BLORA – Pasar Tradisional Sidomakmur kini kondisinya sepi. Ini diduga akibat terdesak pasar online. Imbasnya sejumlah pedagang terpaksa menutup kios dan los.
Pantauan wartawan koran ini di lapangan, di blok A saja ada 20 kios lebih yang terpaksa ditutup, karena omzetnya menurun drastis.
Pada kios dan los yang tutup itu, beberapa di antaranya ditempeli peringatan dari Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Dindagkop UKM) Blora.
Tempelan itu bertuliskan ”kios/los ini dalam pengawasan Dindagkop UKM Kabupaten Blora”.
Suno, kepala Pasar Sidomakmur menjelaskan, pasar yang terdiri dari lima blok itu, bisa menampung 2.000 pedagang. Sayang, kini ada puluhan kios/los kosong.
”Kondisi pasar agak sepi. Jadi pedagang mengeluh. Sebagian nggak jualan," katanya.
Namun ditanya angka pasti jumlah kios dan los yang kosong, ia mengaku tak tahu pasti. Ia hanya menyebut puluhan. Namun tak sampai ratusan.
Menurutnya, hal itu lantaran beberapa hal. Pertama, karena pasar tersebut baru. Yakni pindahan dari yang semula di sebelah selatan alun-alun. ”Nggak mudah kalau pasar baru itu langsung menjadi ramai," jelasnya.
Faktor berikutnya, maraknya online shop, sehingga mengubah aktivitas jual beli yang tak selalu harus datang ke pasar tradisional dan konvensional.
Kosongnya puluhan kios dan los itu, berdampak pada penerimaan retribusi yang turun. ”Saat ini, capaian retribusi hanya mampu 50 persen dari target," terangnya.
Beberapa cara sebenarnya sudah ditempuh. Seperti membuat acara-acara di pasar. Terutama dilakukan para paguyuban.
Seperti bekerja sama dengan pihak lain, seperti perbankan, diler, hingga perusahaan makanan.
”Sudah ada promo, event, dan lain-lain. Namun belum maksimal (mengundang pembeli ke pasar)," imbuhnya. (tos/lin)
Editor : Noor Syafaatul Udhma