan sekadar angka statistik. Bagi pelaku pasar, dunia usaha, hingga pemerintah, posisi tersebut menjadi sinyal meningkatnya tekanan terhadap perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibanding kondisi fundamental domestik. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama yang membuat investor global mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Ketidakpastian hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian pasar. Negosiasi yang belum menunjukkan titik temu serta meningkatnya eskalasi konflik membuat harga energi global berpotensi naik. Situasi tersebut mendorong penguatan dolar sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menilai perkembangan terbaru konflik AS-Iran menjadi faktor dominan yang membebani rupiah. Ketika harga minyak mentah dunia meningkat akibat ketegangan geopolitik, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman.

“Pasar masih fokus pada perkembangan konflik AS dan Iran. Ketidakpastian tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan memperkuat posisi dolar AS,” ujarnya.

Sementara itu, analis mata uang Ibrahim Assuaibi juga melihat kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global sebagai faktor yang memperburuk sentimen pasar. Investor masih menunggu kepastian arah hubungan kedua negara yang hingga kini belum menunjukkan perkembangan signifikan menuju perdamaian.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, pemerintah menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kebijakan fiskal yang bermasalah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pelemahan kurs terjadi karena pengelolaan anggaran negara yang tidak terkendali.

Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia justru menunjukkan perbaikan dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan penerimaan pajak pada 2026 disebut menjadi indikator bahwa reformasi perpajakan yang dijalankan pemerintah mulai memberikan hasil positif terhadap penerimaan negara.

Purbaya menegaskan bahwa berbagai tudingan yang menyebut kebijakan fiskal pemerintah menjadi penyebab utama pelemahan rupiah tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya terjadi.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut apabila ketidakpastian global belum mereda. Selain faktor geopolitik, pasar juga terus mencermati arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, pergerakan harga minyak dunia, serta arus modal asing yang sangat memengaruhi stabilitas nilai tukar.

Bagi dunia usaha, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang modal. Sementara bagi masyarakat, dampaknya dapat dirasakan melalui kenaikan harga sejumlah komoditas yang bergantung pada impor atau terpengaruh fluktuasi kurs.

Kini perhatian pasar tertuju pada langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam dan mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan pagi. Konflik global, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar memicu tekanan baru terhadap ekonomi Indonesia.

Editor : Mahendra Aditya
#kurs dolar hari ini #rupiah tembus 18000 #rupiah terhadap dolar AS #ekonomi indonesia 2026 #nilai tukar rupiah