RADAR KUDUS - Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak labil dan banyak saham unggulan kehilangan arah, pasar justru menyuguhkan ironi menarik.
Saham-saham yang berada di bawah kendali Garibaldi “Boy” Thohir tampil mencolok, seolah berjalan dengan irama berbeda dari mayoritas pelaku pasar.
Pada perdagangan Selasa, 13 Januari 2026, IHSG sempat mengalami tekanan tajam. Indeks anjlok lebih dari 100 poin di awal sesi kedua sebelum akhirnya berbalik arah dan ditutup menguat 0,72% di level 8.948,30.
Volatilitas intraday ini bukan kejadian tunggal—sehari sebelumnya, IHSG juga sempat terperosok lebih dari 2% sebelum koreksi mengecil di akhir perdagangan.
Namun, di tengah pasar yang rapuh itu, saham-saham Grup Boy Thohir justru bergerak agresif. Bukan sekadar ikut naik, tetapi memimpin penguatan dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: PGEO Melonjak 9%, Pasar Mulai Bertaruh pada Kebangkitan Energi Panas Bumi
Kelompok Konglomerat Tertekan, Boy Thohir Berbeda Arah
Dalam kondisi pasar bergejolak, saham-saham milik konglomerat biasanya ikut terseret. Dominasi kapitalisasi mereka membuat pergerakannya nyaris tak terhindarkan dari tekanan indeks. Grup besar lain—termasuk yang bergerak di sektor energi dan industri—terlihat melemah atau setidaknya stagnan.
Namun, fenomena berbeda terlihat pada emiten-emiten yang terafiliasi dengan Boy Thohir. Saham seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), hingga PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) mencatatkan performa impresif, terutama dalam sebulan terakhir.
Bahkan saham-saham afiliasi lain seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM), dan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) ikut menikmati limpahan sentimen positif. Hanya PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) yang masih tertahan di zona merah.
Baca Juga: Emas, Nikel, Tembaga Menggila: Sinyal Bahaya atau Peluang Emas?
Investor Tidak Cari Aman, Tapi Cari “Nyata”
Alih-alih berburu saham defensif, investor justru melakukan rotasi senyap ke sektor berbasis komoditas riil. Inilah sudut pandang yang jarang dibahas.
Saat volatilitas meningkat, sebagian pelaku pasar memilih aset dengan fundamental yang bisa “dipegang”: logam, mineral, dan energi. Grup Boy Thohir kebetulan berada tepat di simpul tersebut.
Kenaikan harga komoditas global—khususnya tembaga, emas, dan aluminium—menjadi katalis utama.
MDKA yang fokus pada tembaga serta anak usahanya EMAS yang bermain di logam mulia, mendapat dorongan langsung dari tren tersebut.
Pasar membaca sinyal sederhana: ketika inflasi global belum sepenuhnya jinak dan ketegangan geopolitik masih terasa, aset berbasis sumber daya alam kembali menjadi primadona.
ADRO: Dari Batu Bara ke Logam Masa Depan
Menariknya, penguatan saham ADRO tidak semata ditopang batu bara. Justru, transformasi bisnis menjadi faktor kunci.
Melalui anak usaha ADMR, grup ini tengah membangun smelter aluminium terintegrasi di Kalimantan Utara—proyek strategis yang menggeser persepsi pasar terhadap ADRO dari sekadar emiten batu bara menjadi pemain logam bernilai tambah.
Smelter tersebut ditargetkan mulai beroperasi bertahap pada akhir 2025 dengan kapasitas awal 500 ribu ton per tahun, dan ditingkatkan hingga 1,5 juta ton pada 2027.
Aluminium, sebagai material kunci transisi energi dan industri kendaraan listrik, memberi narasi baru yang lebih panjang bagi ADRO.
Belum lagi, ADRO masih menggenggam sekitar 15% saham AADI, yang berarti potensi aliran dividen masih terbuka lebar tahun ini.
Baca Juga: BUMI, DEWA, BRMS Terkoreksi Tajam: Pasar Panik atau Strategi Bandar?
AADI dan Strategi Bertahan Batu Bara
Di sisi lain, AADI sebagai emiten batu bara memang menghadapi tekanan dari sisi harga dan permintaan.
Namun pasar melihat upaya stabilisasi melalui rencana pemangkasan produksi hingga 24% pada 2026 sebagai langkah menjaga keseimbangan pasar.
Dalam riset terbarunya, JP Morgan menilai ADRO masih berada di area undervalued, dengan diskon valuasi sekitar 45%.
Penilaian ini membuat investor lebih memilih ADRO ketimbang mengejar ADMR yang telah melesat lebih dulu.
Efek Domino: Dari Logam ke Seluruh Grup
Penguatan saham-saham logam memicu efek psikologis berantai. Ketika satu klaster saham dalam satu grup bergerak signifikan, investor cenderung berspekulasi bahwa saham lain akan menyusul.
Fenomena ini memicu rotasi dana internal—dari saham utama ke saham pendukung—menciptakan reli yang lebih luas dan merata. Inilah yang terjadi di Grup Boy Thohir: penguatan tidak terpusat, tetapi menyebar.
Dari perspektif teknikal, momentum semakin menguat karena pelaku pasar enggan tertinggal (fear of missing out). Kombinasi fundamental komoditas dan sentimen teknikal menjadi bahan bakar tambahan.
Bukan Kebetulan, Tapi Pola
Reli saham-saham Boy Thohir bukan sekadar anomali di tengah IHSG yang goyah. Ini adalah refleksi dari perubahan selera risiko investor: dari saham berbasis narasi ke saham berbasis aset nyata.
Ketika indeks mudah goyah oleh sentimen global, pasar mencari jangkar. Dan untuk saat ini, jangkar itu bernama komoditas, hilirisasi, dan transformasi bisnis jangka panjang—tiga hal yang kebetulan terkonsentrasi di Grup Boy Thohir.
Editor : Mahendra Aditya