Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pro-Kontra Warga Blora Sikapi Kenaikan Harga Pertamax

Ali Mustofa • Sabtu, 2 April 2022 | 19:20 WIB
ANTRE: Petugas sedang mengisikan pertamax ke pelanggan di salah satu SPBU kemarin. (AHMAD ZA’IIMUL CHANIEF/RADAR KUDUS)
ANTRE: Petugas sedang mengisikan pertamax ke pelanggan di salah satu SPBU kemarin. (AHMAD ZA’IIMUL CHANIEF/RADAR KUDUS)
BLORA - Kondisi beberapa SPBU di Blora masih normal. Tidak ada antrean mengular bagi pembeli bahan bakar minyak berjenis pertalite. Sebab, harga bahan bakar minyak jenis pertamax naik.

Ada pro dan kontra dari masyarakat mengenai hal tersebut. Ngasiran, salah seorang pengawas di SPBU Karangjati, Blora, mengaku belum mengetahui dampak adanya kenaikan pertamax. Pembeli pertamax di SPBU tersebut mulai menurun, tetapi dia tidak mengetahui data pastinya. ”Belum tahu dampaknya, karena baru diterapkan beberapa jam. Mungkin tiga atau empat hari ke depan baru bisa dilihat datanya,” ujarnya.

Ketidak tahuan informasi kenaikan harga pertamax masih dialami warga. Seperti yang dialami Ashan, pengguna motor asal Desa Tamanrejo, Tunjungan.

Lain cerita dengan Tri Handayani, seorang aparatur sipil negara (ASN) asal Kota Sate. Dia mengaku setuju dengan kebijakan yang diambil pemerintah mengenai kenaikan harga pertamax. ”Tetapi pemerintah juga harus mempertimbangkan kondisi ekonomi semua lapisan masyarakat,” jelasnya.

Dia mengaku tidak begitu terpengaruh dengan harga tersebut, karena jarak dari rumah ke tempatnya bekerja terbilang dekat. ”(Berangkat kerja) hanya lima menitan. Jadi, pengeluaran BBM masih sedikit,” imbuhnya. Namun menurutnya, bagi masyarakat lapisan menengah ke bawah yang pekerjaannya sering menggunakan BBM, perlu diprioritaskan untuk tetap mendapat subsidi.

Dia juga mengeluhkan mengenai salah satu SPBU yang menjual pertalite ke seseorang dengan banyak jeriken yang diangkut dengan pikap. ”Kayak orang ngangsu (mengambil air dari sumur, Red),” katanya. Menurutnya, hal tersebut tidak fair. Karena mengakibatkan beberapa pengguna motor atau mobil yang datang ke SPBU tidak kebagian. Dia berharap pemerintah membatasi pembelian pertalite bagi para pedagang.

Mengenai stok, Erwin, salah seorang pengawas SPBU Gabus mengaku, semua jenis BBM di SPBU tempat dia kerja masih aman dan normal. ”Memang tadi malam (kemarin malam, Red) sempat telat, karena jadwal pengiriman malam tersebut masuk ke ritase 3. Jadi, pukul 21.00 baru dikirimkan dari Semarang,” ujarnya. (cha/lin) Editor : Ali Mustofa
#pertamax naik #harga pertamax #blora #tuai pro-kontra #spbu blora