Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bitcoin Ditekan Konflik Global, Sinyal “Fear Ekstrem” Justru Buka Peluang Besar?

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 24 Maret 2026 | 08:49 WIB
Ilustrasi bitcoin
Ilustrasi bitcoin

RADAR KUDUS - Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah turun ke kisaran 69.200 dollar AS. 

Penurunan ini bukan semata faktor teknikal, melainkan kombinasi kuat antara ketegangan geopolitik global dan perubahan perilaku investor di pasar derivatif kripto.

Salah satu pemicu utama adalah langkah tegas Donald Trump yang memberikan ultimatum kepada Iran terkait pembukaan Selat Hormuz.

Jalur ini dikenal sebagai titik vital distribusi energi dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas di wilayah tersebut.

Ancaman konflik di kawasan Timur Tengah langsung berdampak pada berbagai aset berisiko, termasuk kripto.

Ketidakpastian global membuat investor cenderung menahan risiko, bahkan menarik sebagian modal dari pasar.


Lonjakan “Fear” Investor: Data Opsi Bicara

Di balik tekanan harga, data dari VanEck justru menunjukkan fenomena menarik.

Permintaan terhadap opsi jual (put options) melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Investor tercatat menggelontorkan sekitar 685 juta dollar AS untuk membeli proteksi terhadap potensi penurunan harga. Sebaliknya, minat terhadap opsi beli (call options) justru melemah.

Kondisi ini mencerminkan satu hal: pasar sedang berada dalam fase ketakutan ekstrem (extreme fear).

Rasio put/call bahkan menyentuh level tertinggi sejak 2021—periode ketika pasar kripto diguncang kebijakan keras China terhadap aktivitas mining.

Dalam konteks pasar, rasio ini sering digunakan sebagai indikator sentimen: semakin tinggi, semakin besar kekhawatiran investor terhadap penurunan harga.


Paradoks Pasar: Ketakutan Tinggi, Potensi Naik Menguat

Meski terlihat negatif, data historis justru menunjukkan hal sebaliknya. Dalam laporan VanEck, periode dengan indikator ketakutan ekstrem kerap menjadi titik awal pemulihan harga.

Rata-rata, Bitcoin mengalami:

Artinya, lonjakan permintaan lindung nilai bukan selalu sinyal bearish berkepanjangan, melainkan bisa menjadi tanda bahwa pasar mendekati fase “kapitulasi”—momen ketika tekanan jual mulai mereda.

Dalam bahasa sederhana: saat mayoritas investor takut, peluang justru mulai terbuka.


Likuidasi Besar Percepat Penurunan Harga

Penurunan harga Bitcoin juga diperparah oleh likuidasi besar di pasar derivatif. Tercatat sekitar 299 juta dollar AS posisi perdagangan terpaksa ditutup karena pergerakan harga yang berlawanan.

Likuidasi ini biasanya terjadi pada posisi leverage tinggi. Ketika harga bergerak cepat, sistem otomatis menutup posisi untuk mencegah kerugian lebih besar. Efeknya? Tekanan jual makin deras dan mempercepat penurunan harga.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa pasar kripto masih sangat sensitif terhadap shock eksternal, terutama yang berasal dari geopolitik dan kebijakan global.


Aktivitas On-Chain Lesu, Tapi Tekanan Miner Terkendali

Di sisi fundamental, aktivitas jaringan Bitcoin masih belum menunjukkan pemulihan signifikan. Volume transaksi on-chain relatif rendah, mencerminkan minimnya partisipasi aktif dari pengguna.

Namun ada kabar baik: tekanan jual dari para penambang (miners) masih dalam batas wajar. Ini penting karena dalam siklus sebelumnya, aksi jual besar dari miner sering menjadi pemicu penurunan tajam.

Dengan kata lain, meski permintaan belum kuat, sisi suplai juga belum memberikan tekanan berlebihan.


Volatilitas Menurun, Spekulasi Mulai Surut

Indikator lain yang patut diperhatikan adalah turunnya volatilitas realisasi Bitcoin dari sekitar 80 ke level sedikit di atas 50. Penurunan ini menunjukkan pasar mulai memasuki fase konsolidasi.

Selain itu, tingkat pendanaan (funding rate) di pasar futures juga turun, menandakan berkurangnya aktivitas spekulatif berbasis leverage tinggi.

Kondisi ini sering dianggap sebagai fase “pendinginan” pasar sebelum pergerakan besar berikutnya terjadi.


Geopolitik Jadi Faktor Penentu Arah Selanjutnya

Ketegangan antara AS dan Iran menjadi variabel kunci yang akan menentukan arah pasar dalam waktu dekat.

 Ancaman gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga energi global, yang pada akhirnya berdampak ke inflasi dan kebijakan moneter.

Jika konflik meningkat:

Namun jika mereda:

Dalam kondisi seperti ini, pasar kripto tidak lagi bergerak sendiri, melainkan semakin terintegrasi dengan dinamika makro global.


Sentimen Rapuh, Strategi Investor Berubah

Data menunjukkan bahwa investor kini lebih berhati-hati. Alih-alih mengejar keuntungan cepat, banyak pelaku pasar mulai fokus pada strategi perlindungan risiko.

Beberapa pendekatan yang mulai dominan:

Perubahan ini menandakan pergeseran dari fase spekulatif menuju fase yang lebih defensif.


Krisis atau Peluang Tersembunyi?

Penurunan harga Bitcoin ke bawah 70.000 dollar AS memang mencerminkan tekanan nyata dari faktor eksternal, terutama geopolitik.

Namun di balik itu, data pasar justru mengirim sinyal yang lebih kompleks.

Lonjakan ketakutan investor, jika melihat pola historis, sering kali menjadi titik awal kebangkitan harga.

Dengan kata lain, pasar saat ini berada di persimpangan:

Bagi investor, situasi ini bukan sekadar ancaman, melainkan juga ujian strategi dan ketahanan dalam membaca momentum pasar.

Editor : Mahendra Aditya
#Bitcoin hari ini #pasar kripto global #volatilitas Bitcoin #harga bitcoin turun #bitcoin 2026 #kripto terbaru #prediksi bitcoin #geopolitik bitcoin #trump iran bitcoin #selat hormuz kripto #investasi bitcoin #sentimen pasar kripto #opsi bitcoin #put call ratio #likuidasi kripto #berita kripto terbaru #bitcoin outlook #analisa crypto #harga btc usd #bitcoin indonesia #crypto market today #bitcoin forecast #tren bitcoin #analisis Bitcoin #bitcoin anjlok