BLORA – Meningkatnya kasus bunuh diri di Kabupaten Blora menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Namun, keterbatasan tenaga psikolog di daerah tersebut membuat penanganan kesehatan mental belum dapat dilakukan secara optimal.
Saat ini, Blora hanya memiliki dua psikolog aktif.
Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, tercatat sedikitnya empat kasus bunuh diri terjadi di wilayah Blora, melibatkan berbagai kelompok usia mulai dari remaja hingga lanjut usia.
Beberapa peristiwa di antaranya, seorang lansia di Kecamatan Kedungtuban ditemukan meninggal dunia dengan kondisi tergantung di belakang rumah pada 30 April.
Kemudian, seorang remaja perempuan berusia 14 tahun berinisial AFS, warga Desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, juga ditemukan meninggal dengan cara serupa pada 26 April.
Pada hari yang sama, seorang pria berinisial PL (30), warga Kecamatan Cepu, ditemukan meninggal di dalam sumur di area persawahan Kelurahan Tambakromo.
Kepala Dinas Sosial P3A Kabupaten Blora, Luluk Kusuma Agung Ariadi, mengakui bahwa keterbatasan jumlah psikolog menjadi kendala utama dalam memberikan layanan pendampingan kesehatan mental kepada masyarakat.
Ia menyebutkan, saat ini hanya terdapat dua psikolog klinis yang bertugas di dua rumah sakit umum daerah (RSUD) di Blora.
“Kami akui jumlah tenaga psikolog masih sangat terbatas. Saat ini hanya ada dua psikolog yang bertugas di dua RSUD,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya tetap berupaya memberikan layanan pendampingan bagi warga yang membutuhkan dukungan psikologis maupun penanganan trauma.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatan mental keluarga dan lingkungan sekitar, mengingat tekanan psikologis dan persoalan pribadi diduga menjadi salah satu faktor pemicu kasus bunuh diri.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Blora AKP Midiyono menyampaikan bahwa setiap kasus memiliki latar belakang yang berbeda-beda.
Dugaan sementara, faktor ekonomi, tekanan mental, penyakit berkepanjangan, hingga persoalan pribadi kerap menjadi pemicu.
“Setiap kasus memiliki latar belakang yang berbeda. Dugaan sementara biasanya berkaitan dengan faktor pribadi maupun tekanan psikologis,” jelasnya. (tos)
Editor : Ali Mustofa