Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Imbas Krisis Selat Hormuz: IPF Proyeksi Harga Kemasan Minyak Goreng dan Beras Bakal Meroket 40 Persen

Ghina Nailal Husna • Senin, 6 April 2026 | 12:17 WIB
Ilustrasi minyak goreng kemasan
Ilustrasi minyak goreng kemasan

 

RADAR KUDUS – Rantai pasok global yang kian terjepit akibat eskalasi konflik di Timur Tengah mulai memberikan dampak domino yang nyata terhadap industri manufaktur di tanah air.

Indonesia Packaging Federation (IPF) memberikan peringatan keras bahwa harga kemasan fleksibel untuk kebutuhan pokok, seperti minyak goreng dan beras, berpotensi mengalami kenaikan signifikan hingga 40 persen.

Kenaikan ini merupakan buntut dari meroketnya harga bahan baku plastik global yang dipicu oleh gangguan logistik dan produksi di jalur perdagangan vital dunia.

Baca Juga: Sering Salah Sasaran: Dinas PUPR Jateng Ungkap Kendala Aduan Jalan Rusak Akibat Kerancuan Kewenangan

Direktur Eksekutif IPF, Henky Wibawa, memaparkan hitung-hitungan matematis di balik proyeksi kenaikan harga kemasan tersebut. 

Menurutnya, biaya bahan baku memegang porsi yang sangat dominan dalam struktur biaya produksi kemasan, yakni berkisar antara 50 hingga 70 persen dari total biaya produksi.

Dengan kondisi perang yang memicu penutupan Selat Hormuz, harga bahan baku polimer dan petrokimia telah melonjak minimal 80 persen. 

"Jika porsi bahan baku adalah 50 persen dari total biaya, dan harga baku naik 80 persen, maka kenaikan harga jual kemasan setidaknya mencapai 50% x 80% = 40%," jelas Henky kepada media pada Kamis (2/4/2026).

Angka 40 persen ini merupakan estimasi moderat yang harus ditanggung oleh industri, yang pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen akhir di rak-rak supermarket.

Situasi saat ini telah mencapai level kritis. Henky mengungkapkan bahwa sejumlah pabrik polimer dan petrokimia besar di kawasan Asia Tenggara, Taiwan, China, hingga Korea Selatan telah mendeklarasikan status Force Majeure atau kondisi kahar.

Masalah utama terletak pada pasokan naphtha, komponen kunci dalam produksi plastik.

Kelangkaan pasokan memaksa para produsen global untuk menurunkan tingkat operasi pada fasilitas naphtha cracker dan pengolahan polimer hilir mereka.

 Terhentinya aliran minyak dan gas dari Timur Tengah membuat volatilitas harga bahan baku menjadi tidak terkendali dalam beberapa minggu terakhir.

Menghadapi tantangan berat ini, IPF mendorong adanya kolaborasi erat antara produsen kemasan dan pemilik merek (brand owners).

Produsen kini berada di persimpangan jalan yang sulit: menaikkan harga jual secara drastis atau mengorbankan margin keuntungan demi menjaga keberlangsungan pasar.

Baca Juga: Terganggu Dentuman Sound Horeg, Wisatawan Asal Rusia Terlibat Keributan dan Diduga Aniaya Warga di Banyuwangi

"Perlu ada inovasi bersama. Pemilik merek harus menghitung elastisitas permintaan konsumen. Jika harga produk jadi naik terlalu tinggi karena kemasannya mahal, daya beli masyarakat bisa terganggu," tambah Henky.

Henky juga tidak menutup kemungkinan bahwa harga kemasan plastik akan terus merangkak naik jika ketegangan geopolitik di Selat Hormuz tidak segera mereda.

Pasokan global yang semakin ketat diprediksi akan menciptakan ketidakpastian harga yang lebih ekstrem dalam waktu dekat, yang secara langsung mengancam stabilitas harga pangan yang menggunakan kemasan plastik di Indonesia. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Inflasi Pangan #bahan baku plastik #IPF #Harga Kemasan #selat hormuz