Oka Aditya pemilik usaha terasi tersebut mengungkapkan, terasinya sebagai produk rumahan memiliki keunggulan tersendiri. Karena itu selalu jadi buruan pelanggan. Oka memulai bisnis membuat terasi sejak 2011 silam.
Pembuatan terasi sangat sederhana. Udang rebon yang jadi bahan utama digiling kemudian dijemur. Proses giling-jemur ini diulang 4 sampai 5 kali. Kemudian dipadatkan menjadi balok-balok. Setelah itu dipotong dan ditimbang sesuai ukuran baru kemudian dikemas.
“Produk terasi kami memiliki keunggulan tersendiri. Kualitas rasanya dijamin. Kami menggunakan bahan baku rebon asli. Kami juga punya langganan rebon sendiri yang selalu memasok bahan baku untuk pembuatan terasi,” jelas Oka kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Oka membuat dua varian terasi. Yang pertama terasi mentah dan yang kedua terasi matang. Terasi mentah dijual dalam kemasan 100 gram dan 250 gram. Sedangkan terasi matang yang sudah dioven sampai kering dikemas dalam botol kecil.
Saat ini terasi produksinya itu banyak dijual di berbagai kota. Selain di Kabupaten Pati sendiri, Oka banyak memasarkan produknya ke Semarang. “Paling banyak memang di Semarang. Selain di toko oleh-oleh dan swalayan, paling banyak juga laku di pasar. Saat pandemi kemarin ketika penjualan di toko oleh-oleh lesu di pasar tradisional masih bagus,” paparnya.
Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pati Hadi Santosa mengungkapkan, pemerintah terus berupaya mendorong setiap Industri Kecil Menengah (IKM) untuk berkembang melalui berbagai pelatihan dan promosi publikasi produk.
"Produk terasi juwana diharapkan menjadi produk unggulan yg membawa kekhasan Kabupaten Pati sebagai daerah pesisir yg kaya akan hasil laut, dengan mempertahankan kualitas produk dan mengembangkan inovasi sehingga meningkatkan daya saing di pasaran," paparnya. (aua) Editor : Ali Mustofa