Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

IHSG Terbang Tinggi! Menembus 8.743 Saat Pasar Global Dibayangi Ketidakpastian The Fed

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 10 Desember 2025 | 01:26 WIB

 

Ilustrasi saham
Ilustrasi saham

RADAR KUDUS - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Selasa (9/12/2025) dengan langkah agresif.

Alih-alih terseret arus ketidakpastian global, indeks utama Indonesia justru melesat 0,37 persen ke level 8.743. Kenaikan ini sekaligus memperpanjang tren positif setelah sehari sebelumnya IHSG ditutup naik 0,9 persen.

Lonjakan pada Senin tak lepas dari derasnya arus beli bersih investor asing yang mencapai Rp438 miliar. Saham-saham papan atas—BMRI, GOTO, BUMI, AMRT, dan IMPC—menjadi incaran utama, mencerminkan kepercayaan investor global terhadap fundamental pasar Indonesia.

Namun, apakah kenaikan ini cukup solid untuk menahan tekanan global yang kian menguat?


Asing Serbu Saham Big Cap, Tapi IHSG Rentan Koreksi

Meski IHSG bergerak naik, beberapa analis mengingatkan pasar bahwa euforia ini perlu dibaca dengan hati-hati. Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menyatakan bahwa peluang koreksi tetap terbuka.

Menurutnya, support IHSG berada di rentang 8.650–8.690, sementara resistance berada di kisaran 8.730–8.750. Dengan kata lain, indeks berada di zona rawan, di mana volatilitas bisa meningkat sewaktu-waktu.

Lonjakan agresif dalam dua hari terakhir, ditambah tekanan global yang tak kunjung mereda, membuat IHSG berpotensi bergerak lebih liar dibanding biasanya.


Bayang-Bayang The Fed: Pasar Global Menahan Nafas

Sementara pasar Indonesia mencatat kenaikan, bursa saham Amerika justru kompak melemah. Investor menunggu satu hal: keputusan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).

Indeks S&P 500 terkoreksi 0,5 persen, Nasdaq Composite turun 0,4 persen, dan Dow Jones merosot 0,6 persen. Penurunan ini menandai sikap kehati-hatian investor global.

Jerome Powell, Ketua The Fed, dijadwalkan menyampaikan arah kebijakan moneter jelang penutupan tahun. Pasar berharap sinyal pemangkasan suku bunga tetap berada pada timeline 2025. Namun, jika jadwal pemangkasan bergeser ke 2026, tekanan pada pasar keuangan global diprediksi meningkat.

Data inflasi inti PCE September 2025 yang turun lebih rendah dari proyeksi sempat memberi sentimen positif, tetapi belum cukup kuat untuk meredam kekhawatiran pasar.


Sentimen Global Tak Menggoyahkan Optimisme Lokal—Untuk Saat Ini

Meski bursa global bergejolak, pasar domestik justru mempertahankan momentum positif. Arus modal asing yang masuk memberi sinyal kuat bahwa pelaku pasar global masih melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik, terutama di sektor keuangan, teknologi, dan komoditas.

Dalam kondisi seperti ini, IHSG berada dalam posisi unik: kuat secara domestik, tetapi rentan secara eksternal.

Pertanyaan besar bagi investor kini adalah: sampai kapan daya tahan IHSG bisa bertahan menghadapi badai The Fed?


Outlook: Awal Tahun Penuh Gejolak Menanti

Jika The Fed benar-benar menunda pemangkasan suku bunga hingga 2026, pasar modal global—termasuk Indonesia—berpotensi memasuki fase koreksi yang lebih dalam pada awal 2026.

Namun, selama sentimen domestik tetap solid dan aliran modal asing konsisten, IHSG masih memiliki peluang mempertahankan tren penguatannya.

Bagi pelaku pasar, periode ini adalah momentum untuk tetap waspada namun tak perlu panik: volatilitas adalah bagian dari dinamika pasar, dan setiap gejolak membuka peluang baru.

Editor : Mahendra Aditya
#bei #suku bunga #bursa efek indonesia #the fed #investor asing #ihsg hari ini