Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pameran Lukisan Tunggal, Punky Tak Gunakan Kanvas, Pilih Pewarna Angkak

Eko Santoso • Minggu, 7 Desember 2025 | 22:12 WIB
ANTUSIAS: Pengunjung saat melihat lukisan-lukisan Punky Adi Sulistyo yang terpajang di gedung Blora Creative Space (BCS) pada Minggu (07/12).
ANTUSIAS: Pengunjung saat melihat lukisan-lukisan Punky Adi Sulistyo yang terpajang di gedung Blora Creative Space (BCS) pada Minggu (07/12).

KOTA, Radar Kudus– Gelar pameran tunggal, Punky Adi Sulistyo tak gunakan kanvas. Pelukis Blora itu menampilkan lukisan-lukisan di atas kertas. Dipajang di gedung Blora Creative Space (BCS) pada 6-12 Desember. Selain itu pewarna yang digunakan juga bukan cat akrilik atau cat minyak, melainkan angkak. 

 Pada Minggu (07/12) pukul 10.00 tampak sejumlah mahasiswa IAI Khozinatul Ulum mendatangi pameran. Mereka melangkah pelan, melihat sebuah lukisan. Kemudian beralih ke lukisan lain. 

Bagi mereka ini momentum langka. Sebab pameran acapkali identik dengan kota-kota besar. Sementara di Blora nyaris tak pernah terdengar. 

Satu di antara pengunjung itu Vina. Ia bersama rombongan mengunjungi pameran karena tertarik dan penasaran. 

"Pameran ini kan gak ada terus-menerus. Jarang," katanya. 

Menurutnya lukisan-lukisan karya Punky itu bagus. Sebab dalam karya-karya itu dianggapnya menyimpan cerita. Yang dia interpretasikan cerita kehidupan masa lalu. 

"Menurut saya lukisannya bagus. Ada cerita di dalam lukisan. Memendam cerita," tambahnya. 

Selain itu lukisan-lukisan itu dia anggap memiliki ciri khas. Jenis lukisan yang jarang dia temui. Sebab warnanya minimalis dan terkesan abstrak. 

"Menarik lagi lukisannya khas banget. Jarang lihat model lukisan seperti ini," tuturnya. 

Photo
Photo

Punky Adi Sulistyo menyebut ada 50 lukisan yang dipamerkan. Karya yang ia ciptakan selama 2025 dengan berbagai tema. 

"Pameran itu seperti menunjukkan anak yang baru lahir ke orang lain. Suka citanya di sana," katanya. 

Dari lukisan-lukisan yang dipajang tak satu pun menggunakan media kanvas. Layaknya lukisan konvensional. Ia justru memilih kertas walpaper bekas. 

"Sebagian besar dari kertas, dari bahan walpaper bekas. Yang patung juga barang bekas. Instalasi juga dari bekas," tuturnya.

Hal itu bukan tanpa alasan, bagi dia jika pelukis selalu fokus pada media yang mengharuskan kanvas, maka itu justru menghambat. Sebab orang harus beli kanvas terlebih dahulu. 

"Kalau saya nuruti pemahaman konvensional, saya gak akan segera berkarya. Karena harus ini, itu. Jadi saya pikir, kalau saya pakai kertas dan barang hasil ambil rongsok justru memiliki nilai karena bisa bercerita sesuatu," imbuhnya. 

Artinya, dari barang bekas itu justru memiliki sejarah dan cerita yang juga bisa disampaikan. Hal yang tak mungkin ditemukan di barang konvensional baru seperti kanvas. 

"Kalau saya pakai kanvas, apakah barang baru ini ada yang diceritakan atau justru hanya sebagai media," bebernya. 

Hal lain yang juga unik adalah penggunaan angkak sebagai pewarna. Bukan cat akrilik atau cat minyak, sebagaimana lukisan konvensional. 

Photo
Photo

"Awalnya saya pikir kekeliruan," imbuhnya. 

Saat mengekplorasi, dengan mencampurkan bahan lain ia menemukan warna yang dia inginkan. Misalnya saat mencampur dengan air dan bahan lain tekstur yang dihasilkan berbeda dan unik. 

"Menyenangkan, jadi ini semua bukan pakai warna konvensional. Hampir semua pakai angkak, ini yang dipakai tukang mebel jaman dahulu," jelasnya. 

Ia pun menyebut ini sebuah ketidaksengajaan yang menghasilkan hal baru. Misalnya untuk mendapatkan warna merah dia memakai angkak dan yodium obat luka. 

"Warna merah ini dari angkak dan yodium obat luka, tetapi tetap saya campur air," terangnya sambil menunjuk salah satu lukisan berwarna merah. 

Hal unik lainnya yakni adanya patung dan instalasi dari barang-barang bekas juga. Ada sebuah patung kayu yang diwarnai tanpa pelitur. 

"Ini saya iseng. Kalau boleh saya sebut bagian dari kreatifitas saya. Ada semacam kejumudan. Karena kayu biasanya hanya dipelitur atau pernis," imbuhnya. 

Kemudian ada juga instalasi bintang merah. Ia mengklaim itu bukan diarahkan pada pemahaman sosialis. Melainkan simbol bintang kemukus. 

"Saya ingat masa kecil, lintang kemukus itu simbol. Penanda akan terjadi sesuatu. Yang jelas lintang kemukus bagi orang masa lampau penanda. Harapan saya seorang perupa bisa jadi penanda jaman," ungkapnya. (tos)

Editor : Mahendra Aditya
#bcs #pameran #pelukis #blora