RADAR KUDUS – Pasar keuangan domestik kembali diguncang oleh tekanan hebat pada perdagangan Selasa pagi.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan terus merosot hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.412.
Angka ini tercatat sebagai titik terendah mata uang Garuda sepanjang sejarah, melampaui rekor-rekor pelemahan sebelumnya.
Baca Juga: Investasi Menggeliat, Pertumbuhan Ekonomi Jateng Melesat 5,89%
Kondisi ini mencerminkan betapa kuatnya sentimen negatif global yang menghantam mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang kian dinamis.
Mengutip data dari Bloomberg, pelemahan rupiah terjadi secara bertahap sejak pembukaan pasar. Pada awal sesi pukul 09.00 WIB, rupiah sebenarnya sempat menunjukkan upaya perlawanan dengan bergerak stagnan di kisaran Rp17.363 per dolar AS.
Namun, tekanan jual yang masif membuat mata uang domestik tidak mampu bertahan lama di zona tersebut.
Memasuki pukul 09.52 WIB, rupiah tercatat terjun bebas dengan penurunan sekitar 18 poin atau setara dengan 0,10 persen.
Tren penurunan ini menunjukkan bahwa pasar masih merespons negatif berbagai faktor eksternal, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral AS hingga fluktuasi harga komoditas global yang belum stabil.
Dampak dari terpuruknya nilai tukar rupiah segera merembet ke pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah dan langsung terjebak di zona merah pada awal perdagangan.
Berdasarkan data dari platform Stockbit, IHSG tergerus ke level 6.951, atau mengalami koreksi sekitar 0,15 persen.
Pelemahan indeks ini sejalan dengan sikap investor yang cenderung berhati-hati (wait and see).
Para pelaku pasar mulai mengkhawatirkan dampak jangka panjang dari pelemahan kurs terhadap kinerja emiten, terutama bagi perusahaan yang memiliki eksposur utang valas tinggi atau ketergantungan besar pada bahan baku impor.
Analis pasar uang menilai bahwa pergerakan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) yang terus menunjukkan keperkasaan terhadap mata uang utama dunia lainnya.
Baca Juga: Perkuat Pendidikan melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)
Selain itu, adanya aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar obligasi dalam negeri turut memperberat langkah rupiah untuk bangkit.
Di sisi lain, otoritas moneter yakni Bank Indonesia (BI) diharapkan terus melakukan langkah-langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing maupun pasar surat berharga negara (SBN) guna meredam volatilitas yang terlalu tajam.
Masyarakat dan pelaku usaha kini diimbau untuk mewaspadai potensi kenaikan harga barang dan jasa akibat kenaikan biaya impor (imported inflation) jika tren pelemahan ini terus berlanjut hingga akhir kuartal. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna