Hasil Lab Ungkap Dugaan Penyebab Keracunan MBG di Blora, Air Jadi Sorotan

Ali Mustofa • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:19 WIB
PARAH: Para siswa SD Negeri Sendangrejo yang terbaring di Puskesmas Ngawen karena keracunan menu MBG pada 20 Juli. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)
PARAH: Para siswa SD Negeri Sendangrejo yang terbaring di Puskesmas Ngawen karena keracunan menu MBG pada 20 Juli. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

BLORA – Penyebab dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami 19 siswa SD Negeri Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, mulai menemukan titik terang.

Hasil pemeriksaan laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan adanya cemaran bakteri pada air yang digunakan dalam proses pencucian dan pengolahan makanan.

Kepala Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora Edi Widayat menyampaikan, hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan bakteri Coliform pada sampel air mencapai 120 CFU per 100 mililiter.

Jumlah tersebut berada di atas ambang batas yang diperbolehkan untuk air bersih.

Menurut Edi, air tersebut diketahui digunakan untuk mencuci bahan makanan sekaligus membantu proses pengolahan menu MBG.

Coliform sendiri merupakan kelompok bakteri yang kerap digunakan sebagai indikator adanya pencemaran, termasuk kemungkinan kontaminasi yang berkaitan dengan tinja.

Untuk air perpipaan, batas Coliform yang diperbolehkan maksimal 10 CFU per 100 mililiter.

Sedangkan pada sumber air yang bukan perpipaan, batas maksimalnya berada di angka 50 CFU per 100 mililiter.

Dengan hasil 120 CFU per 100 mililiter, sampel air yang diperiksa tersebut telah melampaui kedua batas tersebut.

Pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap air yang digunakan dalam proses penyediaan makanan.

Tim laboratorium juga menguji sejumlah menu MBG serta susu yang berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogowanti.

Dari pemeriksaan tersebut, Angka Lempeng Total (ALT) pada beberapa menu diketahui tidak memenuhi syarat (TMS). Menu yang dimaksud antara lain telur bumbu kuning, tumis kacang, wortel, dan putren.

ALT merupakan salah satu metode pengujian untuk mengetahui jumlah mikroorganisme hidup yang terdapat dalam suatu sampel makanan.

Mikroorganisme yang dapat terdeteksi melalui pemeriksaan tersebut antara lain bakteri, kapang, maupun khamir.

Sementara itu, hasil pemeriksaan terhadap sampel susu masih menunjukkan kondisi dalam batas normal atau memenuhi ambang yang ditetapkan.

Sebelumnya, sebanyak 19 siswa SD Negeri Sendangrejo dilaporkan mengalami gejala keracunan pada 20 Juli setelah mengonsumsi menu MBG.

Para siswa kemudian dibawa ke Puskesmas Ngawen untuk memperoleh penanganan medis.

Saat kejadian, sejumlah siswa masih harus menjalani perawatan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). M

ereka didampingi oleh orang tua maupun guru selama mendapatkan penanganan.

Salah seorang siswa, Dila, mengaku mulai merasakan kondisi tubuh yang tidak nyaman setelah menyantap makanan MBG. Ia terutama mengeluhkan sakit perut dan pusing setelah meminum susu.

“Perutnya sakit, pusing habis minum susu,” ujar Dila.

Guru SD Negeri Sendangrejo, Nova Dwi, mengatakan makanan MBG dari SPPG Bogowanti telah tiba di sekolah sekitar pukul 07.00.

Namun, makanan tersebut baru dibagikan kepada para siswa setelah pelaksanaan upacara selesai.

Tidak lama setelah makanan dibagikan, beberapa siswa mulai mengalami keluhan kesehatan.

Gejala yang muncul di antaranya mual, sakit perut, hingga muntah. Bahkan, terdapat siswa yang dilaporkan muntah beberapa kali di lingkungan sekolah.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap air dan sejumlah makanan tersebut kini menjadi bagian penting dalam penelusuran penyebab kejadian yang dialami para siswa.

Temuan tersebut juga menjadi perhatian dalam memastikan keamanan proses penyediaan makanan untuk program MBG di lingkungan sekolah.

Editor : Ali Mustofa
dinkesda blora Dugaan keracunan Menu MBG sakit perut program mbg