RADAR KUDUS - Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026). Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda melemah sekitar 20 poin atau 0,12 persen ke level Rp17.346 per dolar Amerika Serikat. Tekanan ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu eskalasi konflik geopolitik.
Sentimen negatif terutama datang dari kebijakan Amerika Serikat yang mengisyaratkan perpanjangan blokade angkatan laut terhadap Iran. Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar akan potensi konflik terbuka yang lebih luas, termasuk kemungkinan gangguan distribusi energi global.
Data dari Bank Indonesia menunjukkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga ikut melemah ke Rp17.378 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di kisaran Rp17.324. Pelemahan ini menandakan tekanan tidak hanya terjadi di pasar spot, tetapi juga pada indikator resmi perbankan.
Analis pasar menilai, salah satu risiko terbesar berasal dari potensi penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan hampir seperlima pasokan minyak dunia. Jika jalur ini benar-benar terganggu, maka harga energi global berpotensi melonjak tajam, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi di banyak negara, termasuk Indonesia.
Situasi ini diperburuk oleh laporan bahwa pelaku industri minyak di AS telah melakukan pertemuan dengan Donald Trump untuk membahas dampak konflik terhadap stabilitas energi domestik. Hal ini mengindikasikan bahwa risiko ekonomi dari konflik tersebut sudah menjadi perhatian serius di level kebijakan tinggi.
Selain faktor eksternal, dinamika internal AS juga turut memengaruhi sentimen pasar. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, memberi sinyal adanya potensi perubahan kepemimpinan dan meningkatnya tekanan politik terhadap independensi bank sentral. Ketidakpastian ini menambah volatilitas di pasar keuangan global.
Hingga kini, upaya diplomasi terkait isu nuklir antara AS dan Iran masih belum menunjukkan kemajuan berarti. Meskipun sempat ada indikasi de-eskalasi, kedua pihak belum kembali ke meja perundingan secara formal. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dan memilih aset safe haven seperti dolar AS.
Para ekonom menilai pelemahan rupiah dalam situasi ini merupakan refleksi dari sentimen global, bukan semata faktor domestik. Namun demikian, stabilitas makroekonomi Indonesia yang relatif terjaga, termasuk cadangan devisa dan kebijakan moneter yang adaptif, diharapkan mampu menahan tekanan lebih dalam terhadap mata uang nasional.
Ke depan, arah pergerakan rupiah masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Jika ketegangan terus meningkat dan pasokan energi terganggu, maka tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpotensi berlanjut.
Editor : Mahendra Aditya