Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Guncangan Geopolitik: Rupiah Tembus Rp17.508 per Dolar AS, Rekor Terlemah dalam Sejarah Indonesia

Ghina Nailal Husna • Selasa, 12 Mei 2026 | 13:12 WIB
Rupiah Tembus Rp17.508 per Dolar AS, Rekor Terlemah dalam Sejarah Indonesia
Rupiah Tembus Rp17.508 per Dolar AS, Rekor Terlemah dalam Sejarah Indonesia

 

RADAR KUDUS – Pasar keuangan Indonesia hari ini dihantam badai depresiasi yang cukup hebat.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) secara mengejutkan menembus level psikologis baru, yakni Rp17.508/USD pada perdagangan Selasa (12/5/2026).

Angka ini tercatat sebagai posisi nilai tukar terlemah rupiah sepanjang sejarah Republik Indonesia, melampaui titik terendah saat krisis moneter 1998 dan masa pandemi lalu.

Baca Juga: Biaya Penindakan Mahal, Ketua KPK: Negara Bahkan Harus Tanggung Makan dan Baju Koruptor

Pelemahan tajam ini tidak terjadi di ruang hampa. Kombinasi antara kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang agresif dan memanasnya temperatur konflik di Timur Tengah menjadi motor utama yang menekan mata uang Garuda ke zona merah.

Pemicu utama kepanikan pasar global adalah pernyataan terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dalam keterangan resminya, Trump menyebut bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran kini berada di "ambang kehancuran total".

Situasi ini memburuk setelah Teheran secara resmi menolak sejumlah usulan krusial dari Washington terkait mekanisme penghentian konflik. Iran justru mempertegas posisi tawar mereka dengan menuntut tiga hal utama:

  1. Penghentian total seluruh operasi pertempuran.

  2. Pencabutan blokade laut yang menghambat jalur logistik.

  3. Pemulihan hak ekspor minyak tanpa hambatan sanksi.

Iran juga mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap serangan lanjutan ke wilayah kedaulatannya akan dibalas dengan respons militer yang jauh lebih destruktif.

Ketegangan geopolitik ini berdampak instan pada pasar komoditas. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan melonjak drastis lebih dari 3% hingga melewati angka US$104 per barel.

Lonjakan ini dipicu oleh gangguan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur arteri paling vital bagi pasokan energi dunia.

Kekhawatiran akan terhentinya pasokan minyak global membuat investor berbondong-bondong mengalihkan aset mereka ke mata uang safe haven seperti dolar AS, yang secara otomatis memperlemah mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Menambah beban bagi pasar keuangan, Pemerintah Amerika Serikat baru saja menjatuhkan sanksi baru terhadap entitas-entitas yang dianggap memfasilitasi ekspor minyak Iran ke China.

Baca Juga: Kontroversi LCC Empat Pilar MPR RI: Jawaban Identik, Skor Berbeda, Netizen Pertanyakan Integritas Juri

Langkah ini semakin memicu ketidakpastian di pasar Asia, mengingat China adalah mitra dagang utama bagi banyak negara di kawasan tersebut, termasuk Indonesia.

Kenaikan indeks dolar AS yang terus menguat membuat Bank Indonesia kini berada dalam tekanan untuk segera melakukan langkah intervensi guna menstabilkan volatilitas rupiah.

Analis pasar modal memperingatkan bahwa jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda, tekanan terhadap rupiah diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Krisis Geopolitik 2026 #harga minyak dunia #konflik iran #donald trump #kurs rupiah