Inflasi tahunan secara kalender (Januari–September 2022), sebesar 4,84 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (y to y) sebesar 5,95 persen. Data 90 kota IHK, 88 kota mengalami inflasi dan 2 kota mengalami deflasi.
Lalu, bagaimana dengan tingkat inflasi di Jawa Tengah? Hasil sensus BPS mencatat, enam kota di Jawa Tengah mengalami inflasi sebesar 1,19 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,78. Dari enam kota IHK di Jawa Tengah, semua kota tersebut mengalami inflasi.
Kudus mengalami tingkat inflasi yang tinggi. Secara nasional, di pulau Jawa, Kudus menempati peringkat pertama sebesar 1,65 persen dengan IHK 112,50. Inflasi tahunan secara kalender (Januari–September 2022), sebesar 5,81 persen persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (y to y) sebesar 6,83 persen.
Pemicu utama inflasi yaitu kenaikan harga BBM. Sektor transportasi memberikan andil inflasi sebesar 1,08 persen, dari konsumsi bensin dan solar serta tarif angkutan konvensional dan online. Penyesuaian harga BBM ini juga berdampak lonjakan inflasi kelompok energi hingga mencapai 16,48% (y-on-y) pada September 2022.
Belajar dari data historis,pasca kenaikan harga BBM, akan terjadi inflasi pada bulan pertama dan meningkat lebih tinggi pada bulan kedua secara y-on-y. Dengan demikian, perlu diwaspadai potensi tekanan kenaikan inflasi(second round effect) di bulan Oktober 2022. Apalagi ditambah menguatnya tekanan inflasi dari sisi permintaan, dan masih tingginya harga energi dan pangan di tingkat global.
Kebijakan pemerintah
Presiden Joko Widodo, menyampaikan beberapa arahan untuk mengendalikan inflasi diantaranya subsidi atas kenaikan tarif transportasi umum, subsidi biaya angkut untuk komoditas pangan, Bantuan Langsung Tunai, bantuan sosial, bantuan pembelian bahan baku bagi UMKM, serta bantuan subsidi upah (BSU).
Kebijakan di atas merupakan bantalan (shock absorber) dari APBN yang diharapkan mampu menjaga angka kemisikinan tidak naik. Pertumbuhan ekonomi terjaga pada rentang 5.1 % - 5.4%, dan inflasi masih pada tingkat moderat.
Pemerintah telah menyiapkan sejumlah dana untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) 12,4T, Bantuan Subsidi Upah(BSU) 9,6T, dan Dana Transfer Umum (DTU) 2,17T.
BLT diberikan kepada 20,65 keluarga tidak mampu selama September-Desember 2022 dengan besaran 150 ribu. BSU senilai 600 ribu akan diberikan kepada 16 juta pekerja yang bergaji maksimal 3,5jt. Kemudian, Pemerintah daerah agar mengalokasikan DTU dalam bentuk bantuan angkutan umum, bantuan ojek online dan nelayan.
Pertumbuhan ekonomi
Untuk memastikan agar inflasi tetap terkendali, seyogyanya masyarakat tetap mempercayai pemerintah bahwa kebijakan menaikkan harga BBM akan bagus di masa depan. Memang kenaikan ini akan seperti “pil pahit” yang harus ditelan, tetapi ini adalah pil yang bermanfaat untuk menyehatkan APBN demi pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Kunci yang pertama adalah terciptanya kondisi keamanan yang kondusif. Masyarakat tak perlu melakukan tindakan kontraproduktif dengan demonstrasi yang anarkis. Yang perlu dilakukan tetaplah bekerja seperti biasanya dan tidak perlu melakukan mogok massal supaya simpul-simpul produksi dan distribusi tidak terganggu.
Kedua, bagi masyarakat terdampak atau secara penghasilan memenuhi syarat menerima bantuan, bisa menghubungi aparat desa setempat untuk di data. Pemdes pun seharusnya memastikan sesuai kondisi sebenarnya, siapa-siapa yang berhak menerima bantuan. Lalu, Pemerintah Daerah (Pemda) harus betul-betul memastikan nelayan dan pelaku sektor angkutan memperoleh bantuan.
Ketiga, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga diminta untuk bersinergi dengan Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) merancang program yang terukur dalam upaya menciptakan kestabilan harga. Kelompok barang yang bergejolak (volatile goods) seperti sayuran, dan bahan makanan terjaga kecukupan stok dan kelancaran distribusinya. Jumlah permintaan dan penawaran harus dalam tingkat yang seimbang supaya harga barang tersebut dapat dinikmati secara adil oleh produsen maupun konsumen akhir.
Terakhir, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat, yaitu dengan menanam bahan pangan seperti cabai, tomat, di pekarangan atau pot. Atau juga dengan memelihara hewan ternak yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi kelangkaan/kenaikan harga bahan pagan tersebut.
Akhirnya kita berharap, di bulan Oktober tidak terjadi rambatan inflasi yang bergerak liar sehingga pemulihan ekonomi tetap dalam jalur yang benar. (phw/yg/Adv) Editor : Ali Mustofa