BLORA – Warga Desa Jiken, Kecamatan Jiken, mengancam akan menghentikan operasional PT Pentawira, pabrik pengolahan kapur yang berada di wilayah mereka.
Ancaman ini muncul karena warga berulang kali berupaya bertemu pemilik pabrik namun tak pernah berhasil.
Sekitar 50 warga tampak memadati area depan pabrik sejak pukul 09.00. Mereka membawa tiga spanduk besar berisi sejumlah tuntutan.
Baca Juga: Warna-Warni Kreativitas Anak Blora di Festival Mewarnai 2025, Sambut HUT ke-276 Kabupaten
Di antara tuntutan itu tertulis: “Warga Desa Jiken peduli lingkungan. Tolak operasional tanpa izin dan kajian dampak lingkungan,” serta “lingkungan bersih warga sehat,” dan “kami hanya ingin izin jelas, lingkungan aman, dan warga sejahtera.”
Aspirasi warga menyoroti khusus persoalan perizinan PT Pentawira yang mereka nilai belum sepenuhnya beres.
Mereka juga menuntut pembukaan lapangan kerja yang lebih transparan bagi warga lokal, seperti yang tertera dalam poster: “Buka kesempatan kerja untuk warga lokal secara transparan. Kerja untuk rakyat, bukan hanya segelintir pihak.”
Ketua Karang Taruna Desa Jiken, Galuh Wicaksono Putro, mengatakan aktivitas pabrik menimbulkan banyak kerugian bagi penduduk sekitar.
Mulai dari suara bising, debu yang mencemari lingkungan, hingga kejadian banjir.
“Dampaknya jelas: debu beterbangan, kebisingan dari mesin, dan tahun 2024 sempat terjadi banjir. Sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ungkapnya.
Ia menambahkan, saat banjir tahun lalu, tanaman milik warga terendam, namun pihak pabrik tak memberikan ganti rugi meski warga sudah mengajukan permohonan.
“Kami juga mempersoalkan rekrutmen tenaga kerja yang tidak terbuka. Dulu dijanjikan perekrutan 800 orang saat awal berdiri. Kenyataannya tidak ada sebanyak itu, dan prosesnya pun tertutup,” ujarnya.
Selain itu, warga menuntut kompensasi atas polusi debu yang dihasilkan pabrik.
Karena berbagai persoalan tersebut, warga ingin berbicara langsung dengan Mbah Liem selaku pemilik usaha untuk memperoleh kejelasan.
Namun harapan itu tak tercapai. Pemilik pabrik tidak berada di lokasi saat warga datang.
Warga akhirnya ditemui Manajer PT Pentawira, Alwin, sekitar pukul 09.30.
Dalam pertemuan itu, warga meminta kepastian jadwal bertemu owner. Namun Alwin tidak dapat memberikan jawaban pasti. (tos)
Editor : Ali Mustofa