BLORA – Bupati Blora Arief Rohman mengajak lima kepala desa ke UGM belum lama ini.
Hal tersebut dalam upaya mencari solusi terbaik bagi warga lima desa di Kecamatan Kradenan yang terdampak proyek strategi nasional (PSN) Bendung Gerak Karangnongko.
Sebab warga yang terdampak meminta pembangunan bendungan bisa direlokasi ke wilayah terdekat dari desa.
Yang paling memungkinan di lahan hutan KHDTK milik UGM di Desa Getas.
Untuk itu orang nomor satu di Blora itu mendampingi lima kades yang warganya terdampak Bendungan Karangnongko. Konsultasi ke Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.
Lima kades hadir audiensi dengan Fakultas Kehutanan UGM dan Direktur KHDTK UGM tersebut.
Masing-masing kepala Desa Mendenrejo, kepala Desa Ngrawoh, kepala Desa Nginggil, kepala Desa Nglebak, dan kepala Desa Megeri.
Baca Juga: Sidak Pasar selama Ramadan, Dinkes Blora Temukan Makanan Mengandung Formalin hingga Rhodamin
Beberapa hal ini yang dikonsultasikan para kades saat audiensi yang dihadiri sejumlah pejabat di Fakultas Kehutanan UGM dan direktur KHDTK UGM dan jajaran.
Di antaranya terkait apakah adanya peluang dan opsi relokasi warga terdampak ke areal KHDTK UGM.
Di mana lokasinya dekat dengan wilayah desa mereka yang terdampak PSN.
Seperti dikemukakan Kepala Desa Ngrawoh, Purwondo.
Disampaikannya, 80 persen wilayah desanya nantinya terdampak genangan air dari Bendung Gerak Karangnongko.
Di wilayahnya adem ayem. Tidak ada gejolak menolak PSN. Hanya ada sisi lain yang membuat beban pikiran warga berat.
Baca Juga: Terpilih Jadi Tuan Rumah Kompetisi Liga 3 Putaran Nasional, Persiku Kudus Targetkan Promosi Liga 2
Adanya dua opsi yang ditawarkan. Yakni, ganti untung dan tukar guling/ relokasi.
”Kami berpendapat kalau kita tukar guling terus nasib desa kami bagaimana, harapan kami jangan sampai hilang," papar Purwondo.
Pihaknya, meminta arahan kepada pihak UGM yang merupakan pengelola KHDTK, terkait potensi relokasi hingga pengembangan desa wisata.
Sehingga dengan adanya pembangunan PSN tersebut masyarakat bisa ikut merasakan manfaatnya.
"Kalau pihak UGM nantinya bisa berkolaborasi dengan Blora, dalam mewujudkan desa wisata ditempat kami mudah-mudahan bisa seperti yang sudah ada di Waduk Sermo.”
”Bagaimana nanti cara penataannya saya manut. Saya bersama warga cuma ingin numpang mencari kehidupan. Kami kena dampaknya, kita harus dapat manfaatnya," imbuh Perwondo.
Bupati Arief Rohman mengungkapkan, bahwa dirinya hadir di Fakultas Kehutanan UGM, mendampingi perwakilan masyarakat terdampak pembangunan bendungan.
Selain itu, pihaknya juga minta Fakultas Kehutanan UGM untuk bersama-sama mencari lokasi terbaik untuk relokasi masyarakatnya yang akan terdampak pembangunan PSN Karangnongko.
Disampaikan, Bendungan yang akan membendung Sungai Bengawan Solo di perbatasan Kradenan (Blora) dengan Margomulyo (Bojonegoro).
Genangannya akan mengular sampai Ngawi.
Sehingga ada beberapa desa di Blora yang akan direlokasi dengan skema ganti untung.
Sesuai keinginan masyarakat, mereka ingin agar lokasi relokasi tidak jauh dari desanya semula.
Dan yang paling memungkinkan adalah lahan hutan KHDTK UGM Getas.
Diharapkan nantinya proses relokasi bisa difasilitasi oleh Fakultas Kehutanan dengan Kementerian LHK, dan Kementerian PUPR.
"Pembangunan Bendung Karangnongko ditetapkan sebagai PSN tentunya kami ingin mensukseskan agenda tersebut," ujarnya.
"Namun demikian efek pembangunan pada beberapa desa yang akan menjadi wilayah genangan. Kegalauan kepala desa tadi sudah disampaikan, kami ingin ada bantuan lagi dari UGM kira-kira saran masukan dan upaya dari harapan masyarakat ini," jelasnya. (tos/zen)
Editor : Ali Mustofa