Hasil Laboratorium Ungkap Penyebab Keracunan MBG di Blora, Ditemukan Bakteri pada Makanan

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 15:55 WIB
PERIKSA: Petugas dari Dinkesda Blora dan Puskesmas Tunjungan saat melakukan pemeriksaan ke Siswa SDN 3 Tutup beberapa waktu lalu yang jadi korban keracunan menu MBG. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)
PERIKSA: Petugas dari Dinkesda Blora dan Puskesmas Tunjungan saat melakukan pemeriksaan ke Siswa SDN 3 Tutup beberapa waktu lalu yang jadi korban keracunan menu MBG. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

BLORA – Penyebab dugaan keracunan yang dialami puluhan siswa SDN 1 dan SDN 3 Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, mulai terungkap setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

Pengujian terhadap sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menemukan adanya bakteri pada sejumlah menu yang dibagikan kepada para siswa.

Sekretaris Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora, Nur Betsia Bertawati, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan kejadian tersebut pada 1 Oktober 2026.

Sejumlah siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan berupa mual, diare, hingga muntah setelah mengonsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tutup.

Berdasarkan pendataan Dinkesda, sebanyak 62 siswa mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut. Seluruh siswa menjalani rawat jalan dan tidak ada yang harus dirawat inap.

"Jadi ada sebanyak 62 orang siswa yang keracunan. Semua rawat jalan gak ada yang rawat inap," katanya.

Saat kejadian dilaporkan, menu MBG yang dibagikan kepada siswa terdiri atas nasi putih, telur rempah kecap, tumis labu dengan jagung pipil, susu, dan pisang.

Dinkesda Blora kemudian mengambil sampel makanan serta melakukan pemeriksaan terhadap para siswa.

Sampel tersebut diuji di laboratorium Dinkesda Blora dan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Tengah.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus pada sampel nasi putih.

Sementara itu, bakteri dari kelompok Bacillus sp. ditemukan pada sampel tumis labu dan jagung pipil.

"Dari sampel makanan ditemukan hasil positif bakteri Staphylococcus aureus pada nasi putih dan hasil positif Bacillus sp. pada tumis labu jagung pipil,” jelasnya.

Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam penelusuran kejadian keracunan yang dialami para siswa.

Meski demikian, penetapan sumber dan jalur kontaminasi secara menyeluruh tetap memerlukan evaluasi terhadap proses pengolahan serta penanganan makanan.

Selain sampel makanan, pemeriksaan turut dilakukan terhadap air yang digunakan dalam proses memasak.

Hasil pengujian air galon menunjukkan total coliform sebanyak 42, sedangkan Escherichia coli (E. coli) tidak terdeteksi atau tercatat nol.

Sementara itu, pada sampel air PDAM ditemukan total coliform lebih dari 200 dan E. coli sebanyak 7, berdasarkan keterangan Dinkesda Blora.

"Pada air PDAM ditemukan total coliform lebih dari 200 dan Escherichia coli (E. coli) sebanyak 7," bebernya.

Temuan pada sampel air tersebut menjadi perhatian karena kualitas air merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga keamanan pangan.

Air yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan berpotensi menjadi jalur kontaminasi apabila digunakan untuk mencuci bahan makanan, memasak, atau membersihkan peralatan.

Namun, hasil pemeriksaan air saja belum cukup untuk memastikan bahwa air tersebut menjadi penyebab langsung munculnya gejala pada para siswa.

Penentuan hubungan antara temuan laboratorium dan kejadian keracunan perlu mempertimbangkan seluruh hasil pemeriksaan serta proses penyiapan makanan.

Nur Betsia menyampaikan bahwa menu serupa sebenarnya pernah disajikan sebelumnya. Akan tetapi, kejadian keracunan baru dilaporkan kali ini.

Dari sisi kandungan gizi, menu tersebut disebut telah memenuhi ketentuan berdasarkan penilaian ahli gizi. Meski demikian, kecukupan gizi tidak serta-merta menjamin makanan bebas dari kontaminasi mikroorganisme.

Keamanan pangan juga bergantung pada kebersihan bahan baku, kualitas air, proses memasak, kondisi peralatan, pengemasan, penyimpanan, hingga pendistribusian makanan kepada penerima manfaat.

Karena itu, penelusuran terhadap seluruh tahapan tersebut dinilai penting untuk mengetahui titik yang berpotensi menyebabkan kontaminasi dan mencegah kejadian serupa terulang.

Dinkesda Blora berencana menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium kepada satuan tugas (Satgas) dan koordinator wilayah SPPG Blora.

Kedua pihak tersebut memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti temuan, termasuk menentukan langkah evaluasi dan kemungkinan pemberian sanksi.

Nur Betsia menjelaskan bahwa tugas Dinkesda dalam persoalan ini berfokus pada pembinaan serta inspeksi kesehatan lapangan.

Adapun keputusan mengenai sanksi menjadi kewenangan pihak yang berwenang dalam pengawasan pelaksanaan program MBG.

Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pengelola SPPG, terutama dalam memperketat standar kebersihan, memastikan kualitas air, serta menjaga keamanan makanan sejak tahap persiapan hingga didistribusikan kepada siswa.

Kejadian di SDN 1 dan SDN 3 Tutup ini menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program pemenuhan gizi tidak hanya perlu memperhatikan kandungan nutrisi, tetapi juga keamanan pangan agar makanan yang diberikan kepada anak-anak benar-benar layak dan aman dikonsumsi. (tos)

Editor : Ali Mustofa
dinkesda blora Dugaan keracunan Menu MBG program mbg