RADAR KUDUS – Sektor pertanian dan pangan menjadi pilar krusial bagi ketahanan nasional di tengah guncangan gejolak ekonomi global serta tren depresiasi nilai tukar rupiah yang melanda dalam beberapa pekan terakhir.
Menanggapi situasi pelik ini, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, memberikan pandangan optimis mengenai kondisi riil pasokan pangan domestik yang diklaim masih berada pada zona aman jika dibandingkan dengan stabilitas banyak negara lain.
Pernyataan tersebut disampaikan secara resmi oleh Wamentan dalam agenda Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi IV DPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (19/5/2026).
Sudaryono tidak menampik adanya dinamika kenaikan harga sejumlah komoditas di pasar domestik sebagai imbas dari tekanan ekonomi global.
Namun, menurutnya, ada variabel yang jauh lebih prinsipil dan wajib dijaga kelancarannya oleh negara, yakni jaminan ketersediaan fisik dari komoditas pangan itu sendiri di tengah masyarakat.
"Di tengah kondisi krisis saat ini, saat dunia sedang tidak baik-baik saja, Alhamdulillah Indonesia dalam keadaan yang cukup baik-baik saja.
Terlepas dari adanya pergerakan harga yang sedang naik, poin fundamental yang perlu kita syukuri adalah masalah ketersediaan.
Saat ini, seluruh kebutuhan dasar pangan masyarakat kondisinya masih tersedia secara nyata di lapangan," ujar Sudaryono di hadapan anggota legislatif.
Ia menambahkan bahwa kelangkaan stok fisik jauh lebih berbahaya bagi stabilitas sosial-ekonomi suatu bangsa ketimbang fluktuasi harga yang masih dapat diredam melalui instrumen operasi pasar dan subsidi pemerintah.
Dalam paparannya, Wamentan turut membagikan nota telegrafis penting yang diterima langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dari hasil analisis salah satu badan agensi pangan terkemuka asal Amerika Serikat (AS).
Laporan intelijen pangan global itu memperingatkan adanya risiko tinggi dunia akan dilanda bencana kelaparan masal tahun ini, yang dipicu secara ekstrem oleh kombinasi krisis geopolitik berkepanjangan serta anomali iklim global.
"Ada analis dari AS yang melaporkan hal tersebut kepada Bapak Presiden, dan beliau langsung meneruskannya kepada kami di kementerian.
Oleh karena itu, penguatan cadangan beras nasional saat ini menjadi agenda yang sangat krusial.
Ketersediaan pangan Indonesia kini memegang peranan yang sangat penting sebagai perisai dari efek domino krisis global tersebut," lanjutnya.
Baca Juga: Viral Main Game saat Rapat Paripurna, Anggota DPRD Jember Mengaku Lupa Beri Makan Sapi Virtual
Kementerian Pertanian bersama Perum Bulog kini terus melakukan langkah-langkah mitigasi guna memastikan pasokan beras nasional tidak terganggu oleh penurunan daya beli akibat pelemahan mata uang.
Fokus utama difokuskan pada optimalisasi penyerapan hasil panen dari petani lokal serta perluasan program cetak sawah mandiri.
Pemerintah optimistis, dengan fundamental stok pangan kering dan beras yang melimpah, Indonesia memiliki daya tahan atau bantalan sosial yang kuat untuk melewati fase ketidakpastian moneter global tanpa harus mengorbankan stabilitas konsumsi dasar ratusan juta rakyatnya. (*)