RADARKUDUS - Katanya kapitalisme sudah dewasa dan meritokrasi jalan terus,tapi kok yang paling “berhasil” tetap punya gaji yang bisa bikin bangsa yang berpendapatan besar pun ternganga.
Menurut laporan CNBC Indonesia, Elon Musk mendapatkan paket kompensasi sekitar US$1 triliun atau setara kurang lebih Rp16.700 triliun.
Angka yang kalau diterjemahkan ke konteks Indonesia, cukup untuk melunasi utang negara atau membayar gaji pegawai negeri selama lebih dari lima dekade itu mau kita bilang, masih wajar?
Bayangkan lebih konkret di negeri ini banyak pegawai negeri yang tiap bulan berharap gaji cukup untuk hidup layak ngos-ngosan di tengah harga naik, biaya sekolah naik, dan subsidi makin terseret ke pinggir.
Dan sementara itu, di luar sana satu orang bisa punya kompensasi yang nilainya setara sebagian besar anggaran publik banyak negara.
Jadi yes, gaji PNS kita masih jalan setapak sementara gaji orang seperti Musk jalan sprint dengan roket pribadi.
Kalau gaji PNS adalah jalan santai sore, maka gaji Musk adalah marathon ultra dengan jet pack. Siapa yang sedang olahraga, siapa yang diparkir di tribun?
Lucunya Di era yang katanya serba meritokrasi ini, narasinya kita semua punya peluang yang sama, bisa jadi besar, bisa sukses. Tapi kenyataannya, struktur dan sistem kita tetap membiarkan akumulasi kekayaan mega skala terjadi di luar jangkauan mayoritas.
Sementara rakyat diberi nasihat, harus bersabar dan berusaha karena itu kuncinya. Ya berusaha, sambil melihat kontras yang makin tajam, satu orang bisa punya lebih dari yang banyak orang satu negara punya dalam satu dekade.
Bukannya menyalahkan orangnya aja, tapi menyalahkan sistem yang masih memungkinkan ketimpangan semacam ini jadi normal.
Akar masalahnya jelas tapi sering disamarkan dengan jargon pasar bebas dan kompetisi global. Kekayaan bisa menumpuk karena teknologi, investasi, spekulasi. Jadi kalau ada gaji 16.700 triliun, ya tinggal bilang saja hasil pasar.
Padahal pasar tersebut dibentuk dalam kondisi yang tak simetris, akses modal, regulasi, pajak, semua punya efek.
Ketika kita melihat angka fantastis tersebut, bukan sekadar orang berhasil, tapi sistem yang memungkinkan keberhasilan ekstrem itu terjadi sementara sebagian besar rakyat tetap dikebiri oleh fleksibilitas pekerjaan, upah minimum, dan kebijakan yang sifatnya ad hoc.
Kalau kita bandingkan dengan fenomena global di Amerika Serikat atau Eropa, debat tentang gaji mega-bos dan ketimpangan sudah jadi topik hangat bertahun-tahun.
Di Indonesia, kita juga punya versi kita sendiri tetapi dengan kondisi yang berbeda tingkat subsidi, kemiskinan struktural, dan beban rakyat yang jauh lebih berat. Bedanya? Di sana orang kaya super mega bisa dikritik dan dipersoalkan, di sini ketika angka seperti itu muncul, seringnya diiringi, ini kan investasi, ini hasil inovasi.
Padahal efeknya sama, sebagian besar tetap terpinggir. Krisis bukan hanya soal orang kaya yang punya banyak, tapi soal banyak yang punya sedikit.
Apa itu slogan kaya bersama? Yang ada aku kaya, kamu berjuang saja.
Jangan salah ini bukan cuma soal kritis saja, ini soal kesadaran. Kita memang tak bisa menghentikan seseorang jadi jutawan, apalagi triliuner.
Namun kita bisa menuntut sistem yang lebih adil, transparansi kompensasi, regulasi yang memastikan bahwa kekayaan ekstrem itu tak berdiri sendiri tanpa kontribusi sosial, sistem perpajakan yang realistis, serta kesempatan pengembangan bagi yang tak lahir di starting line emas.
Karena kalau kita hanya ikut-ikutan bilang syukuri aja, maka selamanya yang punya jet pack tetap terbang, yang berjalan kaki tetap di trotoar retak.
Dan angka 16.700 triliun itu bukan cuma statistik aja. Angka itu adalah simbol. Simbol dari keberhasilan luar biasa individu, tapi juga simbol dari kegagalan kolektif kegagalan memastikan bahwa kekayaan tak berjarak sejauh lintasan roket.
Mungkin kita bisa bersorak untuk Musk yang berhasil tapi kita juga harus cek refleksi, bagaimana dengan jutaan yang gaji dan hidupnya jauh dari harapan? Kalau sistemnya adil, mestinya gap upahnya tak sejauh itu.
Apakah kita sebagai masyarakat rela bertahan di orang yang punya jet pack sementara kita disuruh naik sepeda menitipkan harapan? Karena yang lebih cepat dari naiknya kompensasi luar biasa itu adalah ekspansi narasi bahwa ini normal. Dan jangan sampai yang dinormalisasi justru ketimpangan tanpa batas.
Editor : Mahendra Aditya