RADAR KUDUS – Kabar kurang menyenangkan datang dari Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI buka suara terkait penurunan Harga Saham Gabungan (IHSG) beberap waktu terkahir.
Tercatat, IHSG pada saat istirahat siang ini ditutup turun 2,86 persen ke level 6.300,14. Sebanyakk 541 saham turun, 79 naik, dan 158 saham tidak berubah.
Nilai transaksi terbilang tinggi, mencapai Rp 7,42 trilun yang melibatkan 9,2 miliar saham dalam 690.178 kali transaksi.
Jatuhnya IHSG ini memperpanjang daftar panjang tren turun dalam sebulan terakhir menjadi 11,38 %. Penurunan tajam indeks pasar saham ini rasanya seperti mengenang kejadian serupa pada Februari 2020.
Saat itu IHSG jatuh 8,20 %. Bila dibandingkan, penurunan IHSG pada Februari 2025 ini justru lebih parah dibandingkan dengan Februari 2020.
Pada 2020 waktu itu ada pandemi Covid-19 yang membuat pasar saham gonjang ganjing dengan bottom market terjadi pada Maret.
Bila pergerakan pasar tahun ini mirip 2020, pada potensi kejatuhan IHSG ini tidak akan berakhir pada Februari saja, tetapi bisa terjadi hingga Maret 2025.
Saham BBRI Juga Anjlok
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI memerah pada sesi 1 perdagangan 28 Februari 2025.
Penurunan saham BBRI di sesi I hari ini paling bawah sempat ke Rp 3.410. Namun pada pukul 10.31 WIB, saham BBRI ada di Rp 3.430 (-5,51%).
Kendati memerah, tetapi saham BBRI justru laris manis diperdagangankan. Artinya ada yang mengambil kesempatan membeli saham BRI saat harganya sedang murah.
Tercatat pada pukul 10.31 WIB ada 350,35 juta saham BBRI ditransaksikan, frekuensi 55.896 kali dan nilai transaksi Rp 1,22 trilun dengan harga rata-rata transaksi Rp 3.475.
Berdasarkan RTI Businees, price earning ratio (PER) BBRI ada di 8,64 kalim dan price to boook value (PBV) 1,64 kali. BRI merilis laporan keuangan bank online pada Januari 2025.
Penurunan tajam saham BRI dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, baik dari sisi makro ekonomi seperti kenaikan suku bunga The Fed sepanjang 2024 mengakibatkan capital outflow besar-besaran dari emerging markets, termasuk Indonesia.
Penurunan Saham Jadi Momen Baik untuk Membeli Saham?
Gema Georyadi, Founder dan CEO Astronacci mengatakan para trader yang ingin mengambil peluang dan keuntungan besar jangan mudah panik melihat kondisi penurunan tajam. Justru penurunan ini menjadi momentum terbaik untuk membeli saham.
Dia mengatakan, trader pelu mengambil keputusan dengan mengetahui kapan harga akan berbalik arah atau mencapai titik terendah. Salah satu caranya dengan memiliki trading dengan time trading analysis.
Kendati saham BBRI mengalami penurunan tajam dan cukup lama, Gema melihat BBRI berpotensi menguat didukung oleh rencana buyback saham BBRI senilai Rp 3 triliun.
Gema berharap, penurunan tajam di saham BBRI dapat segera berakhir. Harapannya para trader dan investor dapoat mengambil keuntungan pada momentum saat tersebut.
Sama seperti Gema, Analis Bareksa Ariyanto Dipo Sucahyo dan Abdul Malik mengatakan startegi Buy The Dip di saham-saham Big Banks seperti BBRI untuk tetap membeli sham BBRI.
Tercatat sejak pukul 10.40 pada 28 Februari 2025, saham BBRI mengalami penurunan 15,69 persen menjadi Rp 3.430 per saham. Hal ini sejalan dengan gejolak berat terhadap OHSG yang dibayangi oleh penerapan tarif dagang oleh Presiden Amerika Serikat Donld Trump kepada China, Kanada, dan Meksiko.
“Tarif tinggi mengakibatkan kenaikan harga barang dan mengerekj inflasi terutama di AS. Inflasi tinggi mmebuat penurunan suku bunga The Federal Reserve mengecil dna kurs dolar AS tetap kuat, sehingga menarik arus dana dari pasar global ke negeri Paman Sam,” mengutip Tim Analis Bareksa.
Melihat peluang saat ini, Tim Analis Bareksi menilai butuh waktu 35-72 hari perdagangan dari level terendah sampai pembalikan arah ke level tertinggi dan retrun di atas 15 persen, seperti halnya yang pernah terjadi pada 2026.
Saham BBRI direkomendasikan beli dengan target harga 2025 di Rp 5.650 per saham. Dengan potensi kenaikan mencaai 54 % point-to-point.
Kendati demikian, Tim Anlis Bareksa tetap mengingatkan investor agar waspada terhadap risiko saham seperti capital lost akibat fluktuasi pasar yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan kinerja perusahaan.
Editor : Noor Syafaatul Udhma