"Dari kantor sudah lama didaftarkan, bahkan sejak zaman ASKES sudah terdaftar dan waktu sudah beralih menjadi BPJS Kesehatan juga langsung terdaftar.
Jadi sejak dulu saya sudah terlindungi jaminan kesehatan,” kata Susandi saat ditemui di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kudus.
Kepesertaan JKN Susandi tetap aktif meskipun jarang ia gunakan untuk berobat.
Ia mengaku selama ini hanya mengakses layanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk keluhan sakit ringan seperti batuk dan flu.
"Dalam setahun paling dua sampai tiga kali saja berobat, itu pun hanya sakit ringan saja. Selama saya berobat, pelayanan yang diberikan sangat bagus, dokter dan bagian pendaftaran ramah, saya diberikan obat lengkap dan diberi pesan jika masih belum membaik boleh kembali berobat," ungkap Susandi.
Pernah satu kali Susandi mengalami gejala tipes, namun cukup ditangani di FKTP dan tidak perlu dirujuk ke rumah sakit.
Menurutnya, pelayanan di FKTP sudah cukup memadai untuk keluhan-keluhan ringan.
“Waktu itu ternyata sakit saya bisa sembuh hanya dengan meminum obat yang saya dapat dari dokter keluarga saja. Syukurnya belum pernah berobat yang diharuskan rawat inap di rumah sakit,” tambahnya.
Selain dirinya, proses persalinan istrinya yang berdomisili di Solo juga menggunakan JKN.
Susandi bersyukur, meskipun istrinya berbeda faskes dengan dirinya, tapi saat persalinan di rumah sakit setempat tidak ada kendala apapun.
“Faskes saya dan istri kebetulan berbeda, waktu Istri saya melahirkan di rumah sakit di daerah Solo, prosesnya administrasinya tetap mudah hanya menunjukkan KTP saja, tidak dimintai persyaratan yang aneh-aneh. Tak lama dari ruang IGD langsung mendapatkan ruangan kamar rawat inap, untuk ruangannya sendiri sangat nyaman. Setelah proses persalinan selesai juga tidak ditarik biaya tambahan apapun,” ujar Susandi.
Susandi menganggap kepesertaan Program JKN sangat penting bagi setiap orang. Sebagai ASN, dia merasa tidak keberatan jika rutin dipotong iuran dari gaji bulanannya.
"Saya tidak pernah merasa keberatan gaji dipotong untuk iuran JKN. Bagi saya lebih baik bayar iuran tiap bulan daripada nanti kelabakan saat butuh biaya pengobatan mendadak. Jika tidak digunakan, mungkin iuran saya bisa bermanfaat untuk orang lain yang membutuhkan layanan kesehatan," jelas Susandi.
Kepedulian Susandi terhadap sesama juga terlihat ketika ia datang langsung ke Kantor BPJS Kesehatan.
Bukan untuk mengurus dirinya sendiri, melainkan membantu temannya, Parijan, yang sedang dirawat inap di rumah sakit di daerah Purwodadi akibat pembengkakan kaki. Ternyata, status kepesertaan Parijan tidak aktif karena ada tunggakan iuran.
“Saya bantu mengurus Program JKN-nya. Saat saya tanya, petugas frontliner menyampaikan terdapat tunggakannya sekitar dua juta. Karena zaman sekarang serba digital, tunggakan iurannya akan dibayar melalui m-banking saja,” jelas Susandi.
Susandi mengaku puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh petugas di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kudus, karena selain ramah penjelasannya juga mudah diterima.
“Petugasnya ramah, sabar menjelaskan dengan detail, saya sebagai orang awam jadi mudah memahaminya. Sebelum membayar tunggakan, saya juga sempat ditawarkan untuk membandingkan biaya rumah sakit dengan jumlah biaya tunggakan iuran JKN yang ada. Menurut saya, lebih penting mempunyai jaminan kesehatan saja, untuk kedepannya juga kalau sakit bisa langsung digunakan, cukup membayar iuran perbulannya saja,” tutup Susandi. (*)
Editor : Ali Mustofa