Penulis : Jamaluddin Kamal (Kepala SD Muhammdiyah Birrul Walidain Kudus)
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan bukan hanya sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk karakter, moral, dan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah usaha untuk memajukan budi pekerti melalui pembelajaran yang tidak hanya mengembangkan kecerdasan, tetapi juga mengarah pada pembentukan karakter yang luhur. Ia pernah mengatakan, “Pendidikan adalah tuntunan jiwa yang mengarah kepada pembentukan manusia yang seutuhnya, yakni yang berbudi pekerti dan dapat hidup bermasyarakat dengan baik” (Dewantara, 1947).
Senada dengan Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, sebagai tokoh penting dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia, juga memandang pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik. Beliau menyatakan bahwa, “Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang menggabungkan ilmu pengetahuan dan akhlak yang baik, sehingga manusia dapat menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama dan bangsa” (Ahmad Dahlan, 1920). Pendekatan ini menggabungkan pemahaman ilmu dengan pengembangan moral sebagai dasar bagi setiap individu.
KH. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama, juga menyatakan bahwa pendidikan haruslah berakar pada ajaran agama yang kuat. Beliau mengatakan, “Pendidikan agama adalah fondasi yang harus ditanamkan pada setiap generasi agar mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan bisa memajukan umat” (Hasyim Asyari, 1930). Pandangan ini menggarisbawahi bahwa pendidikan yang berkualitas harus berlandaskan pada nilai-nilai agama yang kuat, untuk menciptakan individu yang tidak hanya pintar, tetapi juga berbudi pekerti.
Dengan pandangan-pandangan tersebut, pendidikan harus lebih dari sekadar menyiapkan individu untuk pasar kerja, tetapi juga membentuk karakter yang kuat, moral yang baik, dan akhlak yang luhur, sebagai bekal bagi kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dan berkeadaban.
Pendidikan di Indonesia
Pendidikan di Indonesia telah mengalami berbagai kemajuan, meskipun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Indonesia yang kaya akan keberagaman suku, agama, dan budaya menghadapi tugas berat untuk memastikan bahwa sistem pendidikan yang diterapkan dapat menciptakan kesetaraan dan keadilan bagi seluruh warganya. Salah satu tantangan terbesar yang masih ada adalah kesenjangan dalam kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Meskipun program pendidikan seperti wajib belajar 12 tahun dan pemberian bantuan pendidikan telah diluncurkan, beberapa daerah masih kekurangan fasilitas pendidikan yang memadai.
Untuk itu, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus berupaya memperbaiki kualitas pendidikan di seluruh penjuru negeri. Terutama melalui pemerataan infrastruktur pendidikan dan distribusi guru yang berkualitas ke daerah-daerah yang masih kesulitan. Pemerintah juga berfokus pada upaya untuk menciptakan sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter yang baik.
Program Prof. Abdul Mu’ti dalam Meningkatkan Pendidikan
Prof. Abdul Mu’ti, sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), memiliki berbagai program strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu program utama yang diusung adalah Pendidikan Bermutu untuk Semua, yang bertujuan memastikan setiap anak Indonesia, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan, mendapatkan kesempatan yang setara untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Prof. Mu’ti menekankan pentingnya pemerataan fasilitas pendidikan dan pengembangan kualitas tenaga pendidik di seluruh wilayah.
Selain itu, Prof. Mu’ti juga meluncurkan program peningkatan kualitas guru melalui pelatihan dan sertifikasi yang berkelanjutan. Beliau percaya bahwa guru adalah kunci keberhasilan dalam pendidikan, dan dengan meningkatkan kualitas pengajaran, maka atmosfer akademik yang baik akan tercipta. Pelatihan guru secara rutin tidak hanya akan meningkatkan kompetensi mereka, tetapi juga membantu mereka untuk lebih memahami cara mengajar yang lebih efektif dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Prof. Mu’ti juga menekankan bahwa pendidikan karakter harus menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan Indonesia. Pendidikan karakter yang mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, rasa hormat, kerja keras, dan disiplin sangat penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak yang baik. Dalam hal ini, pendidikan tidak hanya sebatas ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana murid dapat menjadi pribadi yang berbudi pekerti.
Tujuan Pendidikan: Membangun Peradaban yang Berkeadaban
Pendidikan, pada hakikatnya, tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga untuk membangun peradaban yang berkeadaban. Peradaban yang berkeadaban adalah peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kedamaian, dan keberagaman. Untuk itu, pendidikan harus memiliki agama sebagai pondasi utamanya, dengan nilai-nilai agama yang moderat dan mendalam. Agama menjadi pedoman moral dalam kehidupan dan memberikan arah dalam menghadapi tantangan zaman.
Selain agama, disiplin merupakan tiang utama dalam membangun pendidikan yang berkeadaban. Disiplin dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan dalam belajar adalah salah satu elemen penting yang harus diterapkan. Disiplin dalam pendidikan akan menciptakan kebiasaan yang baik, yang mendukung terciptanya suasana akademik yang produktif dan sehat. Semua ini harus menjadi bagian dari proses pendidikan yang berkesinambungan, sehingga disiplin bukan hanya menjadi kewajiban, tetapi menjadi kebiasaan yang mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari.
Adab atau akhlak adalah elemen terakhir yang membentuk tatanan pendidikan yang berkeadaban. Tanpa akhlak yang baik, meskipun seseorang cerdas dan terampil, ia tetap akan kekurangan karakter. Pendidikan yang mengutamakan adab akan menciptakan individu yang tidak hanya tahu, tetapi juga tahu bagaimana bertindak dengan benar dan penuh tanggung jawab. Oleh karena itu, adab merupakan atap dari seluruh aspek pendidikan ini, yang akan menciptakan generasi yang berbudi pekerti, berkarakter, dan mampu berkontribusi pada masyarakat.
Harapan untuk Pendidikan Masa Depan
Memandang ke depan, harapan besar bagi pendidikan Indonesia adalah terciptanya sistem pendidikan yang lebih inklusif dan merata, serta dapat dinikmati oleh seluruh anak bangsa, tanpa memandang status sosial atau latar belakang ekonomi. Pendidikan yang berkualitas adalah hak setiap anak di Indonesia, dan ini harus dijaga bersama-sama. Agar tujuan ini dapat tercapai, diperlukan kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait lainnya.
Pendidikan juga harus bebas dari kepentingan politik. Agar pendidikan tetap dapat berfungsi dengan baik, ia harus bersih dari campur tangan politik yang dapat merusak tujuan dan kualitasnya. Pendidikan harus tetap menjadi ruang yang suci, tempat di mana nilai-nilai moral dan pengetahuan berkembang tanpa ada tekanan dari pihak-pihak tertentu.
Penting untuk diingat bahwa perbaikan dalam dunia pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga tanggung jawab kita semua. Sebagai masyarakat, kita harus aktif dalam mendukung kebijakan pendidikan yang ada dan terus berkontribusi untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik. Jika semua pihak bersatu dalam mendukung pendidikan berkualitas, maka kita akan dapat menciptakan generasi masa depan yang lebih cerdas, berbudi pekerti, dan mampu membawa bangsa Indonesia menuju kemajuan yang lebih baik. (*)